Kabar5News – Waktu seolah berlari cepat, bulan Ramadan penuh keberkahan sebentar lagi akan berakhir, berganti dengan Hari Raya Idul Fitri.
Momen Ramadan dan Lebaran sejatinya ditunggu-tunggu oleh umat muslim karena esensi yang ada di dalamnya begitu berharga. Namun, kini hal tersebut seolah bergeser.
Tidak sedikit yang mengeluh kalau pengeluaran saat bulan puasa jauh lebih besar daripada 11 bulan lainnya. Meskipun sudah terbantu dengan gaji cair, THR masuk rekening, tapi H+3 lebaran dompet kembali kosong.
Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Melansir informasi dari YouTube Kelas Tau pada Senin (16/3/2026), menyebutkan bahwa adanya pergeseran tradisi karena efek “pajak gengsi”.
Semula, tradisi atau kebiasaan yang berniat baik malah sedikit bergeser karena adanya pajak gengsi.
Ada lima kebiasaan tanpa disadari bikin dompet auto lemas setelah perayaan Idul Fitri selesai. Apa sajakah itu? Berikut penjelasan singkatnya dilansir dari YouTube Kelas Tau.
1. Jebakan Buka Bersama
Tanpa Anda sadari, selang satu minggu puasa Ramadan. Smartphone mendadak berbunyi silih berganti mengundang Anda untuk bukber.
Ibaratnya mulai grup SD, SMP, SMA, kuliah, kerja hingga teman nongkrong dan lain-lain. Umumnya mengirim ajakan untuk bukber.
Sebenarnya memang niatnya baik untuk merajut tali silaturahmi. Tapi, saat ini seperti ada pergeseran makna, sebagaimana diungkap oleh narasumber.
“Niat awalnya sih mulia silaturahmi, tapi coba perhatikan realitas di lapangan. Bukber zaman sekarang itu esensinya sudah bergeser jauh,” ucap narasi dalam video tersebut.
“Dari yang tadinya kumpul buat merekatkan tali persaudaraan. Sekarang, berubah jadi ajang pamer kesuksesan tahunan,” tambahnya.
Bahkan, pembuat video juga menyoroti kebiasaan bukber di spot-spot Instagramable dengan harga menu belum tentu semua yang hadir mampu membayar.
“Tempat bukbernya nggak main-main, harus di cafe estetik, restoran all you can eat mahal atau hotel berbintang. Kenapa? Karena harus instagramable, padahal dari 20 orang yang ikut, mungkin cuma 5 orang yang mampu bayar tanpa mikir,” imbuhnya.
“Sisanya menghela napas panjang dalam hati pas lihat harga menu tapi tetap memaksakan diri ikut demi validasi. Takut dibilang sombong, takut dibilang nggak asyik, takut diomongin di belakang karena absen,” sambungnya.
2. Baju Baru dan Seragam Keluarga
Kebiasaan beli baju baru serta seragam untuk keluarga seolah menjadi kewajiban, sampai rela memotong jerih payah 1 bulan untuk pengeluaran tersebut.
Bahkan, ada yang nekat saat keuangan mepet malah berani berhutang demi bisa tampil memukau beberapa jam saja. Setelah itu jarang atau tidak terpakai lagi, karena desain terlalu mencolok ikut trend.
“Sejak kapan sih ada hukumnya kalau lebaran itu wajib pakai baju baru yang matching satu keluarga dari ujung kepala sampai ujung kaki? Memang memakai pakaian terbaik itu sunnah, tapi terbaik itu nggak selalu berarti baru beli,” tuturnya.
“Sayangnya budaya konsumerisme sudah mencuci otak sedemikian rupa lewat diskon-diskon e-commerce yang boombastis, banyak keluarga memaksakan anggaran demi bisa tampil estetik,” imbuhnya.
3. Hampers Lebaran
Kebiasaan memberikan bingkisan atau hampers lebaran umumnya diberikan bos pada anak buah, perusahaan ke klien yang cenderung simpel dan fungsional. Kalau sekarang, tradisi tersebut malah turun kasta.
“Tradisi ngasih hampers lebaran. Kalau zaman dulu, parsel itu urusan bos ke anak buah atau perusahaan ke klien penting, simpel, fungsional, biasanya sembakau atau sirup. Tapi sekarang tradisi turun kasta dan menyebar jadi kewajiban sosial di lingkaran pertemanan kelas menengah,” ungkapnya.
Memberi hampers saat ini kadang muncul rasa khawatir disebut pelit oleh teman.
“Awalnya melihat teman update Insta Story dapat kiriman hampers kayu estetik isi kue kering, gratisan. Terus kita jadi mikir, ‘Wah gue juga harus ngirim nih ke dia biar nggak dibilang pelit’,” sambungnya.
4. Bagi THR atau Salam Tempel
Sebenarnya memberi THR pada anak-anak kecil di kampung halaman itu tidak masalah, bisa membawa berkah asalkan ikhlas. Tapi kalau dibarengi ego dan memaksakan diri, jadi masalah di kemudian hari.
“Tradisi ini sebenarnya bagus banget buat bikin anak-anak kecil happy. Tapi lagi-lagi orang dewasa merusaknya dengan ego dan gengsi. Buat kalian yang merantau ke kota, pulang kampung bawaannya beban moral,” ujarnya.
“Ada ekspektasi dari keluarga besar dan tetangga bahwa kalian yang kerja di kota itu pasti banyak uangnya. Akibatnya apa? Kalian memaksakan diri nukar uang pecahan Rp 50.000, Rp 100.000, buat dibagikan ke sepupu, keponakan, sampai anak tetangga yang nggak kenal,” ucapnya.
5. Sindrom Miliarder Sehari Saat Mudik
Sindrom tersebut merupakan puncak dari pajak gengsi. Ada sebagian orang mudik bukan sekedar pulang kampung, tapi cenderung mengarah pada validasi bahwa dirinya telah sukses.
“Ini adalah fase di mana segala jenis pajak gengsi digabung menjadi satu. Buat sebagian orang, mudik itu bukan cuma sekedar pulang bertemu orang tua, tapi mudik adalah ajang pembuktian diri ke warga kampung bahwa saya sudah sukses di kota,” jelasnya.
“Buktinya apa? Berangkat mudik nggak mau naik bus atau kereta. Milih sewa mobil harian yang harganya melonjak gila-gilaan pas lebaran. Kalau perlu sewa mobil yang mewah sekalian,” ujarnya.











