Kabar5News – Aktivitas influenza mulai menunjukkan peningkatan di sejumlah negara Asia. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kenaikan aktivitas virus terjadi di beberapa wilayah dengan pola yang berbeda, sehingga pemantauan terhadap penyakit pernapasan tetap diperlukan.
Berdasarkan pemantauan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada pekan ke-37 2026 yang berakhir 13 September, aktivitas influenza meningkat di sejumlah negara di Asia Tenggara. WHO juga mencatat adanya kenaikan aktivitas di beberapa negara Asia Barat, Selatan, dan Timur.
Namun, peningkatan tersebut tidak berarti seluruh negara Asia mengalami kondisi yang sama. Tingkat aktivitas influenza berbeda-beda antarwilayah dan dapat berubah mengikuti pola penularan, musim, serta hasil pemantauan masing-masing negara.
Influenza A Masih Banyak Ditemukan
Dalam laporan WHO tersebut, virus influenza A menjadi jenis yang paling banyak terdeteksi secara global pada periode tersebut. Di beberapa wilayah Asia, subtipe yang dominan juga berbeda.
WHO mencatat influenza A(H1N1)pdm09 menjadi virus yang dominan di Asia Selatan, Asia Tenggara, dan beberapa wilayah Asia lainnya. Sementara itu, A(H3N2) lebih banyak ditemukan di Asia Timur.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas influenza di kawasan Asia tidak berlangsung dengan pola yang sepenuhnya seragam. Pemantauan laboratorium tetap diperlukan untuk mengetahui virus yang sedang beredar di masing-masing wilayah.
Mengapa Aktivitas Flu Perlu Dipantau?
Influenza merupakan penyakit pernapasan yang dapat mengalami peningkatan aktivitas secara musiman. Karena itu, pemantauan tidak hanya melihat jumlah kasus, tetapi juga mencakup hasil pemeriksaan laboratorium dan pola penyebaran virus.
WHO melalui sistem Global Influenza Surveillance and Response System (GISRS) melakukan pemantauan influenza bersama negara-negara anggotanya. Sistem tersebut membantu mengumpulkan informasi mengenai virus influenza yang beredar dan perubahan aktivitasnya.
Data tersebut juga penting untuk membantu negara mempersiapkan langkah pencegahan dan respons apabila terjadi perubahan pola aktivitas influenza.
Tidak Semua Kenaikan Berarti Wabah Besar
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah membedakan antara peningkatan aktivitas influenza dengan kondisi wabah yang lebih luas. Laporan WHO pada pekan ke-37 menunjukkan adanya kenaikan di sejumlah wilayah, tetapi secara global deteksi influenza masih berada pada tingkat yang relatif rendah.
Artinya, peningkatan aktivitas di beberapa negara perlu dipantau, tetapi tidak secara otomatis menunjukkan bahwa seluruh kawasan Asia sedang mengalami lonjakan besar.
Di Taiwan, misalnya, lebih dari 130.000 kunjungan rawat jalan dan instalasi gawat darurat terkait influenza tercatat pada pekan terakhir September. Otoritas kesehatan setempat memperkirakan aktivitas tersebut mulai mereda pada pertengahan Oktober, meski tetap mengingatkan adanya peningkatan aktivitas flu di sejumlah negara tetangga.
Kewaspadaan Tetap Penting
Dengan aktivitas influenza yang mulai meningkat di sejumlah wilayah, masyarakat tetap perlu memperhatikan kondisi kesehatan, terutama ketika mengalami gejala penyakit pernapasan. Upaya pencegahan seperti menjaga kebersihan tangan, menerapkan etika batuk dan bersin, serta menghindari kontak dekat ketika sedang sakit dapat membantu mengurangi risiko penularan.
WHO juga terus mendorong negara untuk melakukan pemantauan terpadu terhadap influenza dan virus pernapasan lainnya. Data yang diperoleh dari surveilans menjadi bagian penting dalam menentukan respons kesehatan masyarakat sesuai kondisi masing-masing wilayah.
Dengan demikian, peningkatan aktivitas influenza di sejumlah negara Asia lebih tepat dilihat sebagai sinyal untuk meningkatkan pemantauan dan kewaspadaan, bukan sebagai indikasi bahwa seluruh kawasan sedang menghadapi situasi yang sama.











