Kabar5News – Di era media sosial, berbagi cerita tentang kehidupan sehari-hari menjadi hal yang lumrah. Mulai dari pencapaian, aktivitas harian, hingga pengalaman pribadi kini dengan mudah diunggah ke berbagai platform digital. Namun, ketika seseorang mulai membagikan masalah pribadi, konflik keluarga, atau kondisi emosional secara berlebihan kepada publik, muncul pertanyaan yang cukup menarik dari sudut pandang psikologi: apakah oversharing berkaitan dengan self-esteem?
Untuk menjawabnya, penting memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan self-esteem.
Dalam psikologi, self-esteem atau harga diri merupakan penilaian seseorang terhadap nilai dan keberhargaan dirinya sendiri. Konsep ini pertama kali banyak dikembangkan oleh psikolog Morris Rosenberg melalui Rosenberg Self-Esteem Theory, yang menjelaskan bahwa self-esteem adalah evaluasi menyeluruh seseorang terhadap dirinya, apakah ia memandang dirinya sebagai pribadi yang berharga, mampu, dan layak dihargai.
Seseorang yang memiliki self-esteem sehat umumnya mampu menerima kelebihan maupun kekurangan dirinya. Ia tidak mudah menggantungkan kebahagiaan pada pujian atau penilaian orang lain karena memiliki rasa aman terhadap identitas dirinya sendiri.
Sebaliknya, individu dengan self-esteem yang rapuh cenderung lebih sensitif terhadap kritik, mudah membandingkan diri dengan orang lain, dan lebih membutuhkan pengakuan eksternal untuk merasa bernilai. Kondisi inilah yang dalam beberapa kasus dapat mendorong seseorang mencari validasi melalui media sosial.
Meski demikian, psikolog menegaskan bahwa oversharing tidak selalu menjadi tanda rendahnya self-esteem. Ada banyak alasan mengapa seseorang memilih terbuka di media sosial, seperti berbagi pengalaman, memberikan edukasi, membangun komunitas, atau sekadar mengekspresikan diri.
Yang perlu diperhatikan adalah motivasi di balik perilaku tersebut. Apakah seseorang berbagi karena ingin membantu orang lain, atau karena merasa nilai dirinya bergantung pada respons yang diterima dari publik?
Fenomena ini semakin sering ditemukan seiring berkembangnya budaya oversharing, yaitu kebiasaan mengungkapkan informasi pribadi secara berlebihan di ruang digital. Tidak sedikit orang yang lebih memilih mencurahkan isi hati kepada ribuan pengikut dibandingkan berbicara langsung kepada keluarga atau sahabat.
Dalam psikologi media, perilaku tersebut dijelaskan melalui konsep Online Disinhibition Effect, yaitu kecenderungan seseorang menjadi lebih terbuka, impulsif, bahkan lebih berani mengungkapkan informasi pribadi ketika berada di balik layar. Anonimitas, minimnya kontak mata, serta tidak adanya interaksi tatap muka membuat seseorang merasa lebih aman untuk mengatakan hal-hal yang mungkin tidak akan diungkapkan di dunia nyata.
Di sisi lain, media sosial memang dirancang untuk memberikan umpan balik secara instan. Setiap notifikasi, komentar, atau tombol “like” mampu memicu pelepasan dopamin, yaitu neurotransmiter yang berperan dalam sistem penghargaan otak.
Karena itu, setiap kali unggahan mendapat respons positif, otak akan menganggapnya sebagai pengalaman yang menyenangkan. Lama-kelamaan, seseorang dapat terdorong untuk terus mengunggah konten demi memperoleh sensasi serupa.
Masalah muncul ketika angka interaksi mulai dijadikan ukuran nilai diri. Jika unggahan memperoleh banyak perhatian, seseorang merasa dirinya diterima. Sebaliknya, ketika respons yang diterima sedikit, muncul rasa kecewa, cemas, bahkan merasa tidak dianggap. Dalam kondisi seperti ini, self-esteem menjadi sangat bergantung pada validasi eksternal.
Fenomena lain yang juga sering dikaitkan dengan oversharing adalah sadfishing, yaitu kecenderungan membagikan kesedihan atau masalah pribadi secara dramatis untuk memperoleh simpati dari publik. Walaupun tidak semua orang yang melakukan sadfishing memiliki self-esteem rendah, perilaku ini menunjukkan bagaimana kebutuhan akan perhatian dapat memengaruhi cara seseorang berinteraksi di media sosial.
Selain berdampak pada kondisi psikologis, oversharing juga berisiko mengaburkan batas privasi. Menurut teori Communication Privacy Management dari Sandra Petronio, informasi pribadi yang telah dipublikasikan di internet tidak lagi sepenuhnya berada dalam kendali pemiliknya. Informasi tersebut dapat disebarluaskan, ditafsirkan di luar konteks, hingga dimanfaatkan oleh pihak lain untuk berbagai kepentingan.
Oleh karena itu, banyak psikolog menyarankan agar pengguna media sosial mulai menerapkan intentional sharing, yaitu membagikan informasi secara sadar dengan mempertimbangkan tujuan, manfaat, serta konsekuensinya. Tidak semua pengalaman harus dipublikasikan, dan tidak semua emosi perlu divalidasi oleh orang asing di internet.
Pada akhirnya, self-esteem yang sehat bukan berarti tidak pernah membutuhkan dukungan dari orang lain, melainkan mampu menyadari bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh jumlah “like”, komentar, atau pengikut di media sosial. Dukungan sosial memang penting, tetapi fondasi harga diri yang kuat tetap dibangun melalui penerimaan terhadap diri sendiri, hubungan yang sehat dengan orang terdekat, serta kemampuan mengenali batas antara ruang privat dan ruang publik.
Dengan memahami konsep ini, masyarakat dapat memanfaatkan media sosial sebagai sarana berekspresi tanpa harus menjadikan validasi digital sebagai ukuran utama keberhargaan diri. Artikel ini juga menjadi lebih seimbang karena menekankan bahwa oversharing bukan diagnosis atau bukti pasti seseorang memiliki self-esteem rendah, melainkan perilaku yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis, sosial, dan budaya digital.












