Kabar5News – Tim peneliti dan pemugaran di Gunung Padang baru-baru ini melaporkan penemuan artefak penting berupa fragmen logam (diduga perunggu) dan tembikar saat melakukan ekskavasi di kompleks situs megalitikum di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Menurut Ketua Tim, Ali Akbar, temuan ini memperkuat bukti bahwa Gunung Padang bukan sekadar bentukan alam, melainkan karya manusia dari masa lampau.
Ekskavasi dilakukan secara manual di hampir semua teras situs, dengan kedalaman antara dua sampai delapan meter.
Dari belasan kotak gali tersebut, di kedalaman sekitar dua meter tim tidak menemukan batu alam alami, yang menunjukkan bahwa batu-batuan di permukaan kemungkinan besar dipindahkan atau dibawa dari lokasi lain.
Di kedalaman empat meter, tim menemukan susunan fondasi batuan serta artefak logam dan tembikar. Batuan-batuan tersebut bukan merupakan “columnar joint” alami, melainkan jenis batuan yang disusun secara rapi, menyerupai fondasi buatan.
Fragmen logam yang diduga perunggu dan pecahan tembikar menunjukkan bahwa manusia prasejarah pernah melakukan pekerjaan konstruksi di lokasi ini.
Ali Akbar menyatakan bahwa penemuan ini menunjukkan adanya lapisan budaya berbeda di bawah permukaan tanah, lapisan yang menunjukkan aktivitas manusia zaman dahulu, berbeda dengan batu dan struktur di permukaan.
Temuan artefak buatan tangan manusia ini semakin menegaskan bahwa situs ini memang hasil kerja manusia, bukan sekadar formasi alam dan memberi bobot baru pada hipotesis bahwa Gunung Padang merupakan salah satu situs megalitikum tertua di Asia Tenggara.
Sejarah Singkat Gunung Padang
Gunung Padang dikenal sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara.
Situs ini terletak pada puncak bukit di ketinggian sekitar 885 meter di atas permukaan laut, di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Jejak tertulis pertama situs ini berasal dari laporan tahun 1914 oleh peneliti Belanda, Nicolaas Johannes Krom, yang mendeskripsikan adanya sejumlah teras batu kasar dengan pilar andesit tegak di puncak bukit, bentuk yang kemudian dikenali sebagai punden berundak.
Namun setelah itu, situs ini sempat terlupakan karena sulit diakses dan tertutup vegetasi lebat.
Baru pada 1979 masyarakat setempat melaporkan keberadaan bongkahan batu besar yang tersusun rapi di atas bukit kepada pemerintah setempat. Setelah itu, tim arkeologi pun mulai meninjau ulang keberadaan situs ini.
Seiring penelitian semakin berkembang, ditemukan bahwa Gunung Padang terdiri dari lima teras berundak, satu teras berbentuk persegi panjang, dan empat lainnya trapezoid yang disusun secara berlapis naik ke atas bukit.
Selama puluhan tahun, situs ini menyimpan banyak misteri: apakah ini sekadar bentukan alami, atau struktur buatan manusia purba?
Banyak teori berkembang, sebagian menyebutnya punden berundak khas megalitikum Nusantara; sebagian lain berargumen bahwa situs ini terlalu kompleks untuk dipahami tanpa teknologi modern.
Pentingnya Temuan Artefak Perunggu & Tembikar
Penemuan fragmen perunggu dan tembikar di kedalaman empat meter di bawah lapisan permukaan memberikan dua implikasi signifikan:
- Bukti Aktivitas Manusia Purba
Perunggu bukan logam alami, melainkan hasil olahan manusia kuno melalui pengerjaan logam.
Kehadirannya di strata dalam situs menunjukkan bahwa manusia purba di Nusantara telah menguasai teknik metalurgi, setidaknya dalam bentuk sederhana dan menggunakan logam ini saat membangun atau memanfaatkan situs.
- Dugaan Lapisan Budaya dan Periode Pembangunan Lama
Lapisan budaya berbeda antara permukaan dan bawah tanah menunjukkan bahwa Gunung Padang kemungkinan dibangun secara bertahap, dalam beberapa periode.
Fondasi batu di kedalaman, diikuti struktur teras di atasnya, memperlihatkan bahwa situs bukan dibangun sekaligus, melainkan melalui proses panjang.
Dengan demikian, Gunung Padang berpeluang menjadi salah satu situs megalitikum paling kuno dan kompleks di Asia Tenggara, melampaui sekadar punden tradisional.
Temuan ini dapat merombak pemahaman sejarah mengenai kemampuan konstruksi dan kebudayaan masyarakat prasejarah di wilayah Indonesia.
Masa Depan Gunung Padang
Merespon temuan terbaru, pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan telah menyatakan akan melanjutkan kajian ilmiah dan pemugaran situs secara bertahap mulai 2025.
Pemugaran ini penting untuk menjaga kelestarian struktur batu dan artefak yang ada, serta memastikan bahwa situs dapat dijadikan warisan budaya dan objek edukasi bagi generasi mendatang.
Selain itu, penelitian lanjutan dibutuhkan untuk mengungkap lebih jauh mengenai asal-usul, teknik konstruksi, dan fungsi asli dari situs, apakah sebagai pusat ritual, permukiman, atau monumen peradaban.
Gunung Padang bukan sekadar tumpukan batu tua. Dengan temuan fragmen perunggu, tembikar, fondasi batu kuno, dan sejarah penelitian panjang, situs ini adalah jendela ke masa lalu, ke peradaban kuno Nusantara yang mungkin lebih maju dan kompleks daripada yang selama ini diduga.
Jika terus diteliti dengan scientific rigor, Gunung Padang berpotensi menulis ulang narasi sejarah manusia di Asia Tenggara.












