Kabar5News – Lanskap Bromo kembali mendapat tempat di panggung perfilman internasional melalui film Empat Musim Pertiwi karya sutradara Kamila Andini.
Film ini membawa cerita tentang perempuan, keluarga, luka masa lalu, dan perjalanan menemukan kembali makna kehidupan dengan Bromo sebagai salah satu elemen penting di dalamnya.
Menariknya, gagasan film tersebut ternyata berawal dari pengalaman pribadi Kamila ketika berlibur ke Bromo pada 2017. Perjalanan itu membuatnya tertarik melihat karakter lanskap Bromo yang menurutnya memiliki perubahan suasana layaknya empat musim.
Pengalaman visual tersebut kemudian berkembang menjadi gagasan tentang empat fase kehidupan perempuan. Namun, ide itu tidak langsung diwujudkan menjadi film. Pengembangannya baru berlanjut beberapa tahun kemudian hingga akhirnya menjadi proyek Empat Musim Pertiwi.
Film ini berkisah tentang Pertiwi, diperankan Putri Marino, seorang perempuan yang kembali ke kampung halamannya setelah menjalani hukuman penjara selama bertahun-tahun. Kepulangannya justru mempertemukannya kembali dengan berbagai persoalan, mulai dari keluarga hingga luka dan masa lalu yang belum selesai.
Karena itu, Bromo dalam film tidak hanya berfungsi sebagai pemandangan. Lanskap pegunungan tersebut menjadi bagian dari atmosfer cerita dan perjalanan emosional Pertiwi.
Dari sisi genre, Empat Musim Pertiwi juga menawarkan perpaduan yang cukup unik. Film ini menggabungkan drama psikologis, fiksi ilmiah, realisme magis, western, dan misteri dalam satu cerita.
Putri Marino pun melakukan berbagai persiapan untuk mendalami karakter Pertiwi. Ia mempelajari sejumlah keterampilan, termasuk berkuda, bahasa Jawa, bahasa isyarat, fighting, hingga mengendarai jip.
Film ini juga menghadirkan Hanna Aretha sebagai Raras, seorang karakter anak perempuan tuli. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya film menghadirkan perspektif dan representasi penyandang disabilitas di layar lebar.
Setelah melalui proses pengembangan yang panjang, Empat Musim Pertiwi akhirnya mendapat kesempatan tampil di sejumlah festival film internasional. Film ini dijadwalkan menjalani world premiere di Toronto International Film Festival (TIFF) 2026, sebelum melanjutkan perjalanan ke Busan International Film Festival dan Tokyo International Film Festival.
Film produksi Forka Films tersebut kemudian dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 8 Oktober 2026.
Perjalanan Empat Musim Pertiwi menunjukkan bagaimana sebuah lanskap dapat menjadi titik awal lahirnya sebuah cerita. Bromo yang awalnya hanya menjadi tempat perjalanan Kamila Andini pada 2017, bertahun-tahun kemudian justru menjadi bagian dari karya yang dibawa ke panggung perfilman dunia.
Dari Bromo, lahir sebuah kisah tentang perempuan dan perjalanan pulang yang kini siap dikenal oleh penonton internasional.










