Kabar5News – Pemerintah memastikan pembangunan ekosistem baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) terintegrasi di Karawang, Jawa Barat, memasuki tahap akhir dan ditargetkan mulai beroperasi pada penghujung Juli 2026.
Proyek strategis nasional tersebut merupakan hasil kolaborasi antara PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM), Indonesia Battery Corporation (IBC), serta konsorsium Ningbo Contemporary Brunp Lygend (CBL) yang terdiri atas CATL, Brunp, dan Lygend dari China.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan perkembangan proyek tersebut telah dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat evaluasi program hilirisasi di Istana Kepresidenan.
Menurut Bahlil, pembangunan fasilitas baterai kendaraan listrik itu telah rampung dan direncanakan diresmikan pada akhir Juli 2026 sebagai bagian dari percepatan pengembangan industri hilirisasi mineral di Indonesia.
Selain membahas perkembangan proyek baterai EV, pemerintah juga mengevaluasi kondisi ketahanan energi nasional. Bahlil menyebut cadangan energi Indonesia saat ini berada pada tingkat yang aman sehingga mampu menopang kebutuhan nasional.
Proyek Terintegrasi dari Tambang hingga Daur Ulang
Ekosistem baterai kendaraan listrik yang dibangun Indonesia mengintegrasikan seluruh rantai industri, mulai dari kegiatan pertambangan, pemurnian nikel, produksi material baterai, pembuatan sel baterai, hingga proses daur ulang baterai bekas.
Total investasi proyek ini mencapai sekitar US$5,9 miliar atau setara Rp96 triliun dan diklaim sebagai salah satu proyek ekosistem baterai kendaraan listrik terbesar di Asia.
Pengembangannya terbagi ke dalam enam perusahaan patungan (joint venture). Tiga proyek berada di sektor hulu yang mencakup pertambangan dan pengolahan nikel di Halmahera Timur, sementara tiga proyek lainnya berada di sektor hilir yang meliputi produksi material baterai, sel baterai, dan fasilitas daur ulang.
Pabrik Sel Baterai Jadi Tahap Pertama yang Beroperasi
Dari seluruh rangkaian proyek tersebut, fasilitas produksi sel baterai di Karawang menjadi unit pertama yang dijadwalkan memasuki tahap operasional pada tahun 2026.
Pabrik yang dikelola PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) itu memiliki kapasitas produksi awal sebesar 6,9 gigawatt hour (GWh) per tahun. Pada tahap berikutnya, kapasitasnya akan ditingkatkan menjadi 15 GWh per tahun setelah fase kedua selesai dibangun.
Sementara itu, sejumlah proyek lain seperti fasilitas smelter nikel, pabrik material katoda, serta fasilitas daur ulang baterai dijadwalkan mulai beroperasi secara bertahap hingga 2031.
Perkuat Hilirisasi dan Industri Kendaraan Listrik Nasional
Keberadaan proyek baterai EV terintegrasi ini menjadi salah satu langkah penting pemerintah dalam memaksimalkan nilai tambah cadangan nikel Indonesia yang merupakan salah satu terbesar di dunia.
Melalui kolaborasi ANTAM, IBC, dan konsorsium CBL, Indonesia diharapkan tidak lagi hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga mampu berkembang sebagai pusat produksi baterai kendaraan listrik yang memiliki daya saing global.
Proyek ini juga diharapkan mampu menarik investasi lanjutan, memperkuat rantai pasok industri kendaraan listrik nasional, serta menciptakan nilai tambah bagi perekonomian melalui pengembangan industri hilirisasi mineral yang berkelanjutan.










