Kabar5News – Ribuan personel militer dari berbagai negara kembali berkumpul di Indonesia dalam Super Garuda Shield (SGS) 2026. Latihan gabungan bersama ini resmi dibuka di Markas Sekolah Staf dan Komando TNI (Sesko TNI), Bandung, Jawa Barat, Senin (31/8/2026).
Tahun ini, SGS melibatkan sekitar 5.000 personel dari kawasan Indo-Pasifik. Sebanyak 13 negara mengirimkan personel untuk mengikuti latihan, sementara delapan negara lainnya mengirimkan peneliti. Dengan demikian, total ada 21 negara yang terlibat dalam kegiatan yang berlangsung hingga 11 September 2026.
Menariknya, latihan tahun ini tidak hanya berfokus pada kemampuan tempur. Sejumlah skenario dirancang untuk menguji bagaimana pasukan dari berbagai negara dapat bekerja bersama menghadapi situasi yang berbeda.
Latihan Menyebar di Sejumlah Wilayah
Super Garuda Shield 2026 digelar di beberapa wilayah Indonesia, antara lain Baturaja, Sumatra Selatan, Lampung, hingga Kalimantan Utara.
Rangkaian latihan mencakup staff exercise (Staffex), cyber exercise (Cyberex), humanitarian assistance and disaster relief (HADR), serta field training exercise (FTX).
Dalam latihan lapangan tersebut, peserta akan menghadapi berbagai skenario, mulai dari operasi lintas udara, operasi udara, pasukan khusus, operasi laut dan marinir, pertempuran darat, serangan gabungan, hingga evakuasi medis.
Jika disederhanakan, SGS 2026 menjadi semacam ruang pengujian kemampuan lintas matra, mulai dari darat, laut, udara, hingga ruang siber.
TNI dan AS Perkuat Latihan di Laut
Salah satu agenda yang menarik perhatian adalah latihan maritim terkoordinasi antara TNI Angkatan Laut, Angkatan Laut AS, dan Penjaga Pantai AS.
Dalam siaran pers Kedutaan Besar AS di Jakarta disebutkan, personel Angkatan Laut dan Penjaga Pantai AS akan melaksanakan rangkaian pelatihan maritim bersama TNI AL di perairan sekitar.
Latihan ini ditujukan untuk memperkuat interoperabilitas, yakni kemampuan pasukan dari berbagai negara untuk berkomunikasi, berkoordinasi, dan menjalankan operasi bersama.
Kehadiran Penjaga Pantai AS juga memberikan warna tersendiri. Sebab, kerja sama di laut tidak hanya berkaitan dengan kemampuan tempur, tetapi juga membutuhkan koordinasi dalam menghadapi berbagai kondisi dan potensi krisis.
Ada Latihan Siber dan Perang Hutan
SGS 2026 juga memperlihatkan bagaimana latihan militer kini tidak hanya berlangsung di medan fisik.
Peserta akan menjalani cyber exercise untuk menguji kemampuan menghadapi ancaman di ruang siber. Pada saat yang sama, latihan lapangan tetap membawa skenario konvensional seperti operasi lintas udara, perang hutan, operasi amfibi, hingga pertempuran darat.
Kombinasi tersebut menunjukkan bahwa kesiapan militer modern membutuhkan kemampuan menghadapi ancaman dari berbagai domain sekaligus.
Dari Medan Latihan ke Masyarakat
Di balik berbagai latihan tempur, SGS 2026 juga memiliki sisi kemanusiaan.
Melalui Humanitarian Civic Activities (HCA), personel yang terlibat akan menjalankan sejumlah kegiatan untuk masyarakat sekitar.
Salah satunya melalui Engineer Civil Action Project (ENCAP), berupa renovasi SDN 12 Martapura dan pengerasan jalan sepanjang tiga kilometer di Mako Puslatpur Kodiklat TNI AD.
Ada pula Medical Civic Action Program (MEDCAP). Kegiatan ini mencakup pengobatan umum bagi 500 orang, sunatan massal untuk 50 anak, serta pembagian 1.000 paket sembako.
Dengan demikian, kehadiran ribuan personel dalam SGS tidak hanya terlihat di medan latihan, tetapi juga bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Berawal dari Latihan Bilateral
Super Garuda Shield memiliki perjalanan yang cukup panjang.
Latihan ini pertama kali dibentuk pada 2006 dengan nama Garuda Shield sebagai kegiatan pertukaran informasi dan latihan bilateral antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Formatnya kemudian berkembang. Pada 2022, latihan diperluas dengan melibatkan negara-negara mitra lainnya dan berkembang menjadi latihan multinasional.
Kini, SGS menjadi salah satu wadah bagi TNI dan militer negara mitra untuk menguji kemampuan sekaligus membangun koordinasi dalam menghadapi berbagai skenario.
Bukan Sekadar Adu Kemampuan Militer
Komandan Jenderal Divisi Infanteri ke-4 AS Mayor Jenderal Patrick Ellis mengatakan SGS 2026 menjadi kesempatan untuk memperkuat hubungan dengan mitra di kawasan Indo-Pasifik.
“Kami sangat antusias untuk bekerja bahu-membahu dengan mitra kami tahun ini guna memastikan kesiapan kami dalam merespons secara cepat setiap situasi kontingensi atau krisis,” ujar Patrick Ellis.
Pusat Penerangan TNI juga menyebut latihan ini bertujuan meningkatkan interoperabilitas, kesiapsiagaan, kemampuan operasi gabungan, serta memperkuat kerja sama TNI-USINDOPACOM dan negara-negara sahabat atau mitra.
Pada akhirnya, Super Garuda Shield 2026 bukan sekadar latihan untuk menguji kemampuan bertempur. Di dalamnya terdapat latihan laut, udara, darat, siber, hingga misi kemanusiaan.
Keragaman skenario tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa menghadapi krisis di kawasan Indo-Pasifik membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan militer. Kemampuan untuk berkoordinasi dan bergerak bersama justru menjadi bagian penting dari latihan ini.










