Kabar5News – Setelah melewati periode kemarau yang cukup panjang, masyarakat mulai menantikan kembalinya hujan di berbagai wilayah Indonesia.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim hujan mulai datang secara bertahap setelah puncak musim kemarau 2026. Namun, perubahan musim tersebut tidak akan berlangsung serentak di seluruh Indonesia.
Artinya, ketika sejumlah daerah mulai kembali diguyur hujan, wilayah lainnya masih mungkin mengalami cuaca panas dan kondisi kering.
81 Persen Zona Musim Masih Kemarau
Data BMKG hingga Dasarian I September 2026 menunjukkan sekitar 81 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia masih berada dalam periode musim kemarau.
Kondisi atmosfer yang relatif kering juga terlihat dari banyaknya wilayah yang mengalami hari tanpa hujan dalam waktu panjang. Sejumlah wilayah di Indonesia bagian selatan bahkan tercatat mengalami hari tanpa hujan lebih dari 60 hari berturut-turut.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa datangnya musim hujan masih menjadi proses yang berlangsung secara bertahap.
Perkiraan Oktober Mulai Berubah
Dalam prediksi BMKG, periode Oktober hingga Desember 2026 menjadi masa ketika curah hujan mulai kembali meningkat di sejumlah wilayah.
Namun, BMKG memperkirakan curah hujan pada periode tersebut secara umum masih berada pada kategori rendah hingga menengah, dengan sifat hujan dominan bawah normal hingga normal.
Dengan demikian, turunnya hujan pada Oktober belum tentu langsung berarti seluruh Indonesia memasuki musim hujan dengan intensitas tinggi.
Perubahan tersebut akan berlangsung mengikuti karakteristik masing-masing wilayah.
El Niño Masih Berpengaruh
Ada faktor lain yang membuat kondisi cuaca tahun ini perlu diperhatikan, yakni fenomena El Niño.
BMKG mencatat El Niño masih berada pada kategori sangat kuat. Pada Dasarian I September, indeks ENSO tiga bulanan untuk periode Juli-September mencapai 2,6, yang menunjukkan intensitas sangat kuat.
BMKG juga sebelumnya memprediksi El Niño dapat bertahan hingga awal 2027. Kondisi ini berpotensi memperpanjang periode kering, terutama ketika bertepatan dengan musim kemarau.
Karena itu, hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah tidak bisa langsung dijadikan tanda bahwa pengaruh kemarau telah sepenuhnya berakhir.
Hujan Bisa Datang di Tengah Kemarau
Menariknya, hujan sebenarnya tetap dapat terjadi meskipun suatu wilayah masih dikategorikan berada dalam musim kemarau.
BMKG pada September masih mencatat potensi hujan di sejumlah wilayah Indonesia. Bahkan, pada periode tertentu terdapat daerah yang berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat dan angin kencang.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa musim dan cuaca merupakan dua hal yang berbeda.
Musim hujan atau kemarau ditentukan berdasarkan pola curah hujan dalam periode tertentu, bukan hanya dari ada atau tidaknya hujan pada satu hari.
Masyarakat Tetap Perlu Bersiap
Perubahan dari kemarau menuju musim hujan juga menjadi waktu yang penting untuk meningkatkan kewaspadaan.
Masyarakat dapat mulai memeriksa saluran air, membersihkan lingkungan, mengecek kondisi atap rumah, hingga memperhatikan informasi prakiraan cuaca sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan.
Bagi sektor pertanian, informasi mengenai awal musim hujan juga penting karena berkaitan dengan penentuan waktu tanam dan pengelolaan lahan.
Sementara bagi masyarakat perkotaan, perubahan pola hujan perlu diantisipasi karena hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat tetap berpotensi menimbulkan genangan di sejumlah wilayah.
Pada akhirnya, musim hujan memang diprediksi segera datang, tetapi kedatangannya tidak serentak dan tidak serta-merta mengakhiri kondisi kering di seluruh Indonesia.
Data BMKG menunjukkan Oktober hingga Desember menjadi periode penting dalam perubahan pola cuaca. Namun, masyarakat tetap perlu mengikuti pembaruan prakiraan karena kondisi atmosfer dapat berubah dari waktu ke waktu.











