Kabar5News – Pergerakan pasar saham yang sulit diprediksi membuat sebagian investor mulai meninggalkan kebiasaan mengejar waktu terbaik untuk membeli aset. Sebagai gantinya, muncul pendekatan yang lebih sederhana, yakni Dollar-Cost Averaging (DCA).
Strategi ini dilakukan dengan menginvestasikan nominal yang sama secara berkala, terlepas dari kondisi harga aset. Ketika harga turun, investor mendapatkan lebih banyak saham. Sebaliknya, ketika harga naik, jumlah saham yang diperoleh menjadi lebih sedikit.
Pola tersebut membuat DCA menarik bagi investor yang ingin membangun portofolio tanpa harus terus-menerus memantau pergerakan pasar.
Tren Investasi yang Mengandalkan Konsistensi
DCA sebenarnya bukan strategi baru. Namun, konsep investasi berkala semakin relevan ketika investor menghadapi pasar yang penuh ketidakpastian.
Melansir Business Insider, Kamis (27/8/2026), mekanisme DCA bertumpu pada dua hal sederhana, yakni nominal investasi yang tetap dan jadwal investasi yang konsisten.
Investor tidak perlu menentukan apakah hari ini merupakan waktu terbaik untuk membeli. Mereka cukup menetapkan jumlah dan interval investasi sejak awal.
Konsep tersebut juga membuat investasi terasa lebih seperti kebiasaan finansial daripada aktivitas yang membutuhkan keputusan setiap hari.
Media Sosial Ikut Mendorong Tren
Popularitas DCA juga tidak bisa dilepaskan dari perubahan cara masyarakat memperoleh informasi finansial.
Konten mengenai investasi rutin, personal finance, dan kebebasan finansial semakin banyak ditemukan di media sosial. Konsep seperti “investasi sedikit tetapi konsisten” pun lebih mudah dipahami dibandingkan strategi yang mengharuskan investor membaca berbagai indikator pasar.
Namun, kemudahan tersebut memiliki sisi lain.
Popularitas sebuah strategi tidak berarti strategi tersebut cocok untuk semua orang. Investor tetap perlu memahami aset yang dibeli, biaya transaksi, risiko, serta tujuan investasinya.
Bukan Berarti Selalu Lebih Menguntungkan
Salah satu kesalahpahaman mengenai DCA adalah anggapan bahwa strategi tersebut pasti menghasilkan keuntungan lebih baik.
Padahal, riset Northwestern Mutual menemukan investasi sekaligus (lump sum) menghasilkan return kumulatif lebih baik dibandingkan DCA pada hampir 75 persen periode 10 tahun dalam penelitian tersebut.
Artinya, DCA lebih tepat dipahami sebagai strategi menghadapi ketidakpastian dan mengelola perilaku investor, bukan mesin pencetak keuntungan.
Bagi seseorang yang memiliki dana besar sejak awal, terlalu lama menahan uang di luar pasar justru dapat mengurangi potensi keuntungan ketika pasar mengalami kenaikan.
DCA dan Masalah FOMO
Di tengah tren investasi digital, DCA juga menarik karena dapat membantu menghadapi FOMO (fear of missing out).
Ketika harga aset melonjak, investor tidak harus buru-buru membeli karena takut ketinggalan. Sebaliknya, ketika harga anjlok, investor tidak otomatis harus menjual karena panik.
Jadwal investasi yang sudah ditentukan membuat keputusan lebih terstruktur.
Namun, strategi tersebut tetap membutuhkan evaluasi. Seperti dikatakan Sabrina Maria LaFleur, investor tetap perlu memperhatikan aset yang mereka investasikan meskipun proses pembeliannya dilakukan secara otomatis.
Bukan Sekadar Tren, tapi Kebiasaan
Pada akhirnya, DCA menarik bukan karena mampu meramal pasar, melainkan karena menawarkan cara sederhana untuk membangun disiplin investasi.
Investor dapat memilih saham atau ETF, menentukan nominal yang sesuai kemampuan, kemudian menjalankan investasi secara berkala.
Di tengah semakin mudahnya akses masyarakat terhadap pasar modal, pendekatan seperti DCA berpotensi semakin diminati karena sesuai dengan pola investasi yang praktis dan otomatis.
Meski begitu, mengikuti tren investasi tanpa memahami risikonya tetap bukan pilihan yang bijak. DCA mungkin membuat proses investasi lebih sederhana, tetapi keputusan mengenai apa yang dibeli tetap berada di tangan investor.










