Kabar5News – Indonesia memiliki anugerah luar biasa dengan hadirnya keragaman hayati yang bisa dimanfaatkan untuk konsumsi pribadi maupun meningkatkan taraf hidup, seperti Nilam si “Emas Hijau”.
Tanaman yang satu ini sekilas terlihat seperti daun biasa saja. Tapi mampu mensejahterakan pemiliknya jika paham cara merawat, memanen hingga mengolahnya.
Nilam termasuk kategori tumbuhan tidak rewel, mudah ditanam, bisa hidup lama, dan pertumbuhannya juga cepat. Bahkan, berdiri kokoh di atas lahan berhektar-hektar potensi pendapatan pun tinggi.
Lantas, seperti apa tanaman Nilam yang bisa bikin makmur pemiliknya? Yuk, simak ulasan singkat berikut ini.
Apa Itu Nilam?
Dilansir dari berbagai sumber, Nilam atau Pogostemon Cablin merupakan tanaman semak tropis aromatik sebagai bahan baku utama minyak atsiri.
Dalam dunia perdagangan internasional, komoditas tersebut populer dengan sebutan patchouli oil. Indonesia sendiri sebagai pemasok utama menguasai 70 hingga 90% kebutuhan akan minyak nilam dunia.
Tanaman ini mempunyai karakteristik utama yang unik tapi menghasilkan pendapatan bagi pemiliknya. Secara fisik bentuknya semak tinggi sekitar 1 meter, daun hijau tebal, bentuk bulat lonjong, tepi bergerigi.
Habitat paling cocok umumnya tempat teduh, hangat, lembap, curah hujan tinggi, tidak tahan matahari terik langsung.
Sementara itu, bagian terpenting terletak pada daun untuk dipanen, dikeringkan lalu diekstraksi.
Julukan Emas Hijau untuk Nilam Tanaman Mahal di Indonesia
Tanaman asli dari bumi Nusantara ini paling mahal hingga disebut sebagai “Emas Hijau”, sekilas daun tampak biasa saja, kecil, hijau, dan berbulu.
Tapi nilai nominalnya jika diperdagangkan sangat luar biasa. Melansir informasi dari Instagram Jagoan Bumi, 1 liter minyaknya harga tembus Rp 20 juta, setetes kecil mencapai Rp 2 juta.
Makannya tidak mengherankan jika parfum sekelas brand Dior, Channel hingga Gucci bergantung pada bahan baku hasil kekayaan hayati Nusantara tersebut.
Meskipun tergolong tanaman mahal, tapi cara menanamnya mudah sekali. Nilam bukan tipe yang rewel sama tanah.
Pertama ambil stek batangnya, tancapkan saja ke tanah gembur. Jaga kelembaban tanahnya dengan cukup air dan terkena sinar matahari pagi.
Sebulan pertama memang masih kecil, masuk bulan kedua daunnya mulai rimbun, dan tepat umur 3 bulan, tingginya 1 meter, daunnya lebat banget. Itu tandanya sudah siap panen.
Uniknya satu pohon Nilam bisa dipanen terus selama dua tahun. Cukup petik daunnya, dia tumbuh lagi.
Tapi, ini bagian yang bikin harganya mahal. Setiap kali habis dipetik, daunnya tidak langsung dijual melainkan difermentasi dulu selama 7 hari di tempat gelap supaya aroma khasnya keluar.
Setelah itu dijemur sampai kering kerontang. Terakhir masukkan ke tempat penyulingan disuling 8 jam non stop dengan uap panas.
Selanjutnya akan menetes “emas” cairnya yang disebut minyak nilam. Sehingga wajar harga tembus selangit, karena membutuhkan 1 ton daun kering untuk mendapat 25 liter minyak.
Indonesia merupakan penghasil Nilam nomor 1 di dunia, 1 hektar saja mampu menghasilkan 100 juta setahun. Kelihatannya cuma daun biasa, ternyata bisa berubah jadi minyak bernilai tinggi.











