Kabar5News – Penghasilan atau gaji yang mengalami peningkatan membuat taraf hidup lebih terjamin. Rencana tabungan, investasi hingga segala kebutuhan utama terpenuhi, asalkan tidak kena sindrom lifestyle inflation.
Kenaikan pendapatan seringkali membuat seseorang lupa diri, awalnya difungsikan untuk perencanaan keuangan jangka panjang maupun tercukupi kebutuhan harian. Namun, godaan di sekeliling seringkali bikin rungkad pemasukan.
Tanpa disadari standar hidup seseorang naik seiring meningkatnya gaji yang diterima. Contohnya seperti membeli barang mewah, makan di tempat mewah, jalan-jalan dan sejenisnya.
Hal tersebut bisa saja menimpa seseorang secara berulang hingga sulit keluar dari lifestyle inflation.
Definisi Lifestyle Inflation
Istilah tersebut tidak bisa dianggap remeh. Ketika seseorang terlambat menyadari terkena hal itu, maka mau tidak mau pendapatan yang seharusnya ditempatkan pada pos penting malah bergeser.
Lifestyle Inflation atau inflasi gaya hidup merupakan kondisi pengeluaran ikutan naik saat penghasilan rutin yang diterima meningkat.
Sindrom tersebut membuat seseorang mengalami kejadian uang cepat sekali habis karena adanya gaya hidup yang ikut berubah tanpa disadari.
Perubahan tersebut umumnya mengalami pola perlahan hingga terasa bagaikan hal wajar, untuk mengetahui terkena sindrom tersebut atau tidak. Ada ciri khusus yang bisa dilihat.
Ciri Seseorang Terkena Lifestyle Inflation
Ada beberapa ciri atau kebiasaan yang menunjukkan seseorang terkena inflasi gaya hidup. Berikut ulasan singkatnya.
1. Makan di Tempat Mahal
Penghasilan meningkat terkadang bikin seseorang mengalami perubahan dalam memilih tempat makan. Biasanya makan di spot yang sederhana, kini lebih prefer ke restoran, cafe maupun area dengan suasana nyaman meski harga mahal.
Sesekali dilakukan tentu saja tidak masalah, akan tetapi jika frekuensinya sering serta dianggap standar baru. Maka Anda terkena inflasi gaya hidup.
2. Gonta-Ganti Barang
Penghasilan naik seringkali membuat seseorang mudah tergoda membeli barang baru.
Ibaratnya pakaian masih nyaman dipakai, sepatu tetap layak digunakan, ponsel berfungsi baik, dan lain-lain. Tetapi muncul keinginan untuk membeli versi baru, karena mampu membelinya.
Setiap orang memang berhak seperti itu, tapi ketika kebiasaan tersebut tidak terkontrol, bikin keuangan bocor.
3. Keluar Uang untuk Sekedar Alasan Kenyamanan
Penghasilan bertambah, membuat seseorang mulai menghargai waktu dan kenyamanan. Hal tersebut terlihat dari kebiasaan dalam memilih sesuatu.
Umumnya suka yang lebih praktis, contohnya sering pakai transportasi online, membeli makanan daripada memasak, membayar layanan tambahan untuk aktivitas sehari-hari supaya mudah.
4. Banyak Langganan Aplikasi yang Jarang Terpakai
Layanan digital seringkali memberikan kemudahan bagi pengguna. Saat penghasilan lebih besar, Anda bisa jadi mulai langganan beragam aplikasi berupa layanan streaming, musik, penyimpanan digital, aplikasi olahraga, maupun platform premium lain.
Awalnya hanya satu atau dua layanan, lama-lama bertambah karena menganggap biaya bulanan masih kecil. Pengeluaran kecil terjadi rutin memberi dampak besar saat dikumpulkan jangka panjang.
5. Sering Coba Hobi Baru Karena Fomo
Seringkali seseorang melakukan hobi baru bukan karena benar-benar tertarik, melainkan sekedar FOMO. Apalagi kalau penghasilannya meningkat akan ikutan hobi olahraga yang lagi trend, coba aktivitas baru gegara viral di medsos.
Sebenarnya hal tersebut wajar, jika bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Supaya naiknya gaji tidak sia-sia.
Itulah definisi dari Lifestyle Inflation hingga ciri khas atau kebiasaan yang menyertainya. Waspada jangan sampai gaji naik malah cepat habis tanpa saving.










