Kabar5news
Sabtu,7 November , 2026
  • Login
  • BERANDA
  • NASIONAL
  • EKONOMI
  • GAYA HIDUP
  • OLAHRAGA
  • HIBURAN
  • IPTEK
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NASIONAL
  • EKONOMI
  • GAYA HIDUP
  • OLAHRAGA
  • HIBURAN
  • IPTEK
No Result
View All Result
Kabar5news
No Result
View All Result
Home HIBURAN

Evolusi Perayaan Natal di Indonesia: Dari Lonceng Gereja Belanda ke Semangat Nasionalisme

Natal selalu memiliki narasi yang unik di setiap periodenya

Kurt Morrison by Kurt Morrison
25 Desember 2025
in HIBURAN
0
Evolusi Perayaan Natal di Indonesia: Dari Lonceng Gereja Belanda ke Semangat Nasionalisme

Perayaan Natal Era Kolonila. Foto: TropenMuseum

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatappShare on Line

Kabar5News – Hari Natal di Indonesia bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan cermin sejarah panjang yang merekam pergantian zaman. Dari gemerlap pesta dansa para pejabat kolonial hingga kesederhanaan doa di masa awal kemerdekaan, Natal selalu memiliki narasi yang unik di setiap periodenya.

​Pada masa Hindia Belanda, perayaan Natal identik dengan budaya Barat yang dibawa oleh para pejabat, tentara, dan pedagang Eropa. Di kota-kota besar seperti Batavia (Jakarta), Bandung, dan Semarang, atmosfer Natal sangat kental dengan pengaruh Belanda.

RELATED POSTS

Setelah Laut Bercerita, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Jadi Film Adaptasi yang Dinantikan

Dari Viral “Ratu Sejagad” hingga Juara Dunia, Menelisik Perjalanan Shantell Vocal Ensemble

Bagi kaum elite kolonial, Natal adalah momen pamer status sosial. Gereja Immanuel (Willemskerk) dan Gereja Katedral Jakarta menjadi pusat ibadah yang megah. Setelah misa, para pejabat biasanya mengadakan pesta dansa di gedung-gedung seperti Sociëteit Harmonie. Makanan yang disajikan pun sangat “Eropa”, seperti ayam kalkun, roti Natal (kerststol), dan biskut jahe (speculaas).

Menariknya, di era ini pula tradisi pohon Natal mulai diperkenalkan. Namun, karena pohon cemara sulit ditemukan di iklim tropis, warga Belanda sering kali menggunakan pohon cemara tiruan atau tanaman lokal yang dihias sedemikian rupa agar menyerupai suasana di negeri asal mereka.

Bagi penduduk pribumi yang beragama Kristen, perayaan biasanya jauh lebih sederhana, namun tetap mengadopsi beberapa unsur kuliner Belanda seperti kue kering yang kini kita kenal sebagai Nastar (Ananas Taart) dan Kastengel (Kaas Stengels).

Masa Awal Kemerdekaan

Setelah proklamasi 1945, suasana Natal berubah drastis. Di tengah perjuangan mempertahankan kemerdekaan, perayaan tidak lagi tentang kemewahan kolonial, melainkan tentang solidaritas dan identitas bangsa.

Pada masa ini, umat Kristiani Indonesia mulai “menanggalkan” atribut ke-Belanda-an dan merayakan Natal dengan semangat nasionalisme. Gereja-gereja lokal mulai menggunakan bahasa Indonesia dalam liturgi, bukan lagi bahasa Belanda atau Latin sepenuhnya.

Salah satu momen penting adalah bagaimana Presiden Soekarno, meski seorang Muslim, sangat menjunjung tinggi toleransi. Di masa awal kemerdekaan, seringkali perayaan Natal di istana atau gedung negara dihadiri oleh tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang agama sebagai simbol Bhinneka Tunggal Ika.

Presiden Sukarno pada Perayaan Natal. Foto: IPPHOS

Namun ada satu masa yang kurang baik, akibat ketegangan situasi saat itu. Semasa Hindia-Belanda, pada setiap 5 Desember, menjelang Hari Natal, ada tradisi perayaan Sinterklas. Perayaan selalu berlangsung meriah. Sinterklas bersama pembantunya, Piet Hitam, diarak keliling kota.

Tradisi ini berlanjut hingga 1950-an. Namun, pada 1957, persoalan Irian Barat mulai bergejolak. Sebagai reaksinya, selain pemulangan orang-orang Belanda yang masih di Indonesia dan pengambilalihan perusahan milik Belanda, ada pelarangan pesta Sinterklas.

Pesta Sinterklas dianggap tradisi warisan Belanda. Maka sejak tahun 1957, tidak ada lagi arak-arakan Sinterklas pada setiap 5 Desember. Peristiwa pelarangan itu kemudian dikenang sebagai “Sinterklas hitam”.

Meskipun tradisi perayaan Sinterklas telah dilarang, hubungan Presiden Sukarno dengan umat Kristiani tetap baik. Bahkan Sejak 1956 hingga 1964, Presiden Sukarno tiga kali mengunjungi Vatikan. Dalam setiap kunjungannya itu ia menerima penghargaan dari Paus yang berbeda.

Tags: Hari Raya NatalHidangan NatalNatal 2025Tradisi Natal
Previous Post

Tutup Tahun 2025, Pertamina Internasional EP Lepas Pengapalan Perdana 1 Juta Barel Minyak dari Aljazair ke Indonesia

Next Post

Adu Latar Pendidikan Atalia Praratya dan Aura Kasih

Kurt Morrison

Kurt Morrison

Related Posts

Setelah Laut Bercerita, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Jadi Film Adaptasi yang Dinantikan

Setelah Laut Bercerita, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Jadi Film Adaptasi yang Dinantikan

by Fajar Novryanto
5 November 2026
0

Kabar5News - Siapa sangka, semangkuk mie ayam bisa menjadi alasan seseorang kembali memikirkan arti hidup? Premis yang terdengar sederhana ini...

Dari Viral “Ratu Sejagad” hingga Juara Dunia, Menelisik Perjalanan Shantell Vocal Ensemble

Dari Viral “Ratu Sejagad” hingga Juara Dunia, Menelisik Perjalanan Shantell Vocal Ensemble

by Fajar Novryanto
27 Oktober 2026
0

Kabar5News - Popularitas di media sosial dapat menjadi pintu bagi sebuah karya untuk dikenal lebih luas. Hal ini terlihat dari...

Kita Mesti Bangga! Dunia Perfilman Indonesia Kembali Raih Penghargaan

Kita Mesti Bangga! Dunia Perfilman Indonesia Kembali Raih Penghargaan

by Fajar Novryanto
20 Oktober 2026
0

Kabar5News - Perfilman Indonesia kembali mendapat perhatian di panggung internasional melalui film IBUKU karya sutradara Eddie Cahyono. Film ini meraih...

Aku dan Badai Dalam Bingkai Kenangan

Aku dan Badai Dalam Bingkai Kenangan

by Redaksi
19 Oktober 2026
0

Kabar5News - Sebuah prosa tentang Badai kembali terbit. Kali ini ditulis oleh salah satu adik seperjuangannya di kampus, yang juga...

Badai Dalam Ingatanku

Badai Dalam Ingatanku

by Redaksi
17 Oktober 2026
0

Kabar5News - Prosa ini merupakan testimoni mengenai sosok Badai yang ditulis oleh salah satu mantan aktivis 98 berinisial RS. Bersama...

Next Post
Adu Latar Pendidikan Atalia Praratya dan Aura Kasih

Adu Latar Pendidikan Atalia Praratya dan Aura Kasih

Natal 2025, Presiden Prabowo Serukan Persatuan dan Solidaritas Nasional

Natal 2025, Presiden Prabowo Serukan Persatuan dan Solidaritas Nasional

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RECOMMENDED

TNI AU Gandeng Angkatan Udara Kamboja, Apa Misi di Balik Kolaborasi Ini?

TNI AU Gandeng Angkatan Udara Kamboja, Apa Misi di Balik Kolaborasi Ini?

7 November 2026
Wajib Dicoba! Minuman Berbahan Jagung Ini Bisa Jadi Minuman Favorit Baru

Wajib Dicoba! Minuman Berbahan Jagung Ini Bisa Jadi Minuman Favorit Baru

7 November 2026
  • 594 Followers
  • 24k Followers

MOST VIEWED

  • Cara Jadi Clipper Luar Negeri dengan Gaji Dollar

    Cara Jadi Clipper Luar Negeri dengan Gaji Dollar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Laporan Keuangan Pupuk Indonesia Wajar dan Sesuai Standar Akuntansi Keuangan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lagi Tren! Begini Cara Bikin Foto Polaroid Bareng Idola Beserta Prompt-nya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apa Itu Wefluence? Disebut-sebut Bisa Menghasilkan Cuan Tak Terbatas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 20 Prompt Gemini AI Bahasa Indonesia di Bandara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabar5news

Selamat Datang di Kabar5news.id, Portal Media Online yang dikelola oleh CV GEN MUDA NUSANTARA
SK Kementerian Hukum RI No: AHU-0009239-AH.01.14 Tahun 2025. NPWP: 1091.0312.1123.9016

  • BERANDA
  • HUBUNGI KAMI
  • PRIVACY POLICY
  • REDAKSI

© 2025 Kabar5news

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NASIONAL
  • EKONOMI
  • GAYA HIDUP
  • OLAHRAGA
  • HIBURAN
  • IPTEK

© 2025 Kabar5news

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In