Kabar5news
Rabu,25 Maret , 2026
  • Login
  • BERANDA
  • NASIONAL
  • EKONOMI
  • GAYA HIDUP
  • OLAHRAGA
  • HIBURAN
  • IPTEK
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NASIONAL
  • EKONOMI
  • GAYA HIDUP
  • OLAHRAGA
  • HIBURAN
  • IPTEK
No Result
View All Result
Kabar5news
No Result
View All Result
Home HIBURAN

Evolusi Perayaan Natal di Indonesia: Dari Lonceng Gereja Belanda ke Semangat Nasionalisme

Natal selalu memiliki narasi yang unik di setiap periodenya

Kurt Morrison by Kurt Morrison
25 Desember 2025
in HIBURAN
0
Evolusi Perayaan Natal di Indonesia: Dari Lonceng Gereja Belanda ke Semangat Nasionalisme

Perayaan Natal Era Kolonila. Foto: TropenMuseum

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatappShare on Line

Kabar5News – Hari Natal di Indonesia bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan cermin sejarah panjang yang merekam pergantian zaman. Dari gemerlap pesta dansa para pejabat kolonial hingga kesederhanaan doa di masa awal kemerdekaan, Natal selalu memiliki narasi yang unik di setiap periodenya.

​Pada masa Hindia Belanda, perayaan Natal identik dengan budaya Barat yang dibawa oleh para pejabat, tentara, dan pedagang Eropa. Di kota-kota besar seperti Batavia (Jakarta), Bandung, dan Semarang, atmosfer Natal sangat kental dengan pengaruh Belanda.

RELATED POSTS

Menelisik Fenomena Pendatang Paska Mudik Lebaran, di Era Gubernur DKI Wiyogo Atmodarminto

Menghidupkan Kembali Gelak Tawa Spesial Idul Fitri Era 90-an

Bagi kaum elite kolonial, Natal adalah momen pamer status sosial. Gereja Immanuel (Willemskerk) dan Gereja Katedral Jakarta menjadi pusat ibadah yang megah. Setelah misa, para pejabat biasanya mengadakan pesta dansa di gedung-gedung seperti Sociëteit Harmonie. Makanan yang disajikan pun sangat “Eropa”, seperti ayam kalkun, roti Natal (kerststol), dan biskut jahe (speculaas).

Menariknya, di era ini pula tradisi pohon Natal mulai diperkenalkan. Namun, karena pohon cemara sulit ditemukan di iklim tropis, warga Belanda sering kali menggunakan pohon cemara tiruan atau tanaman lokal yang dihias sedemikian rupa agar menyerupai suasana di negeri asal mereka.

Bagi penduduk pribumi yang beragama Kristen, perayaan biasanya jauh lebih sederhana, namun tetap mengadopsi beberapa unsur kuliner Belanda seperti kue kering yang kini kita kenal sebagai Nastar (Ananas Taart) dan Kastengel (Kaas Stengels).

Masa Awal Kemerdekaan

Setelah proklamasi 1945, suasana Natal berubah drastis. Di tengah perjuangan mempertahankan kemerdekaan, perayaan tidak lagi tentang kemewahan kolonial, melainkan tentang solidaritas dan identitas bangsa.

Pada masa ini, umat Kristiani Indonesia mulai “menanggalkan” atribut ke-Belanda-an dan merayakan Natal dengan semangat nasionalisme. Gereja-gereja lokal mulai menggunakan bahasa Indonesia dalam liturgi, bukan lagi bahasa Belanda atau Latin sepenuhnya.

Salah satu momen penting adalah bagaimana Presiden Soekarno, meski seorang Muslim, sangat menjunjung tinggi toleransi. Di masa awal kemerdekaan, seringkali perayaan Natal di istana atau gedung negara dihadiri oleh tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang agama sebagai simbol Bhinneka Tunggal Ika.

Presiden Sukarno pada Perayaan Natal. Foto: IPPHOS

Namun ada satu masa yang kurang baik, akibat ketegangan situasi saat itu. Semasa Hindia-Belanda, pada setiap 5 Desember, menjelang Hari Natal, ada tradisi perayaan Sinterklas. Perayaan selalu berlangsung meriah. Sinterklas bersama pembantunya, Piet Hitam, diarak keliling kota.

Tradisi ini berlanjut hingga 1950-an. Namun, pada 1957, persoalan Irian Barat mulai bergejolak. Sebagai reaksinya, selain pemulangan orang-orang Belanda yang masih di Indonesia dan pengambilalihan perusahan milik Belanda, ada pelarangan pesta Sinterklas.

Pesta Sinterklas dianggap tradisi warisan Belanda. Maka sejak tahun 1957, tidak ada lagi arak-arakan Sinterklas pada setiap 5 Desember. Peristiwa pelarangan itu kemudian dikenang sebagai “Sinterklas hitam”.

Meskipun tradisi perayaan Sinterklas telah dilarang, hubungan Presiden Sukarno dengan umat Kristiani tetap baik. Bahkan Sejak 1956 hingga 1964, Presiden Sukarno tiga kali mengunjungi Vatikan. Dalam setiap kunjungannya itu ia menerima penghargaan dari Paus yang berbeda.

Tags: Hari Raya NatalHidangan NatalNatal 2025Tradisi Natal
Previous Post

Tutup Tahun 2025, Pertamina Internasional EP Lepas Pengapalan Perdana 1 Juta Barel Minyak dari Aljazair ke Indonesia

Next Post

Adu Latar Pendidikan Atalia Praratya dan Aura Kasih

Kurt Morrison

Kurt Morrison

Related Posts

Menelisik Fenomena Pendatang Paska Mudik Lebaran, di Era Gubernur DKI Wiyogo Atmodarminto

Menelisik Fenomena Pendatang Paska Mudik Lebaran, di Era Gubernur DKI Wiyogo Atmodarminto

by Kurt Morrison
23 Maret 2026
0

Kabar5News - Lebaran selalu menyisakan dua sisi mata uang: kebahagiaan berkumpul di kampung halaman dan realita paska mudik di ibu...

Menghidupkan Kembali Gelak Tawa Spesial Idul Fitri Era 90-an

Menghidupkan Kembali Gelak Tawa Spesial Idul Fitri Era 90-an

by Kurt Morrison
19 Maret 2026
0

Kabar5News – Masa libur Idul Fitri di era 90-an terasa sangat spesial. Bagi generasi yang tumbuh di masa itu, momen...

5 Lokasi Wisata di Jabodetabek, Cocok Dikunjungi Warga yang Tidak Mudik

5 Lokasi Wisata di Jabodetabek, Cocok Dikunjungi Warga yang Tidak Mudik

by Fajar Novryanto
18 Maret 2026
0

Kabar5News - Beragam lokasi wisata di Jabodetabek tetap buka dan dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang tidak mudik untuk mengisi...

Cerita Dibalik Kuliner Ikonik Idul Fitri yang Jarang Orang Tahu

Cerita Dibalik Kuliner Ikonik Idul Fitri yang Jarang Orang Tahu

by Kurt Morrison
18 Maret 2026
0

Kabar5News – Tak terasa hari raya Idul Fitri sudah di depan mata. Idul Fitri atau Lebaran, di Indonesia selain momen...

Lebaran Lebih Tenang, Simak 5 Tips Aman Tinggalkan Rumah saat Mudik

Lebaran Lebih Tenang, Simak 5 Tips Aman Tinggalkan Rumah saat Mudik

by Fajar Novryanto
17 Maret 2026
0

Kabar5News - Mudik Lebaran menjadi momen yang dinantikan banyak masyarakat Indonesia untuk berkumpul bersama keluarga di kampung halaman. Namun, meninggalkan...

Next Post
Adu Latar Pendidikan Atalia Praratya dan Aura Kasih

Adu Latar Pendidikan Atalia Praratya dan Aura Kasih

Natal 2025, Presiden Prabowo Serukan Persatuan dan Solidaritas Nasional

Natal 2025, Presiden Prabowo Serukan Persatuan dan Solidaritas Nasional

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RECOMMENDED

Dihapus Pada Masa Gus Dur, Kini Kaster TNI Diaktifkan Kembali

Dihapus Pada Masa Gus Dur, Kini Kaster TNI Diaktifkan Kembali

24 Maret 2026
Menelisik Fenomena Pendatang Paska Mudik Lebaran, di Era Gubernur DKI Wiyogo Atmodarminto

Menelisik Fenomena Pendatang Paska Mudik Lebaran, di Era Gubernur DKI Wiyogo Atmodarminto

23 Maret 2026
  • 640 Followers
  • 23.9k Followers

MOST VIEWED

  • Laporan Keuangan Pupuk Indonesia Wajar dan Sesuai Standar Akuntansi Keuangan

    Laporan Keuangan Pupuk Indonesia Wajar dan Sesuai Standar Akuntansi Keuangan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lagi Tren! Begini Cara Bikin Foto Polaroid Bareng Idola Beserta Prompt-nya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apa Itu Wefluence? Disebut-sebut Bisa Menghasilkan Cuan Tak Terbatas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prompt Gemini Foto Pakai Jas Hitam dan Pegang Bunga Mawar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 20 Prompt Gemini AI Bahasa Indonesia di Bandara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabar5news

Selamat Datang di Kabar5news.id, Portal Media Online yang dikelola oleh CV GEN MUDA NUSANTARA
SK Kementerian Hukum RI No: AHU-0009239-AH.01.14 Tahun 2025. NPWP: 1091.0312.1123.9016

  • BERANDA
  • HUBUNGI KAMI
  • PRIVACY POLICY
  • REDAKSI

© 2025 Kabar5news

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NASIONAL
  • EKONOMI
  • GAYA HIDUP
  • OLAHRAGA
  • HIBURAN
  • IPTEK

© 2025 Kabar5news

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In