Kabar5News – Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) secara historis, hamparan hutan hujan tropis pegunungan ini merupakan salah satu benteng keanekaragaman hayati paling penting di Jawa bagian barat.
Sejak berabad-abad silam, hutan lebat yang menyelimuti puncak kedua gunung itu, yang menjadi rumah bagi berbagai satwa eksotik yang kini sebagian besar hanya bisa kita temukan dalam catatan sejarah atau literatur konservasi.
Terbaru, di awal April lalu, seekor Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas), yang merupakan predator puncak, ditemukan terkulai lemas akibat terkena jerat babi di kawasan perkebunan Gunung Mas, Puncak, Kabupaten Bogor. Lokasi penemuan ini berada di zona penyangga yang bersinggungan langsung dengan kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).
Satu fakta yang mungkin mulai terlupakan oleh generasi saat ini adalah bahwa Gunung Gede dahulu juga merupakan habitat asli bagi mamalia raksasa, Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus). Sampai-sampai ada satu titik base-camp di jalur pendakian Gunung Gede jalur Cibodas, dinamakan Kandang Badak. Dikarenakan dahulu konon di lokasi itu banyak ditemui Badak.
Meskipun badak di Gunung Gede telah lama punah, status Gede – Pangrango sebagai habitat hewan eksotik tidaklah luntur, terjeratnya seekor Macan Tutul di sekitar pemukiman warga kawasan Gunung Mas, menjadi pengingat bahwa hewan-hewan eksotis lainya masih ada dan beraktivitas di sela-sela rimbunnya hutan, meski wilayah jelajah mereka semakin berhimpit dengan aktivitas manusia.
Munculnya macan tutul di dekat area wisata dan pemukiman menunjukkan dua sisi mata uang. Di satu sisi, ini adalah sinyal positif bahwa ekosistem puncak masih mampu menyangga kehidupan predator puncak. Di sisi lain, ini adalah peringatan tentang semakin sempitnya ruang gerak satwa akibat fragmentasi hutan.
Hutan Gede – Pangrango secara alami menyediakan mangsa seperti babi hutan, kancil, dan monyet ekor panjang yang seharusnya cukup untuk menghidupi rantai makanan. Namun, ketika batas antara hutan dan pemukiman semakin kabur, interaksi antara manusia dan satwa liar menjadi tak terelakkan.
Upaya pelestarian kawasan ini kini menjadi lebih krusial dari sebelumnya. Kita tidak ingin Macan Tutul Jawa mengikuti jejak Badak Gede Pangrango yang hanya menjadi cerita pengantar tidur. Dibutuhkan edukasi bagi masyarakat sekitar tentang mitigasi konflik satwa, serta pengawasan ketat terhadap jerat-jerat liar yang sering kali dipasang untuk hewan buruan lain namun justru mencelakai satwa yang dilindungi.












