Kabar5News – Ketika kita berbicara mengenai intervensi militer Amerika Serikat (USA), memori kolektif dunia sering kali tertuju pada perang Korea dan perang Vietnam. Kemudian di tahun 90an Amerika menginvasi Irak, hingga yang masih panas Venezuela dan Iran.
Namun, sedikit yang menyadari bahwa Indonesia juga pernah menjadi target operasi militer langsung—bukan sekadar perang proksi—pada akhir 1950-an hingga awal 1960-an.
Salah satu bukti paling nyata dari keterlibatan fisik militer AS dalam upaya destabilisasi pemerintahan Presiden Soekarno adalah peristiwa jatuhnya pesawat pengebom B-26 Invader yang dipiloti oleh agen CIA, Allen Lawrence Pope.
Berbeda dengan intervensi melalui jalur diplomatik atau pendanaan rahasia, “Operasi Haik” yang dijalankan CIA di Indonesia melibatkan pengiriman alat utama sistem persenjataan (alutsista) berat dan personel terlatih.
Pada tahun 1958, Amerika Serikat merasa terancam dengan kecondongan politik Soekarno yang dianggap semakin dekat dengan blok komunis dan pengaruh PKI yang kian menguat.
Pemerintah AS kemudian memberikan dukungan penuh kepada pemberontakan PRRI/Permesta di Sumatera dan Sulawesi. Namun, keterlibatan mereka tidak berhenti pada pengiriman senjata; mereka mengirimkan “tentara bayaran” yang sebenarnya adalah personel terlatih dengan perlindungan penuh dari intelijen Amerika.
Tertembak Jatuh di Langit Ambon
Puncak dari operasi militer langsung ini terjadi pada 18 Mei 1958. Allen Pope, seorang pilot kawakan yang pernah terbang di Perang Korea, menjalankan misi pengeboman di atas perairan Ambon. Dengan pesawat B-26, ia menyerang kapal-kapal milik pemerintah Indonesia dan fasilitas sipil.
Nahas bagi Pope, taktiknya terbaca. Kapal perang RI Sawega dan meriam antipesawat pasukan darat berhasil menghantam pesawatnya. Pope mencoba melompat keluar, namun parasutnya tersangkut di ekor pesawat yang mengakibatkan kakinya patah saat mendarat. Ia ditangkap oleh pasukan TNI dalam kondisi luka parah.
Penangkapan Pope menjadi tamparan keras bagi diplomasi Washington. Pasalnya, ditemukan dokumen-dokumen yang membuktikan ia bagian dari jaringan operasi militer yang terorganisir.
Implikasi Geopolitik dan Diplomasi “Pesawat Jet”
Presiden Soekarno menggunakan penangkapan Pope sebagai kartu as dalam negosiasi internasional. Washington, yang awalnya membantah keterlibatan mereka, akhirnya terpaksa melunak untuk membebaskan pilotnya.
Sebagai imbalan atas pengampunan dan pemulangan Pope pada tahun 1962, Amerika Serikat “membayar” dengan memberikan bantuan ekonomi, komitmen untuk mendukung klaim Indonesia atas Irian Barat, hingga penjualan pesawat angkut C-130 Hercules pertama untuk TNI AU.












