Kabar5News – Pernah merasa sayang membuang barang meski sudah lama tidak digunakan? Satu benda disimpan karena dianggap masih berguna, kemudian benda lain ikut dipertahankan dengan alasan yang sama. Lama-kelamaan, barang pun menumpuk dan mulai memenuhi ruang di rumah.
Fenomena tersebut kembali menjadi perhatian setelah akun Instagram @rumpi_gosip membagikan konten mengenai hoarding disorder, kondisi ketika seseorang mengalami kesulitan untuk membuang atau berpisah dengan barang yang dimilikinya.
Namun, hoarding disorder sebenarnya bukan sekadar kebiasaan memiliki banyak barang. Kondisi ini berkaitan dengan kesulitan yang menetap untuk melepaskan barang karena adanya dorongan kuat untuk menyimpannya, bahkan ketika benda tersebut sudah tidak memiliki fungsi yang jelas.
Ketika Barang Mulai Mengambil Alih Ruang
Salah satu hal yang membedakan hoarding disorder dengan kebiasaan menyimpan barang adalah dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Barang yang terus dikumpulkan dapat membuat kamar, ruang tamu, dapur, hingga area yang seharusnya digunakan untuk beraktivitas menjadi penuh. Dalam kondisi tertentu, tumpukan barang bahkan dapat menghambat akses ke bagian rumah.
Masalah utamanya bukan hanya jumlah barang, melainkan kesulitan untuk melepaskannya. Seseorang dapat merasa cemas, tertekan, atau kehilangan ketika harus membuang benda yang telah disimpannya.
Mengapa Sulit Membuang Barang?
Bagi seseorang dengan hoarding disorder, setiap barang dapat memiliki arti tertentu. Sebuah benda mungkin dianggap menyimpan kenangan, masih akan berguna suatu hari nanti, atau terlalu berharga untuk dibuang.
Barang yang bagi orang lain terlihat tidak penting pun bisa memiliki nilai emosional bagi pemiliknya. Inilah yang membuat saran sederhana seperti “tinggal dibuang saja” belum tentu menyelesaikan persoalan.
Kesulitan tersebut dapat berkaitan dengan cara seseorang mengambil keputusan, memberikan nilai terhadap barang, serta menghadapi perasaan kehilangan ketika harus melepaskannya.
Bukan Berarti Semua Orang yang Suka Menyimpan Mengalami Hoarding Disorder
Penting untuk tidak terburu-buru memberikan label. Memiliki banyak barang, menyukai koleksi tertentu, atau sesekali merasa sayang membuang benda lama tidak otomatis berarti seseorang mengalami hoarding disorder.
Kolektor, misalnya, umumnya memiliki ketertarikan tertentu terhadap barang yang dikumpulkan dan masih mampu mengatur koleksinya. Sementara pada hoarding disorder, penumpukan dapat berlangsung tanpa terkendali hingga ruang yang tersedia tidak lagi dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Dengan demikian, kondisi tersebut perlu dilihat dari pola perilaku dan dampaknya, bukan hanya dari seberapa banyak barang yang dimiliki.
Dampaknya Bisa Merambah ke Kehidupan Sosial
Ketika penumpukan semakin parah, dampaknya tidak berhenti pada kondisi rumah. Seseorang dapat merasa malu dengan tempat tinggalnya, menghindari menerima tamu, atau mengalami konflik dengan anggota keluarga yang merasa terganggu oleh tumpukan barang.
Dalam situasi tertentu, barang yang menumpuk juga dapat membuat aktivitas dasar di rumah menjadi lebih sulit dilakukan.
Karena itu, hoarding disorder perlu dipahami sebagai persoalan yang lebih kompleks daripada sekadar rumah yang berantakan.
Jangan Langsung Menghakimi
Menghadapi seseorang yang diduga mengalami hoarding disorder juga membutuhkan pendekatan yang tepat. Mempermalukan, memaksa, atau membuang barang secara sepihak belum tentu menyelesaikan masalah dan justru dapat menimbulkan tekanan lebih besar.
Jika penumpukan barang sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, hubungan dengan orang lain, atau menimbulkan tekanan yang signifikan, bantuan dari profesional kesehatan mental dapat menjadi salah satu pilihan.
Pada akhirnya, hoarding disorder mengingatkan bahwa hubungan manusia dengan barang bisa jauh lebih kompleks. Di balik benda yang terlihat tidak berarti, bisa terdapat kenangan, keterikatan emosional, dan rasa sulit untuk melepaskan.
Memahami hal tersebut menjadi langkah penting agar kita tidak terburu-buru menyebut seseorang “cuma suka numpuk barang”, tetapi melihat persoalannya secara lebih utuh.











