Kabar5News – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu kebijakan prioritas Presiden Prabowo Subianto tetap dilaksanakan meskipun sekolah memasuki masa libur semester.
Kebijakan ini menimbulkan pertanyaan di masyarakat, mengingat MBG selama ini identik dengan aktivitas sekolah.
Namun, Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa keberlanjutan program justru menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas gizi masyarakat, terutama kelompok rentan.
BGN menilai masa libur sekolah bukan berarti risiko kekurangan gizi ikut berhenti.
Sebaliknya, periode liburan dinilai berpotensi meningkatkan risiko masalah gizi, terutama pada anak-anak, karena pola makan di rumah tidak selalu terkontrol seperti saat hari sekolah.
Oleh karena itu, MBG tetap dijalankan enam hari dalam sepekan meski kegiatan belajar mengajar sementara dihentikan.
Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, Khairul Hidayati, menjelaskan bahwa konsistensi menjadi prinsip utama dalam program pemenuhan gizi.
Menurutnya, asupan nutrisi tidak boleh terputus hanya karena perubahan kalender akademik. Negara berkepentingan memastikan tumbuh kembang anak tetap terjaga, termasuk selama masa liburan.
“Libur sekolah tidak boleh menjadi masa rawan bagi kesehatan dan gizi. Justru di saat seperti inilah negara harus hadir memastikan kebutuhan dasar tetap terpenuhi,” ujar Hidayati dalam keterangannya dikutip dari laman resmi BGN pada Minggu, (21/12/2025).
Alasan lain MBG tetap berjalan adalah karena program ini tidak hanya menyasar siswa sekolah.
BGN juga menetapkan kelompok penerima manfaat prioritas, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan anak usia balita, yang dikenal sebagai kelompok 3B.
Kelompok ini membutuhkan asupan gizi rutin dan terukur tanpa jeda, sehingga penghentian distribusi selama libur sekolah dinilai berisiko.
Kebijakan tersebut tertuang dalam Keputusan Kepala BGN Nomor 52.1 Tahun 2025 tentang pedoman penyelenggaraan MBG selama masa libur sekolah.
Dalam aturan itu ditegaskan bahwa distribusi bagi kelompok 3B tetap berjalan dari Senin hingga Sabtu tanpa penyesuaian jadwal.
BGN menilai perhatian terhadap kelompok 3B menjadi investasi jangka panjang untuk mencegah stunting, meningkatkan kesehatan ibu dan anak, serta menjaga kualitas generasi masa depan.
Karena itu, pelaksanaan MBG selama libur sekolah dipandang sebagai bentuk nyata komitmen negara dalam pembangunan sumber daya manusia.
Sementara itu, untuk penyaluran MBG kepada siswa, BGN memberikan fleksibilitas kepada sekolah.
Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, menyampaikan bahwa pihak sekolah diberi kewenangan menentukan mekanisme distribusi selama libur. Jika siswa tidak bersedia datang ke sekolah, BGN tidak memaksakan.
Meski demikian, satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) tetap beroperasi.
Produksi makanan akan diprioritaskan bagi kelompok 3B, sehingga dapur MBG tetap aktif meski sekolah libur.
BGN menegaskan bahwa program ini tidak mengenal istilah libur karena kebutuhan gizi bersifat harian dan berkelanjutan.
Sebagai alternatif, BGN juga menyiapkan mekanisme paket MBG bagi siswa. Paket ini berisi kombinasi makanan siap santap dan bahan pangan bergizi seperti susu, telur, roti, dan buah, yang dapat diambil secara berkala selama masa liburan.












