Kabar5News – Isu adanya sejumlah kendaraan bermotor yang mengalami kerusakan mesin setelah mengisi BBM jenis Pertalite di SPBU di Jawa Timur terus bergulir.
Peristiwa itu disebut-sebut disebabkan karena adanya campuran etanol 10 persen (E10) dalam BBM jenis Pertalite itu.
Terkait hal itu, Direktur Masyarakat Konsumen Indonesia (MAKI), Sanny, ikut angkat suara.
Dalam pernyataan resminya pada Sabtu (1/11/2025), Sanny menilai, berkembangnya isu tersebut adalah upaya sistematis untuk menghancurkan reputasi Pertamina.
“Serangan diarahkan pada PT Pertamina Patra Niaga sebagai subholding Pertamina yang bertugas untuk mendistribusikan BBM, namun serangan yang sama juga ditujukan untuk merusak brand image Pertamina secara keseluruhan,” ujar Sanny.
Ia menduga, serangan sistematis tersebut dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak suka dengan rencana merger tiga subholding downstream Pertamina, yakni PT Pertamina Patra Niaga, PT Kilang Pertamina Internasional dan PT Pertamina Internasional Shipping.
Menurut Sanny, merger tiga perusahaan tersebut akan semakin memperkuat sektor hilir Pertamina dan membuat operasional perusahaan energi nasional tersebut makin efisien.
Disamping itu, lanjut Sanny, hal lain yang membuat sejumlah pihak tidak senang adalah upaya “bersih-bersih” yang kini tengah dilakukan oleh Pertamina.
“Upaya bersih-bersih yang dilakukan oleh Pertamina bertujuan untuk menyingkirkan pihak-pihak yang bisa menghambat kinerja perusahaan atau mengambil keuntungan pribadi, dalam rantai produksi hulu hingga hilir,” tutur Sanny.
Dalam pandangan Sanny, reputasi Pertamina sebagai perusahaan energi nasional cukup baik. Diantaranya dalam hal distribusi BBM hingga ke pelosok, yang dilakukan oleh Pertamina Patra Niaga.
Karena itulah, Sanny menduga, isu kerusakan mesin kendaraan bermotor karena kandungan Etanol dalam BBM, merupakan isu pesanan yang dimainkan pihak-pihak tertentu.
“Tidak tertutup kemungkinan ada isu pesanan dan mobilisasi buzzer di media sosial untuk mengamplifikasi isu Etanol ini, tujuannya tak lain adalah untuk merusak reputasi Pertamina,” pungkas Sanny.












