Kabar5News – Kembalinya tren earphone kabel di kalangan Generasi Z (Gen Z) ternyata menyimpan cerita yang lebih dalam daripada sekadar mengikuti gaya retro. Di balik tampilannya yang klasik, muncul fenomena menarik: semakin banyak anak muda yang mulai mempertimbangkan dampak teknologi terhadap kesehatan dan lingkungan.
Dikutip dari unggahan Instagram @bangsap.id, praktisi bisnis lingkungan sekaligus kreator konten Bang Sap menilai bahwa perpindahan sebagian pengguna dari True Wireless Stereo (TWS) ke earphone kabel tidak hanya dipengaruhi faktor estetika atau kepraktisan, tetapi juga kekhawatiran terhadap isu radiasi Bluetooth.
Fenomena ini menunjukkan perubahan cara pandang Gen Z terhadap teknologi. Berbeda dengan anggapan bahwa generasi muda selalu mengejar perangkat terbaru, sebagian dari mereka kini mulai lebih kritis terhadap teknologi yang digunakan sehari-hari dan mencari alternatif yang dianggap lebih aman maupun lebih bertanggung jawab.
Namun, benarkah earphone kabel lebih sehat?
Merujuk pada kajian IPB University serta penjelasan World Health Organization (WHO), Bluetooth memancarkan gelombang non-ionizing atau radiasi non-pengion yang hingga kini belum terbukti merusak sel maupun DNA manusia. Bahkan, WHO dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga belum menemukan bukti ilmiah yang kuat bahwa penggunaan TWS membahayakan kesehatan.
Menurut Bang Sap, justru ada persoalan lain yang sering luput dari perhatian masyarakat, yakni meningkatnya sampah elektronik (e-waste). Berbeda dengan kekhawatiran terhadap radiasi yang belum terbukti secara ilmiah, limbah elektronik memiliki dampak nyata terhadap lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik.
Hal tersebut tidak lepas dari desain TWS yang umumnya menggunakan baterai lithium-ion berukuran kecil yang menyatu dengan perangkat. Ketika baterai mengalami penurunan performa atau rusak, perangkat menjadi sulit diperbaiki maupun dibongkar sehingga lebih sering berakhir sebagai sampah elektronik.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena limbah elektronik mengandung berbagai zat berbahaya, seperti timbal dan merkuri, yang berpotensi mencemari tanah maupun air apabila dibuang sembarangan. Indonesia sendiri tercatat menghasilkan jutaan ton sampah elektronik setiap tahunnya, sementara tingkat pengelolaannya masih belum optimal.
Karena itu, Bang Sap mengingatkan agar masyarakat tidak membuang TWS yang sudah rusak atau tidak lagi digunakan ke tempat sampah rumah tangga. Menurutnya, perangkat tersebut sebaiknya dikumpulkan bersama limbah elektronik lainnya, seperti telepon genggam, charger, kabel, maupun perangkat elektronik kecil yang sudah tidak terpakai, lalu disalurkan ke fasilitas pengelolaan e-waste.
Sebagai contoh, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta telah menyediakan dropbox sampah elektronik di berbagai titik strategis, termasuk di sejumlah halte TransJakarta dan stasiun KRL. Bahkan, masyarakat juga dapat memanfaatkan layanan penjemputan limbah elektronik yang disediakan DLH DKI Jakarta, sehingga perangkat elektronik bekas dapat dikelola dengan lebih aman tanpa harus dibuang ke tempat sampah biasa.
Menurut Bang Sap, langkah sederhana tersebut jauh lebih berdampak dibanding sekadar mengganti TWS dengan earphone kabel. Sebab, keputusan yang benar bukan hanya ditentukan oleh kekhawatiran terhadap radiasi Bluetooth yang belum terbukti secara ilmiah, tetapi juga oleh bagaimana setiap orang bertanggung jawab terhadap akhir masa pakai perangkat elektronik yang dimilikinya.
Dengan kata lain, tren earphone kabel di kalangan Gen Z bukan hanya mencerminkan perubahan gaya hidup, tetapi juga menjadi pengingat bahwa penggunaan teknologi yang bijak harus diiringi dengan kepedulian terhadap dampaknya bagi lingkungan. Mengelola limbah elektronik secara benar merupakan salah satu langkah kecil yang dapat memberikan manfaat besar bagi keberlanjutan di masa depan.












