Kabar5News – Menggunakan media sosial mungkin akan terasa berbeda bagi remaja. Meta, perusahaan yang menaungi Facebook dan Instagram, tengah menyiapkan sejumlah aturan baru yang membuat aktivitas pengguna di bawah umur menjadi lebih terbatas.
Menariknya, perubahan ini bukan hanya mengenai durasi penggunaan. Meta juga mulai mengatur waktu akses, notifikasi, hingga konten yang muncul di layar pengguna.
Kebijakan tersebut merupakan bagian dari kesepakatan Meta dengan sejumlah jaksa agung negara bagian di Amerika Serikat dalam upaya memperkuat perlindungan anak dan remaja di platform media sosial.
“Jam Malam” Berlaku Tengah Malam hingga Pagi
Salah satu aturan yang paling menarik perhatian adalah penerapan Night Mode.
Melalui fitur ini, akun remaja akan dibatasi penggunaannya mulai pukul 00.00 hingga 06.00. Selama periode tersebut, mereka tidak dapat mengakses sejumlah fitur utama seperti Feed, Stories, Explore, dan Reels.
Jadi, istilah “jam malam” bukan sekadar membuat ponsel berhenti berbunyi karena notifikasi. Aktivitas utama di dalam aplikasi juga ikut dihentikan.
Dua Aplikasi, Satu Batas Penggunaan
Meta juga memberikan batas penggunaan harian selama dua jam untuk Facebook dan Instagram.
Yang menarik, batas tersebut tidak dihitung secara terpisah. Waktu yang digunakan di Instagram dan Facebook akan digabungkan.
Misalnya, seorang remaja menghabiskan 90 menit di Instagram. Artinya, waktu yang tersisa untuk menggunakan Facebook pada hari tersebut hanya sekitar 30 menit.
Meski demikian, batas penggunaan dapat diubah dengan persetujuan orang tua.
Saat Jam Sekolah, Notifikasi Ikut “Diam”
Perhatian Meta ternyata tidak berhenti pada penggunaan di malam hari.
Melalui School Mode, sebagian besar notifikasi akan dibungkam pada pukul 08.00 hingga 15.00. Namun, pesan langsung dan pemberitahuan yang berkaitan dengan keamanan akun tetap dapat diterima.
Langkah ini memperlihatkan bahwa Meta tidak hanya mencoba mengurangi waktu penggunaan, tetapi juga mengurangi pemicu yang membuat pengguna kembali membuka aplikasi.
Algoritma Juga Mendapat Pembatasan
Hal lain yang cukup menarik adalah perubahan terhadap sistem rekomendasi.
Remaja nantinya dapat memilih feed non-personalized. Dengan pilihan tersebut, konten yang tampil tidak sepenuhnya disusun berdasarkan aktivitas dan perilaku pengguna.
Padahal, algoritma rekomendasi selama ini menjadi salah satu bagian utama pengalaman menggunakan media sosial.
Meta juga akan menyembunyikan jumlah like dan reaksi pada unggahan secara default bagi pengguna di bawah umur.
Pengingat Muncul Setiap 15 Menit
Meta juga mencoba membuat remaja lebih sadar terhadap waktu yang mereka habiskan di platform.
Pengingat penggunaan akan muncul setiap 15 menit penggunaan terus-menerus. Peringatan tambahan diberikan ketika durasi penggunaan mencapai 60 dan 90 menit.
Dengan begitu, pengguna tidak hanya dibatasi oleh sistem, tetapi juga terus diingatkan mengenai kebiasaan penggunaan mereka.
Orang Tua Punya Peran Lebih Besar
Perubahan berikutnya berkaitan dengan pengawasan orang tua.
Meta memperkuat fitur parental supervision yang memungkinkan orang tua mengelola sejumlah pengaturan keamanan dan perlindungan pada akun anak.
Meta bahkan mengajak platform lain, termasuk TikTok dan YouTube, untuk menerapkan standar perlindungan yang serupa. Sebab, pembatasan di satu platform dinilai kurang efektif jika remaja masih dapat berpindah ke platform lainnya.
Aturan Ini Belum Otomatis Berlaku di Indonesia
Meski membawa sejumlah perubahan besar, aturan tersebut perlu dilihat dalam konteks wilayah penerapannya.
Kebijakan ini merupakan bagian dari kesepakatan Meta di Amerika Serikat, sehingga tidak otomatis berarti seluruh ketentuannya akan diterapkan dengan cara yang sama di Indonesia.
Namun, langkah Meta memberikan gambaran mengenai arah baru pengelolaan media sosial untuk pengguna remaja. Perlindungan tidak lagi sekadar menjadi fitur yang bisa dipilih, tetapi mulai ditempatkan sebagai pengaturan bawaan sejak awal.
Pada akhirnya, keberhasilan kebijakan ini akan bergantung pada seberapa efektif pembatasan tersebut diterapkan dan apakah mampu mengubah kebiasaan remaja dalam menggunakan media sosial.












