Kabar5News – Pernah merasa masalah datang bertubi-tubi hingga sulit berpikir jernih? Pekerjaan menumpuk, tuntutan sehari-hari, hingga paparan informasi di media sosial terkadang membuat seseorang merasa kewalahan, bahkan ketika tidak sedang menghadapi persoalan besar.
Dalam psikologi, kondisi ini dapat dipahami melalui konsep window of tolerance atau jendela toleransi, yakni rentang kondisi emosional ketika seseorang masih mampu mengelola tekanan, berpikir jernih, dan menjalankan aktivitas sehari-hari dengan baik.
Konsep yang diperkenalkan oleh psikiater Dan Siegel ini membantu seseorang memahami bagaimana tubuh dan pikiran merespons stres. Wakil Presiden Perawatan Klinis Octave Mental Health, Golee Abrishami, PhD, menjelaskan bahwa seseorang dapat mengalami kondisi yang terasa kacau ketika persoalan di sekitarnya tampak lebih besar daripada kemampuan dirinya untuk mengendalikan keadaan.
“Ketika masalah terasa lebih besar dari diri kamu dan berada di luar kendali, wajar jika kamu merasa berada dalam kondisi yang kacau,” ujar Abrishami, dikutip dari Real Simple, Kamis (29/10/2026).
Mengenal Dua Kondisi di Luar Zona Toleransi
Window of tolerance berada di antara dua kondisi, yakni hyperarousal dan hypoarousal.
Hyperarousal terjadi ketika tubuh dan pikiran berada dalam kondisi terlalu aktif. Seseorang dapat merasa cemas, mudah marah, panik, gelisah, atau terus memikirkan sesuatu secara berlebihan.
Sebaliknya, hypoarousal ditandai dengan menurunnya respons emosional. Kondisi ini dapat membuat seseorang merasa mati rasa, kehilangan energi, menarik diri, sulit berkonsentrasi, bahkan seperti tidak mampu melakukan apa-apa.
Respons setiap individu berbeda. Ada yang memilih diam dan menghindari situasi, sementara lainnya justru berusaha mengendalikan segala sesuatu, mulai dari pekerjaan hingga aktivitas sehari-hari.
Abrishami menegaskan bahwa jendela toleransi setiap orang tidak sama dan dapat berubah seiring kondisi yang dihadapi.
“Window of tolerance tidak bersifat tetap. Zona ini dapat meluas jika kamu berusaha mengembangkannya atau menyempit jika kesehatan mental diabaikan,” ujarnya.
Doomscrolling Bisa Mempersempit Toleransi Stres
Salah satu kebiasaan yang dapat memperburuk kondisi emosional adalah doomscrolling, yaitu aktivitas mengonsumsi berita atau informasi negatif secara terus-menerus melalui media sosial.
Tanpa disadari, seseorang dapat terus terpapar informasi yang memicu kecemasan, ketakutan, atau ketidakpastian. Abrishami mengingatkan bahwa otak manusia tidak dirancang untuk menerima seluruh informasi dunia sepanjang waktu.
Karena itu, membatasi waktu penggunaan media sosial dan memberikan jeda dari berita yang memicu tekanan dapat membantu menjaga keseimbangan emosional.
Cara Menjaga Window of Tolerance
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk membantu menjaga toleransi terhadap stres:
- Kenali sinyal tubuh. Perhatikan perubahan seperti sesak napas, gelisah, mudah tersinggung, atau kekhawatiran berkepanjangan.
- Berikan waktu untuk beristirahat. Jangan memaksakan diri terus produktif ketika tubuh dan pikiran membutuhkan jeda.
- Jaga pola hidup sehat. Tidur cukup, makan teratur, dan berolahraga dapat membantu menjaga kondisi fisik maupun emosional.
- Kurangi paparan informasi berlebihan. Batasi penggunaan media sosial, terutama konten yang memicu kecemasan.
- Luangkan waktu bersama orang terdekat. Dukungan sosial dan aktivitas menyenangkan dapat membantu mengurangi tekanan.
Jika rasa kewalahan berlangsung terus-menerus hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari bantuan psikolog atau tenaga profesional kesehatan mental dapat menjadi langkah yang tepat.
Memahami window of tolerance bukan berarti menghindari seluruh tekanan hidup, melainkan belajar mengenali batas diri dan meresponsnya secara sehat. Sebab, menjaga kesehatan mental juga berarti mengetahui kapan harus bertahan dan kapan perlu berhenti sejenak.











