Kabar5News – Penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kerap menjadi ujian pertama bagi investor pemula. Grafik yang memerah, tekanan jual yang mendominasi, hingga banjir sentimen global sering kali memicu satu reaksi spontan: panik.
IHSG pada Rabu (28/1/2026) tercatat turun 7,71 persen atau 692,47 poin ke level 8.287,76. Sejak pembukaan di 8.393,51, indeks sempat menyentuh level tertinggi 8.596,17 sebelum akhirnya tertekan hingga menyentuh titik terendah 8.281,57. Salah satu pemicunya adalah pengumuman MSCI yang membekukan sementara perubahan indeks untuk sekuritas Indonesia.
Situasi seperti ini bukanlah hal baru di pasar global. Pada 2022, indeks S&P 500 di Amerika Serikat mencatat penurunan tahunan sekitar 19,4 persen, yang disebut sebagai yang terburuk sejak krisis 2008. Tekanan inflasi, kenaikan suku bunga, dan ketidakpastian geopolitik menjadi pemicu utama.
“Hal itu ditambah dengan apa yang terjadi di Jepang dan berbagai hal lain yang menciptakan suasana ketidakpastian. Jadi semuanya bergabung untuk hari yang cukup signifikan bagi investor yang menghindari risiko,” ujar Latif, dikutip dari Reuters.
Lalu, apa yang perlu dilakukan investor pemula agar tidak sekadar bertahan, tetapi juga berpeluang meraih cuan saat pasar anjlok?
Apa yang Perlu Dilakukan?
Berikut langkah strategis yang bisa diterapkan investor pemula saat IHSG melemah:
1. Sadari bahwa penurunan adalah bagian dari siklus pasar, bukan akhir dari segalanya. Volatilitas jangka pendek merupakan konsekuensi dari potensi imbal hasil jangka panjang.
2. Hindari keputusan emosional seperti menjual seluruh portofolio karena panik. Ingat prinsip time in the market lebih penting daripada timing the market.
3. Evaluasi kondisi keuangan pribadi, bukan hanya kondisi pasar. Pastikan dana yang diinvestasikan memang dana jangka panjang dan bukan dana darurat.
4. Lakukan rebalancing portofolio sesuai profil risiko. Disiplin ini membantu membeli aset saat valuasinya lebih rendah secara sistematis.
5. Tambahkan investasi secara bertahap dengan strategi dollar-cost averaging (DCA), bukan langsung “all in”.
6. Tetap selektif dalam memilih saham atau instrumen. Prioritaskan fundamental kuat atau instrumen terdiversifikasi seperti reksa dana indeks dan ETF.
7. Pahami bahwa banyak penurunan dipicu sentimen dan aksi ambil untung, bukan semata karena kinerja fundamental memburuk.
Warren Buffett pernah berkata, “Be fearful when others are greedy, and be greedy when others are fearful.” Namun prinsip itu tetap harus dibarengi analisis dan manajemen risiko yang matang.
Keputusan Rasional Jadi Pembeda
Di tengah pasar yang anjlok, kesalahan umum yang perlu dihindari adalah mengalihkan seluruh dana ke kas tanpa rencana, mengikuti rumor tanpa analisis, atau menggunakan dana darurat untuk berspekulasi.
Bagi investor pemula, fase penurunan justru menjadi momen belajar paling berharga. Dari sini, investor memahami arti disiplin, manajemen risiko, dan pentingnya rencana jangka panjang.
Sejarah pasar menunjukkan bahwa pemulihan kerap datang setelah periode paling menegangkan. Tidak ada yang bisa memastikan kapan titik balik terjadi. Namun satu hal yang pasti, keputusan yang diambil saat pasar turun akan sangat menentukan hasil investasi di masa depan.












