Kabar5News – Di balik gemerlap kemajuan teknologi dan budaya populer “K-Pop”, Korea Selatan tetap menjadi salah satu destinasi utama bagi para pejuang devisa asal Indonesia.
Korea Selatan dikenal sebagai negara dengan standar upah yang tinggi, namun juga memiliki kebutuhan tenaga kerja yang besar di sektor-sektor fisik. Berdasarkan data terbaru tahun 2025-2026 dari Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, mayoritas Pekerja Migran Indonesia (PMI) tersebar di dua sektor utama melalui skema Government to Government (G-to-G):
- Sektor Manufaktur
Menjadi penyerap tenaga kerja terbesar. Ribuan PMI bekerja di pabrik-pabrik pengolahan logam, plastik, tekstil, hingga perakitan suku cadang otomotif. Sektor ini diminati karena stabilitas jam kerja dan fasilitas tunjangan yang relatif lengkap. - Sektor Perikanan (Fishing)
Banyak PMI yang ditempatkan sebagai awak kapal penangkap ikan. Pekerjaan ini dikenal memiliki risiko tinggi dengan tantangan alam yang berat, namun menawarkan penghasilan yang sangat menggiurkan. - Sektor Tambahan
Selain dua sektor utama di atas, pemerintah Korea Selatan mulai membuka peluang di sektor Pertanian (Agriculture), Konstruksi, dan Jasa (Service), termasuk perawatan gedung dan perhotelan, guna mengatasi krisis tenaga kerja akibat penuaan populasi di sana.
Hingga awal tahun 2026, jumlah pekerja Indonesia di Korea Selatan diperkirakan mencapai lebih dari 55.000 hingga 60.000 orang. Tingginya minat masyarakat Indonesia terlihat dari pendaftaran ujian bahasa Korea (EPS-TOPIK) yang setiap tahunnya diikuti oleh puluhan ribu peserta, meski kuota yang tersedia hanya berkisar di angka 10.000 hingga 15.000 penempatan per tahun.
Indonesia sendiri saat ini menempati peringkat ke-4 sebagai negara pengirim tenaga kerja terbesar ke Korea Selatan, bersaing dengan Nepal, Kamboja, dan Vietnam.
Momen Hangat Presiden Prabowo Menemu PMI, Sugianto
Tak sekadar mencari penghidupan, keberadaan Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Negeri Ginseng mendapatkan sorotan positif, terutama setelah aksi heroik salah satu PMI yang menuai apresiasi langsung dari Presiden RI Prabowo Subianto.
Sugianto, seorang PMI asal Indramayu yang bekerja di sektor perikanan. Pada Maret 2025, melakukan aksi nekat nan mulia dengan menyelamatkan tujuh warga lansia saat kebakaran hebat melanda kawasan hutan di Yeongdeok. Ia bahkan menggendong para lansia tersebut satu per satu keluar dari kepungan api.
Saat kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Korea Selatan pada 1 April 2026. Di sela-sela jamuan santap siang di Istana Kepresidenan Blue House, Presiden Prabowo menemui langsung Sugianto yang hadir sebagai tamu kehormatan Presiden Korea Selatan.
Apresiasi ini bukan sekadar formalitas. Sugianto telah dianugerahi penghargaan The Order of Civil Merit oleh pemerintah Korea Selatan dan kini diangkat menjadi Duta Pekerja Migran Indonesia. Ia juga diberikan visa istimewa (F-2) yang memungkinkannya tinggal lebih lama dan menetap di sana.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) terus mendorong agar para pekerja menjaga etos kerja tinggi dan mematuhi aturan setempat guna menjaga citra baik Indonesia di mata internasional.
Dengan gaji rata-rata mencapai Rp23 juta hingga Rp30 juta per bulan, Korea Selatan tetap menjadi “tanah harapan” bagi pemuda Indonesia untuk memperbaiki ekonomi keluarga sekaligus menimba ilmu teknologi industri yang bisa dibawa pulang ke tanah air.












