Kabar5News – Aspek kesehatan mental karyawan menjadi salah satu perhatian utama PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) dalam menjalankan bisnisnya. Hal itu diungkapkan oleh Direktur SDM dan Penunjang Bisnis KPI, Tenny Elfrida, dalam HR Leaders Forum Bali 2025, di Renaissance Bali Nusa Dua Resort (24/4). Tenny yang didapuk menjadi salah satu pembicara mengatakan, budaya kerja di sebuah perusahaan memiliki kontribusi dalam mendukung kesehatan mental hingga kesejahteraan karyawannya.
Karena itulah, menurut Tenny, KPI sebagai Subholding Refining & Petrochemical Pertamina, menyadari betul pentingnya menjaga kesehatan mental karyawannya, agar bisa memberikan hasil maksimal dalam menunaikan pekerjaannya. Tenny mengatakan, KPI telah menerapkan sejumlah budaya kerja yang positif untuk menciptakan suasana kerja yang nyaman.

“Hadirnya perasaan positif dalam diri seorang individu akan pekerjaannya dan ditambah dengan dukungan positif dari organisasi untuk membalas jasa individu di dalam organisasinya ataupun untuk mendukung dan mengembangkan keterampilan seorang individu dalam melakukan pekerjaannya akan menimbulkan rasa sejahtera di dalam diri karyawan dan mendorong semangat karyawan dalam melakukan pekerjaannya dengan kinerja yang baik,” urai Tenny dalam paparannya.
Tenny mengatakan, ada empat budaya kerja yang telah diterapkan KPI untuk mendukung kesehatan mental karyawannya. Pertama membentuk lingkungan kerja yang kolaboratif dan supportif. Tenny mengatakan, lingkungan yang suportif dapat membangun hubungan antar karyawan yang baik, sehingga dapat menciptakan suasana kerja yang nyaman dan dapat meningkatkan produktivitas dan kontribusi karyawan. Salah satu upaya yang dilakukan dalam penerapannya adalah pelibatan karyawan dalam tim taskforce atau tim bersama.
Kedua, KPI juga menerapkan transparansi dan keterbukaan dalam berkomunikasi sebagai salah satu kultur kerja di perusahaan. Menurut Tenny, budaya yang demikian akan membuka ruang bagi karyawan untuk menyampaikan ide, gagasan, aspirasi hingga unek-unek tanpa rasa takut.
“Lingkungan seperti ini meningkatkan rasa aman secara psikologis, membantu mengurangi kecemasan terkait pekerjaan, adanya komunikasi yang transparan membuat karyawan dapat dengan mudah berdiskusi dan menyelesaikan tugasnya,” ungkap Tenny.
Tenny melanjutkan, budaya kerja positif ketiga yang diterapkan KPI adalah fleksibilitas dalam pekerjaan. Menurutnya, kebijakan ini memungkinkan karyawan untuk menyeimbangkan antara kehidupan perkantoran dengan kehidupan probadi. “Work life balance merupakan hal yang menjadi perhatian di KPI untuk menciptakan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi karyawan. Salah satu wujud penerapan work life balance di KPI yakni adanya kegiatan komunitas seperti olehraga dan kegiatan sehat bugar segar (sebuse),” jelas Tenny lebih lanjut.
“Dengan adanya fleksibilitas dalam bekerja, risiko karyawan mengalami kelelahan akibat tekanan kerja berlebih bisa diminimalkan, sementara produktivitas kerja dapat dimaksimalkan,” tuturnya.
Dan terakhir, terbukanya ruang inovasi dan kreatifitas dalam sebuah perusahaan turut berkontribusi dalam membangun kesehatan mental karyawannya. Menurut Tenny, hal itu juga telah diterapkan oleh KPI. Salah satu bentuknya adalah dengan menggelar annual award, CIP Forum dan Breakthrough program (BTP), Strategic Inisiatif, Cost Optimization.
Tenny melanjutkan, selain empat poin di atas, peran para pemimpin tak kalah penting dalam membentuk lingkungan kerja yang sehat secara mental. Menurutnya, pemimpin harus menjadi pelopor penerapan budaya kerja yang mendukung kesehatan mental. Hal ini menjadi penting, sebab pemimpin adalah sosok sentral dalam sebuah perusahaan yang bisa memberikan pengaruh pada orang lain di lingkungannya.
“Pemimpin juga harus menjadi role model dalam implementasi tata nilai budaya Perusahaan serta pelaksanaan tata aturan Perusahaan sehingga akan mendorong tim juga akan berperilaku yang sama dan satu komitmen bersama,” pungkas Tenny.