Kabar5News – Hari Natal di Indonesia bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan cermin sejarah panjang yang merekam pergantian zaman. Dari gemerlap pesta dansa para pejabat kolonial hingga kesederhanaan doa di masa awal kemerdekaan, Natal selalu memiliki narasi yang unik di setiap periodenya.
Pada masa Hindia Belanda, perayaan Natal identik dengan budaya Barat yang dibawa oleh para pejabat, tentara, dan pedagang Eropa. Di kota-kota besar seperti Batavia (Jakarta), Bandung, dan Semarang, atmosfer Natal sangat kental dengan pengaruh Belanda.
Bagi kaum elite kolonial, Natal adalah momen pamer status sosial. Gereja Immanuel (Willemskerk) dan Gereja Katedral Jakarta menjadi pusat ibadah yang megah. Setelah misa, para pejabat biasanya mengadakan pesta dansa di gedung-gedung seperti Sociëteit Harmonie. Makanan yang disajikan pun sangat “Eropa”, seperti ayam kalkun, roti Natal (kerststol), dan biskut jahe (speculaas).
Menariknya, di era ini pula tradisi pohon Natal mulai diperkenalkan. Namun, karena pohon cemara sulit ditemukan di iklim tropis, warga Belanda sering kali menggunakan pohon cemara tiruan atau tanaman lokal yang dihias sedemikian rupa agar menyerupai suasana di negeri asal mereka.
Bagi penduduk pribumi yang beragama Kristen, perayaan biasanya jauh lebih sederhana, namun tetap mengadopsi beberapa unsur kuliner Belanda seperti kue kering yang kini kita kenal sebagai Nastar (Ananas Taart) dan Kastengel (Kaas Stengels).
Masa Awal Kemerdekaan
Setelah proklamasi 1945, suasana Natal berubah drastis. Di tengah perjuangan mempertahankan kemerdekaan, perayaan tidak lagi tentang kemewahan kolonial, melainkan tentang solidaritas dan identitas bangsa.
Pada masa ini, umat Kristiani Indonesia mulai “menanggalkan” atribut ke-Belanda-an dan merayakan Natal dengan semangat nasionalisme. Gereja-gereja lokal mulai menggunakan bahasa Indonesia dalam liturgi, bukan lagi bahasa Belanda atau Latin sepenuhnya.
Salah satu momen penting adalah bagaimana Presiden Soekarno, meski seorang Muslim, sangat menjunjung tinggi toleransi. Di masa awal kemerdekaan, seringkali perayaan Natal di istana atau gedung negara dihadiri oleh tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang agama sebagai simbol Bhinneka Tunggal Ika.

Namun ada satu masa yang kurang baik, akibat ketegangan situasi saat itu. Semasa Hindia-Belanda, pada setiap 5 Desember, menjelang Hari Natal, ada tradisi perayaan Sinterklas. Perayaan selalu berlangsung meriah. Sinterklas bersama pembantunya, Piet Hitam, diarak keliling kota.
Tradisi ini berlanjut hingga 1950-an. Namun, pada 1957, persoalan Irian Barat mulai bergejolak. Sebagai reaksinya, selain pemulangan orang-orang Belanda yang masih di Indonesia dan pengambilalihan perusahan milik Belanda, ada pelarangan pesta Sinterklas.
Pesta Sinterklas dianggap tradisi warisan Belanda. Maka sejak tahun 1957, tidak ada lagi arak-arakan Sinterklas pada setiap 5 Desember. Peristiwa pelarangan itu kemudian dikenang sebagai “Sinterklas hitam”.
Meskipun tradisi perayaan Sinterklas telah dilarang, hubungan Presiden Sukarno dengan umat Kristiani tetap baik. Bahkan Sejak 1956 hingga 1964, Presiden Sukarno tiga kali mengunjungi Vatikan. Dalam setiap kunjungannya itu ia menerima penghargaan dari Paus yang berbeda.












