Kabar5News – Dua puluh satu tahun perjalanan bukan sekadar penanda bertambahnya usia. Bagi PT Pertamina EP Cepu (PEPC), perjalanan tersebut menjadi rangkaian proses panjang dalam mengelola sumber daya energi sekaligus memperkuat kontribusinya terhadap ketahanan energi Indonesia.
Pada 14 September 2026, PEPC memperingati hari jadinya yang ke-21 dengan mengusung tema “Energizing Together, Growing Beyond”. Tema tersebut menjadi gambaran perjalanan perusahaan yang tidak hanya bertumpu pada pencapaian operasional, tetapi juga pada kolaborasi dengan pekerja, mitra, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Cerita PEPC bermula pada 14 September 2005 ketika perusahaan resmi didirikan. Tiga hari berselang, PEPC menandatangani Kontrak Kerja Sama pengelolaan Blok Cepu bersama mitra kerja sama. Dari titik inilah perjalanan perusahaan dalam mengembangkan salah satu wilayah kerja migas penting di Indonesia dimulai.
Salah satu tonggak penting kemudian hadir melalui Lapangan Banyu Urip. Pada periode 2007–2009, PEPC membangun dan mengoperasikan Early Production Facilities di lapangan tersebut. Seiring waktu, Banyu Urip berkembang menjadi salah satu lapangan minyak dengan kontribusi produksi terbesar secara nasional.
Perjalanan panjang tersebut masih terlihat dari kinerja Blok Cepu hingga saat ini. Dengan hak partisipasi sebesar 45 persen, Blok Cepu mencatatkan produksi minyak sebesar 129.915 barel per hari (BOPD) per akhir Mei 2026.
Namun, kontribusi PEPC tidak berhenti pada produksi minyak. Perusahaan juga melanjutkan langkahnya melalui pengembangan Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) di Bojonegoro, Jawa Timur.
Lapangan yang dioperasikan langsung oleh PEPC tersebut menjadi bagian dari pasokan energi bagi kebutuhan industri di Jawa Timur dan Jawa Tengah setelah mencapai produksi penuh.
Hingga Agustus 2026, produksi gas mentah JTB tercatat mencapai 298,24 MMSCFD, sementara penjualan gas mencapai 176,95 MMSCFD. Kedua capaian tersebut melampaui target RKAP dan target WP&B 2026 yang disepakati bersama SKK Migas.
Dari Banyu Urip hingga JTB, perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana pengelolaan aset hulu migas membutuhkan proses panjang agar dapat memberikan kontribusi berkelanjutan bagi kebutuhan energi.
Kini, cakupan perjalanan PEPC juga semakin luas. Perusahaan dipercaya menjalankan peran sebagai Konsolidator Regional 4 Indonesia Timur di bawah Subholding Upstream Pertamina.
Peran tersebut membawa PEPC pada tanggung jawab untuk mengoordinasikan wilayah kerja yang tersebar di berbagai kawasan, mulai dari Jawa Timur, Sulawesi, Kepulauan Maluku hingga Papua.
Regional Indonesia Timur tersebut mencakup Zona 11 yang terdiri dari Alas Dara Kemuning, Cepu, WMO, Randugunting, Sukowati, Poleng dan Tuban East Java. Zona 12 mencakup Jambaran Tiung Biru dan Banyu Urip, Zona 13 meliputi Donggi Matindok, Senoro Toili dan Makassar Strait, sedangkan Zona 14 mencakup Papua, Salawati, Kepala Burung, Babar Selaru dan Semai.
Dengan cakupan wilayah yang semakin besar, tantangan PEPC pun tidak hanya berkaitan dengan bagaimana menjaga produksi energi. Hubungan dengan masyarakat dan pemangku kepentingan di sekitar wilayah operasi turut menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Direktur Utama PT Pertamina EP Cepu, Djudjuwanto, mengatakan seluruh perjalanan perusahaan selama 21 tahun tetap diarahkan pada satu tujuan, yakni memastikan keberlangsungan pasokan energi nasional.
“Selama 21 tahun, arah perjalanan PEPC senantiasa berorientasi pada satu tujuan, yaitu memastikan keberlangsungan pasokan energi nasional. Pencapaian di Lapangan Banyu Urip dan JTB merupakan bagian dari komitmen tersebut. Tema ‘Energizing Together, Growing Beyond’ kami pilih karena pencapaian ini merupakan hasil kolaborasi bersama seluruh insan PEPC, mitra kerja, pemerintah daerah, dan masyarakat,” ujar Djudjuwanto, Direktur Utama PT Pertamina EP Cepu.
Semangat kolaborasi tersebut juga tercermin dalam aktivitas PEPC di Regional 4 Indonesia Timur. Perusahaan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, tokoh masyarakat, serta mitra dalam program tanggung jawab sosial perusahaan.
Bagi Komisaris Utama PT Pertamina EP Cepu, Taufan Hunneman, menjaga ketahanan energi dan membangun hubungan dengan masyarakat merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
“Di Regional 4 Indonesia Timur, kontribusi terhadap ketahanan energi nasional dan pembinaan hubungan dengan masyarakat merupakan dua hal yang berjalan secara beriringan. Nilai dari energi yang kami kelola akan semakin optimal apabila manfaatnya turut dirasakan oleh seluruh pemangku kepentingan,” ujar Taufan Hunneman, Komisaris Utama PT Pertamina EP Cepu.
Komitmen tersebut juga hadir melalui kegiatan sosial di sekitar wilayah operasi. Dalam rangkaian peringatan HUT ke-21, PEPC menggelar doa bersama dan memberikan santunan kepada anak-anak yatim di wilayah operasi. Kegiatan ini menjadi agenda rutin yang dilakukan perusahaan setiap memperingati hari jadinya.
Memasuki usia ke-21, perjalanan PEPC menunjukkan bagaimana sebuah perusahaan hulu migas terus berkembang mengikuti tanggung jawab yang semakin besar. Dari Blok Cepu dan Banyu Urip, berlanjut ke pengembangan JTB, hingga kini mengemban peran sebagai Konsolidator Regional 4 Indonesia Timur.
Perjalanan tersebut pada akhirnya bukan hanya tentang minyak dan gas yang berhasil diproduksi, tetapi juga tentang bagaimana energi dapat terus menggerakkan aktivitas ekonomi dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dengan semangat “Energizing Together, Growing Beyond”, PEPC memasuki fase berikutnya dengan membawa pengalaman dua dekade lebih sebagai bekal untuk terus berkontribusi terhadap ketahanan energi Indonesia.
Sebab, menjaga energi bukanlah perjalanan yang selesai dalam satu atau dua tahun. Ia merupakan proses panjang yang membutuhkan kesinambungan, kolaborasi, dan komitmen untuk terus tumbuh bersama.












