Kabar5News – Pertemuan bilateral antara Presiden Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin, Moskow, pada Rabu (10/12/2025), menjadi salah satu momen penting dalam dinamika hubungan kedua negara.
Dalam pertemuan tersebut, Prabowo secara langsung mengundang Putin untuk berkunjung ke Indonesia pada kesempatan mendatang. Dengan singkat namun tegas, Putin merespons, “Terima kasih, saya akan datang.”
Undangan itu langsung disambut tawa ringan ketika Prabowo menambahkan bahwa Putin jangan hanya mengunjungi India, tetapi menyempatkan diri datang ke Indonesia pada tahun 2026 atau 2027.
Suasana yang cair itu menandai keakraban kedua pemimpin yang tengah membahas berbagai agenda strategis, termasuk tindak lanjut kerja sama industri dan teknologi antara perusahaan nasional Indonesia dan mitra dari Rusia.
Prabowo mengatakan bahwa pemerintah Indonesia sudah mempertemukan berbagai entitas strategis dari kedua negara, dan hasilnya menunjukkan respons positif yang berpotensi mempercepat proyek-proyek kerja sama.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas penerimaan hangat dari Putin, mengingat padatnya agenda pemimpin Rusia tersebut.
Di balik momen diplomatik yang terkesan singkat namun sarat makna ini, publik kembali mengingat betapa panjang dan dalamnya sejarah hubungan Indonesia–Rusia.
Undangan Prabowo dan respons Putin bukan sekadar gestur politik, tetapi refleksi dari relasi dua negara yang telah terjalin selama lebih dari tujuh dekade.
Sejarah Hubungan Diplomatik Indonesia–Rusia: Dimulai Tahun 1950 dan Terus Menguat
Hubungan diplomatik Indonesia-Rusia memiliki akar sejarah yang kuat sejak era awal kemerdekaan.
Rusia pada masa itu masih bernama Uni Soviet adalah salah satu negara besar pertama yang secara aktif menjalin hubungan resmi dengan Indonesia.
Hubungan kedua negara dimulai secara formal pada 3 Februari 1950, hanya beberapa bulan setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia.
Sejak saat itu, hubungan bilateral Indonesia–Uni Soviet berkembang pesat, terutama selama era Presiden Soekarno.
- Masa Keemasan Era Soekarno
Di era 1950–1960-an, hubungan Indonesia dan Uni Soviet berada pada masa keemasan. Ada sejumlah tonggak sejarah penting yang memperkuat hubungan tersebut, antara lain:
- Kerja Sama Militer dan Pertahanan
Uni Soviet memberikan dukungan besar kepada Indonesia melalui penyediaan alutsista, termasuk pesawat tempur MiG, kapal perang, kapal selam kelas Whiskey, dan berbagai peralatan strategis lainnya.
Kekuatan militer Indonesia pada era itu banyak bertumpu pada teknologi Soviet.
- Dukungan Politik dan Diplomatik
Uni Soviet mendukung Indonesia dalam berbagai forum internasional, terutama pada isu anti-kolonialisme dan pembebasan wilayah Irian Barat.
- Pembangunan Infrastruktur dan Teknologi
Uni Soviet turut membantu pembangunan beberapa proyek monumental seperti:
- Gelora Bung Karno (GBK)
- Hotel Indonesia
- Pembangunan sejumlah fasilitas industri dan pendidikan
Kerja sama strategis ini membuat hubungan Indonesia–Uni Soviet tak hanya bersifat diplomatik tetapi juga ideologis dan teknologis.
- Hubungan Pasca Bubarnya Uni Soviet
Setelah Uni Soviet runtuh pada tahun 1991 dan Rusia menjadi negara penerusnya, hubungan kedua negara sempat merenggang karena situasi geopolitik global yang berubah.
Namun memasuki awal 2000-an, hubungan ini kembali stabil dan mendapatkan momentum baru.
Presiden Vladimir Putin dan Presiden Megawati Soekarnoputri menandatangani berbagai kesepakatan strategis pada awal dekade 2000, termasuk kerja sama pertahanan yang kembali menghangat.
Pada periode berikutnya, hubungan kedua negara berkembang dalam berbagai bidang:
- Kerja Sama Pertahanan
Indonesia kembali mengandalkan sejumlah alutsista Rusia seperti Sukhoi Su-27 dan Su-30, Helikopter Mil Mi-17 dan Sistem persenjataan lainnya.
- Kerja Sama Energi dan Pertambangan
Rusia menawarkan teknologi nuklir untuk energi, sementara beberapa perusahaan Rusia terlibat dalam sektor migas Indonesia.
- Pendidikan dan Kebudayaan
Pertukaran mahasiswa dan kerja sama riset menjadi salah satu bidang yang terus tumbuh hingga hari ini. Ribuan mahasiswa Indonesia telah menempuh pendidikan di Rusia.
- Hubungan Indonesia–Rusia di Era Modern
Di era pemerintahan-pemerintahan setelahnya, termasuk masa Presiden Joko Widodo hingga transisi ke Presiden Prabowo Subianto, hubungan Indonesia–Rusia tetap terjaga dalam jalur pragmatis dan strategis.
Fokus kerja sama meliputi:
- Pertahanan dan teknologi militer,
- pangan dan energi,
- industri strategis,
- ekonomi digital,
- ruang angkasa,
- serta penanganan bencana dan teknologi mitigasi.
Pertemuan Prabowo–Putin tahun 2025 menjadi lanjutan dari kerja sama jangka panjang tersebut, sekaligus sinyal bahwa hubungan kedua negara masih dan akan terus relevan di masa depan.
Makna Strategis Undangan Prabowo untuk Putin
Undangan resmi yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto kepada Presiden Vladimir Putin bukan sekadar gestur diplomatik.
Langkah ini memiliki makna strategis yang lebih dalam dan mencerminkan arah hubungan bilateral kedua negara ke depan.
Persetujuan Putin untuk datang ke Indonesia menunjukkan bahwa Moskow menempatkan Indonesia sebagai mitra yang signifikan di kawasan Asia Tenggara.
Ini bukan hanya tentang persahabatan antarpemimpin, tetapi juga sinyal bahwa Rusia melihat Indonesia sebagai negara yang memiliki pengaruh geopolitik penting di Asia.
Di sisi lain, Prabowo menegaskan bahwa pemerintah Indonesia telah mempertemukan sejumlah pelaku industri nasional dengan mitra industri Rusia.
Hal ini menunjukkan bahwa undangan tersebut tidak hanya berbicara dalam tataran politik, tetapi juga membawa implikasi ekonomi dan teknologi yang besar.
Jika kunjungan Putin terealisasi, momentum politik tersebut berpotensi membuka jalan bagi kerja sama yang lebih luas dalam sektor pertahanan, energi, teknologi, hingga industri strategis lainnya.
Kunjungan kenegaraan semacam ini biasanya diiringi penandatanganan nota kesepahaman atau perjanjian baru yang dapat memperkuat fondasi kerja sama jangka panjang.
Lebih jauh, langkah Prabowo mengundang Putin mencerminkan konsistensi Indonesia dalam menjalankan politik luar negeri bebas aktif.
Indonesia selalu menjaga hubungan yang seimbang dengan berbagai kekuatan besar dunia, termasuk Amerika Serikat, Tiongkok, Uni Eropa, hingga Rusia.
Dalam konteks global yang semakin kompetitif, hubungan yang harmonis dengan semua pihak menjadi aset strategis.
Kehadiran Putin di Indonesia nantinya dapat menegaskan posisi Indonesia sebagai negara yang mampu berdialog dengan semua pihak tanpa terjebak dalam blok politik tertentu, sekaligus memperkuat citra Indonesia sebagai jembatan diplomasi di kawasan.












