kabar5news – Getaran gempa yang mengguncang Bekasi pada Rabu malam hingga Kamis dini hari (20–21 Agustus 2025) kembali membuka mata publik terhadap ancaman Sesar Baribis. Patahan aktif sepanjang lebih dari 100 kilometer ini melintas dari Purwakarta hingga Majalengka, melewati Karawang, Bekasi, Depok, Bogor, hingga Jakarta Selatan.
Guncangan utama bermagnitudo 4,9 terasa luas hingga Jakarta, Depok, dan Tangerang Selatan. Peristiwa ini menegaskan bahwa sesar yang selama ini jarang terdengar, ternyata masih menyimpan energi yang berpotensi dilepaskan kapan saja.
Jalur Patahan Berbahaya
Sesar Baribis termasuk sesar naik dengan laju pergeseran sekitar 5 milimeter per tahun. Beberapa segmen masih terkunci, membuat energi tektonik terus menumpuk. Jika dilepaskan sekaligus, dampaknya bisa berupa gempa kuat yang berisiko besar bagi kawasan padat penduduk.
Catatan Gempa Masa Lalu
Dokumen sejarah menyebut wilayah Jawa Barat pernah diguncang gempa besar pada 1780 dan 1834, yang diduga bersumber dari sesar ini. Selain itu, BMKG mencatat adanya aktivitas gempa kecil sepanjang jalurnya, menandakan sesar Baribis masih aktif.
Ancaman di Kawasan Megapolitan
Tidak seperti patahan lain, jalur Baribis berada di pusat megapolitan dengan penduduk lebih dari 30 juta jiwa. Jika gempa besar terjadi, kerusakan infrastruktur dan potensi korban jiwa bisa sangat besar.
Peringatan Nyata
PVMBG menilai gempa Bekasi adalah pelepasan energi dari segmen Baribis yang terkunci. Meski susulannya relatif kecil, peristiwa ini menjadi sinyal kuat bahwa risiko gempa besar di sekitar Jakarta bukan lagi teori, melainkan ancaman nyata.
Pentingnya Mitigasi
Pakar kebencanaan menekankan langkah pencegahan berupa pemantauan berkelanjutan, riset mendalam, serta kesiapsiagaan masyarakat. Edukasi gempa, perencanaan tata ruang, dan penguatan struktur bangunan menjadi kunci untuk mengurangi dampak bencana di masa depan.