Kabar5News – Kemunculan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) seringkali dianggap sebagai ancaman dalam dunia seni.
Ibaratnya hanya berbekal teknologi AI, dalam hitungan detik sudah bisa membuat gambar, lirik, musik berkualitas tinggi. Padahal jika kita mampu berkolaborasi efektif dengan tools tersebut akan sangat membantu.
Sebagaimana diutarakan Wawan Gunawan, Dalang Wayang Ajen yang berhasil tampil di 47 negara dengan karakteristik khasnya.
“Persoalan sesungguhnya bukan terletak pada kehadiran AI itu sendiri. Tantangan terbesar justru berada pada kemampuan manusia dan komunitas budaya untuk beradaptasi dengan perubahan tanpa kehilangan identitas, nilai, dan jati dirinya,” ungkap Wawan, dikutip dari tribun pada Selasa (21/7/2026).
Mengenal Wayang Ajen yang Makin Bersinar Menembus Dunia
Wayang Ajen sangat berpengalaman dan punya jam terbang sangat tinggi dalam industri seni. Sanggar seninya berbasis di Bekasi, sudah berdikari sejak tahun 1998, lalu dikukuhkan pada tahun 2000.
Bekerja sama dengan budayawan ternama Arthur S. Nalan, kesenian wayang ini mampu bertahan hingga sukses menembus penikmat seni level internasional.
Lakon wayang sudah dipentaskan di berbagai negara seperti Yunani, Mesir, Spanyol, Prancis, India, Korea Selatan.
Bahkan panggung seni kenamaan internasional seperti Alexandria International Puppet Festival Mesir, Bucheon World Intangible Cultural Heritage Expo Korea Selatan telah menjadi saksi perjalanan wayang Ajen yang tetap eksis di tengah gempuran teknologi.
Bagi Anda yang belum memahami tentang pemberian nama Ajen, itu berasal dari bahasa Sunda ‘ngajen’ yang mengandung makna menghargai, memberi nilai sebagai simbol tradisi wayang golek.
Revolusi Teknologi Mampu Mempertahankan Eksistensi Wayang
Abad 21 menjadi tantangan tersendiri bagi eksistensi wayang. Dulu kesenian tersebut mudah sekali ditemukan, sebagai alternatif hiburan paling enak dicari seperti di lapangan maupun gedung kesenian.
Seiring berjalannya waktu pola masyarakat terus mengalami perubahan. Wayang bukan sekedar tontonan langsung yang menunggu sampai larut malam, tapi sekarang sudah bisa dinikmati melalui gawai, dapat dinikmati kapan saja dan dimana saja.
Wawan berpendapat bahwa kemampuan wayang dapat bertahan sampai sekarang karena mudah beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Sejarah peradaban telah menunjukkan bahwa setiap revolusi teknologi tidak pernah benar-benar mematikan seni. Mesin cetak tidak membunuh sastra, kamera tidak menghapus seni lukis, radio tidak menghilangkan pertunjukan musik, televisi tidak mematikan teater, dan film tidak menghapus keberadaan seni pertunjukan,” tuturnya.
Wayang sendiri telah mengalami perkembangan dari zaman ke zaman. Mulai tradisi lisan sampai naskah tertulis, penerangan blencong sampai pencahayaan modern hingga pertunjukan digital.
Wawan berpendapat bahwa yang harus dipertahankan bukan hanya bentuk pertunjukan, melainkan nilai-nilai penting didalamnya.
“Harus dijaga bukan semata-mata bentuk pertunjukan, melainkan nilai-nilai filosofis, etika, spiritualitas, kearifan lokal, dan pesan kemanusiaan yang diwariskan melalui setiap lakon, tokoh, dan dialog wayang,” jelasnya.
AI Merupakan Peluang Besar Bagi Perkembangan Seni Wayang
Kemunculan AI yang merambah di berbagai sektor, menurut Wawan bukan suatu ancaman. Tapi peluang nyata untuk menambah jangkauan budaya.
AI sangat membantu sekali terkait dokumentasi, digital, pendidikan, diplomasi budaya Indonesia sampai kancah dunia.
“AI dapat menjadi instrumen strategis untuk memperluas kreativitas, memperkuat pelestarian budaya, mempercepat proses dokumentasi dan digitalisasi,” ucapnya.
Dengan adanya AI akan mampu meningkatkan kualitas edukasi, generasi bangsa mudah mengakses budaya, membuka diplomasi budaya tingkat global.
“Teknologi hanya akan menjadi ancaman apabila manusia kehilangan orientasi nilai dan menjadikan teknologi sebagai tujuan akhir. Sebaliknya, ketika perkembangan teknologi dipandu oleh nilai-nilai budaya, etika, dan kemanusiaan, maka teknologi akan menjadi kekuatan yang memperkokoh peradaban serta memperluas manfaat budaya bagi masyarakat,” pungkasnya.












