Kabar5News – Dunia militer internasional kerap berkiblat pada Delta Force, unit antiteror paling rahasia milik Amerika Serikat. Salah satu narasi yang melegenda adalah bagaimana ketangkasan mereka dalam berbagai operasi senyap di Amerika Latin, termasuk operasi militer yang baru saja dilaksanakan di Venezuela.
Narasi tentang pasukan yang “datang, selesaikan, dan menghilang” ini menciptakan standar bahwa hanya negara adidaya yang memiliki pasukan dengan presisi bedah seperti itu.
Namun, sejarah mencatat pada pertengahan era 90-an, di belahan bumi lain, tepatnya di belantara hutan tropis Papua yang jauh lebih ganas dari medan mana pun di Amerika Selatan, Indonesia membuktikan memiliki “hantu-hantu rimba” yang tak kalah mematikan. Operasi pasukan khusus itu dikenal dengan nama Operasi Mapenduma 1996.
Krisis bermula pada 8 Januari 1996, ketika kelompok separatis OPM pimpinan Kelly Kwalik menyandera 26 anggota Tim Ekspedisi Lorentz ’95 di Desa Mapenduma. Para sandera terdiri dari peneliti muda dari dalam negeri serta warga negara asing (Inggris, Belanda, dan Jerman). Dunia internasional menaruh perhatian penuh; tekanan diplomatik meningkat, dan bayang-bayang kegagalan menghantui kedaulatan Indonesia.
Setelah upaya negosiasi selama 130 hari menemui jalan buntu, perintah tegas turun: Operasi Militer!. Dipimpin oleh Danjen Kopassus saat itu, Brigjen TNI Prabowo Subianto, operasi ini menjadi panggung pembuktian bagi pasukan khusus Indonesia.
Jika Delta Force mengandalkan teknologi satelit mutakhir, Kopassus menggabungkan teknologi dengan kemampuan jungle warfare (perang hutan) yang legendaris.
Puncak Operasi, 19 Mei 1996
Operasi ini bukan sekadar serbuan membabi buta. Menggunakan helikopter dan taktik infiltrasi senyap, pasukan elite bergerak menembus kabut tebal dan medan curam Mapenduma. Dalam waktu singkat, melalui baku tembak yang sengit namun terukur, mayoritas sandera berhasil dibebaskan.
Keberhasilan ini mengejutkan pengamat militer dunia. Indonesia membuktikan bahwa dalam kondisi medan paling ekstrem di dunia, hutan hujan tropis dengan kelembapan tinggi dan visibilitas rendah, pasukan Baret Merah memiliki kapabilitas yang setara, bahkan melampaui standar operasi pasukan khusus Barat dalam konteks perang hutan.
Mapenduma terletak di Kabupaten Jayawijaya (sekarang masuk wilayah Papua Pegunungan), sebuah area yang didominasi oleh hutan hujan tropis perawan dengan ketinggian di atas 2.000 meter di atas permukaan laut. Tebing-tebing curam, lembah yang dalam, dan vegetasi yang sangat rapat membuat pergerakan pasukan sangat terbatas.Kabut tebal bisa turun sewaktu-waktu, membatasi jarak pandang hingga kurang dari 5 meter dan sering kali membuat dukungan udara (helikopter) tidak bisa beroperasi.
Sebelum serangan dilakukan, TNI melakukan persiapan matang selama hampir empat bulan. Awalnya, pemerintah mengedepankan jalur damai melalui perantaraan Palang Merah Internasional (ICRC). Namun, pemimpin OPM Kelly Kwalik bersikap hanya mengulur waktu dan justru menjadikan negosiasi sebagai panggung politik.
Pada 9 Mei 1996, setelah ICRC menyatakan mundur dari negosiasi karena kecewa pada pihak OPM, operasi militer resmi dimulai. Pasukan tidak langsung menyerbu dari depan. Mereka diturunkan melalui helikopter (fast roping) di titik-titik yang tidak terduga dan merayap menembus hutan selama berhari-hari untuk mengepung posisi lawan secara senyap.
Puncak operasi terjadi pada 15-19 Mei 1996. Pasukan khusus menggunakan taktik mobile air (serangan udara) dikombinasikan dengan serangan darat yang presisi. Hasilnya, dari 11 sandera yang tersisa di tangan OPM saat itu, 9 orang berhasil diselamatkan dalam kondisi hidup.
Meskipun Kopassus (khususnya Sat-81 Gultor) menjadi ujung tombak, operasi ini melibatkan sinergi antar-matra, yakni; pilot-pilot helikopter TNI AD harus melakukan manuver berbahaya di sela-sela tebing Papua yang sempit dan juga kesatuan Kostrad, yang memberikan bantuan pengamanan perimeter luar untuk mencegah pelarian anggota OPM ke wilayah perbatasan.
Keberhasilan ini menempatkan militer Indonesia dalam radar militer dunia. Strategi yang menggabungkan kecanggihan alat (UAV dan GPS) dengan kemampuan naluriah manusia (jejak hutan) menjadi studi kasus bagi pasukan khusus negara lain tentang cara menangani perang asimetris di medan tropis.












