Kabar5News – Kemampuan pencarian dan pertolongan atau Search and Rescue (SAR) tidak hanya membutuhkan personel yang terlatih, tetapi juga koordinasi yang cepat dan tepat. Hal tersebut menjadi salah satu fokus dalam Latihan Bersama (Latma) Manyar Indopura 2026 yang mempertemukan TNI Angkatan Udara (TNI AU) dan Angkatan Udara Singapura atau Republic of Singapore Air Force (RSAF).
Latihan tersebut resmi dibuka di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau, Senin (7/9/2026). Kegiatan ini menjadi sarana bagi kedua angkatan udara untuk meningkatkan kemampuan operasional sekaligus kesiapsiagaan dalam menjalankan berbagai skenario operasi SAR dan misi kemanusiaan.
Dalam latihan ini, TNI AU mengerahkan helikopter H225M, sedangkan RSAF melibatkan CH-47 Chinook. Penggunaan dua platform tersebut menjadi bagian penting dalam latihan untuk menguji kemampuan personel ketika harus menjalankan operasi secara terpadu.
Bukan hanya kemampuan menerbangkan dan mengoperasikan helikopter yang menjadi perhatian. Personel kedua negara juga dituntut mampu membangun koordinasi dan komunikasi yang efektif ketika menghadapi kondisi yang membutuhkan respons cepat.
Hal tersebut sejalan dengan tujuan Manyar Indopura 2026 yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan kemampuan individu, tetapi juga memperkuat interoperabilitas antara TNI AU dan RSAF. Kerja sama tersebut dibangun berdasarkan prinsip kesetaraan, saling menguntungkan, dan saling menghormati.
Kadisops Lanud Roesmin Nurjadin Kolonel Pnb Andri Setyawan mengatakan, latihan ini sekaligus menjadi kesempatan untuk membahas bentuk kerja sama yang dapat dikembangkan oleh kedua negara di masa mendatang.
“Melalui latihan ini, kita akan berlatih sekaligus membahas bentuk-bentuk kerja sama di masa depan, khususnya dalam operasi pencarian dan pertolongan (Search and Rescue/SAR), termasuk evakuasi medis dan penerjunan personel,” jelas Andri.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa cakupan kerja sama tidak terbatas pada pencarian korban. Kemampuan evakuasi medis atau medical evacuation serta penerjunan personel juga menjadi bagian yang dapat dikembangkan melalui latihan bersama.
Kemampuan tersebut penting karena operasi SAR dapat berlangsung dalam kondisi yang kompleks. Personel bisa saja dihadapkan pada lokasi sulit dijangkau, kebutuhan evakuasi cepat, hingga kondisi yang mengharuskan penggunaan berbagai unsur secara bersamaan.
Dari sisi RSAF, Commander Helicopter Group RSAF COL Oh Chun Keong turut menyampaikan apresiasi kepada Lanud Roesmin Nurjadin atas dukungan terhadap pelaksanaan latihan. Ia juga menyambut baik kesempatan untuk kembali berlatih bersama personel TNI AU.
Bagi kedua angkatan udara, latihan semacam ini bukan hanya tentang menguji kesiapan alutsista. Interaksi langsung antarpersonel juga menjadi bagian penting untuk membangun pemahaman mengenai prosedur, kemampuan, serta pola koordinasi masing-masing pihak.
Terlebih, TNI AU dan RSAF telah memiliki hubungan kerja sama pertahanan yang berlangsung cukup panjang. Latma Manyar Indopura menjadi salah satu wadah untuk menjaga sekaligus mengembangkan hubungan tersebut melalui kegiatan operasional yang bersifat praktis.
Menariknya, latihan ini juga memperlihatkan bahwa kerja sama pertahanan Indonesia dan Singapura tidak hanya berkaitan dengan kemampuan tempur. Operasi SAR dan misi kemanusiaan menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan angkatan udara dalam menghadapi situasi darurat.
Dengan menggabungkan kemampuan H225M milik TNI AU dan CH-47 Chinook milik RSAF, Manyar Indopura 2026 diharapkan dapat memperkuat kemampuan kedua negara untuk bekerja secara terpadu ketika menghadapi operasi pencarian, pertolongan, maupun evakuasi.
Pada akhirnya, latihan ini bukan sekadar agenda rutin antarangkatan udara. Manyar Indopura 2026 menjadi ruang untuk membangun kesiapan bersama sekaligus mempererat hubungan bilateral Indonesia dan Singapura melalui kerja sama yang memiliki dampak langsung pada kemampuan penyelamatan dan misi kemanusiaan.










