KABAR5NEWS – Ini dalah prosa yang ditulis oleh seorang jurnalis, tentang pengalaman pribadinya mengenal sosok konseptor gerakan mahasiswa 1998.
Sosok tersebut sangat melekat dalam ingatan dan sangat menginspirasi gerak langkahnya.
Prolog: Badai Menerjang Badai
Orang-orang memanggilnya Badai. Ia adalah salah satu sosok fenomenal di kampus yang merupakan perpaduan antara mahasiswa teladan dan sosok yang kritis dengan kehidupan sosial dan politik.
Sesuai dengan namanya, Badai merupakan aktivis mahasiswa yang ikut menumbangkan rezim orde baru pada tahun 1998 dan membawa Indonesia ke era reformasi.
Tak hanya sekadar ikut-ikutan, Badai merupakan motor penggerak aksi, yang menjadi simpul dari beberapa kampus di Jakarta dan luar Jakarta.
Karena itulah ia dikenal luas di dunia gerakan mahasiswa. Semua hormat padanya dan bahkan menjadikannya sebagai sosok panutan dalam dunia pergerakan.
Meski sudah makan asam garam di organisasi dan sudah melewati ratusan aksi di jalan, Badai tak melupakan kewajiban utamanya, yakni menempuh pendidikan di kampus.
Meski ikut menumbangkan rezim, kehidupan akademis Badai tetap cemerlang. Semua mata kuliah yang ia ambil di Fakultas Hukum mendapatkan nilai baik.
Meski begitu ada satu mata kuliah yang nilai kurang memenuhi harapan dan harus mengulang di semester berikutnya.
Namun hal itu terjadi bukan karena ia tak mampu menelan ilmu yang diberikan, melainkan karena ia terlampau kritis di dalam kelas, sehingga dosen yang mengajarnya tidak senang. Sentimen pribadi si dosen seakan menutup mata dan nuraninya akan kecerdasan Badai.
Saya pribadi mengenal Badai sejak semester pertama berkuliah. Kebetulan saya mengambil jurusan kuliah yang sama, yakni Ilmu Hukum.
Saya adalah adik kelas Badai di Fakultas Hukum dan jarak kami terpaut tiga tahun. Saya masuk kuliah tahun 1999, setahun setelah reformasi bergulir.
Saat itu atmosfer gerakan mahasiswa masih terasa kental. Dunia gerakan mahasiswa pun masih bergemuruh di tengah gejolak politik nasional yang baru saja berubah. Badai masih ada dalam pusaran itu.
Sebagai mahasiswa baru, tentunya saya membutuhkan sosok panutan di kampus. Bisa dibilang saya masih sangat buta dengan dunia kampus, terlebih di dalam aura reformasi yang masih sangat terasa. Hampir semua senior saya di kampus berbicara tentang politik.
Mereka lantang beradu argumen, meski berada di kantin. Kemana saya melihat, diskusi tentang politik dan gerakan mahasiswa ada dimana-mana.
“Kita sebagai mahasiswa harus ikut ambil bagian dalam perubahan politik di Indonesia,” ujar salah satu mahasiswa di pojok sana.
“Tujuan kita sudah tercapai, Soeharto sudah tumbang, Indonesia sudah masuk ke era reformasi, kini tugas kita adalah kembali ke kampus dan menyelesaikan pendidikan,” cetus mahasiswa lainnya.
Jujur saja, saya memiliki ketertarikan untuk mengetahui lebih jauh mengenai gerakan mahasiswa. Namun saya tidak tahu harus memulai dari mana. Perubahan politik di Indonesia dari era orde baru ke era reformasi merupakan momen besar bagi saya.
Setidaknya saya menyadari kalau ini adalah peristiwa besar yang belum tentu terjadi satu dekade sekali. Meski saat itu saya masih duduk di kelas 3 SMA, saya begitu terpukau heroisme gerakan mahasiswa dalam menumbangkan rezim, sehingga tumbuh keinginan dalam diri untuk bisa melakukan hal yang sama. Di titik inilah saya bertemu dengan Badai.
Di Bawah Naungan Badai
Suatu hari selepas kuliah, saya dan teman-teman berjalan di selasar kampus menuju kantin. Maklum, dua mata kuliah telah dilewati sejak pagi dan rasa lapar mulai terasa.
Dalam perjalanan menuju kantin saya dan teman-teman melewati ruang tata usaha. Di depannya ada sebuah bangku panjang, tempat mahasiswa menunggu giliran ketika ingin mengurus administrasi perkuliahan.
Disana saya melihat sosok ada satu sosok anak muda yang gerak-geriknya begitu membekas dalam ingatan.
Dia kerap mengenakan baju atau jaket hitam bertuliskan lambang bintang merah—sebuah simbol yang selalu dipakainya dengan penuh rasa bangga.
Di bagian belakang bajunya, tertera sebuah kalimat dari Dom Helder Camara, seorang uskup asal Brasil yang begitu ia kagumi karena nafas Teologi Pembebasan yang diusungnya:
“Ketika aku memberi makan orang miskin, mereka menyebutku santo. Namun, ketika aku bertanya mengapa mereka lapar, mereka menuduhku komunis.”
Pria itu adalah Badai. Di lingkungan kampus, saya mengenalnya sebagai sosok yang komplet: seorang konseptor, sekaligus pejuang gerakan.
Sudah sering saya mendengar cerita tentangnya dari orang-orang. Mereka menyebut Badai sebagai sosok aktivis sejati.
Ketika ikut aksi, ia berada di baris terdepan, berhadapan langsung dengan aparat. Orasinya menggelegar, membakar semangat para peserta aksi.
Mengiringi perjuangannya dalam gerakan mahasiswa, di dalam kampus Badai membidani lahirnya Buletin AKSI yang merupakan media yang menjadi wadah untuk menelurkan ide, gagasan, dan pemikiran seputar kemahasiswaan, gerakan dan juga sikap politik.
Bersama teman-temannya yang lain, badai berbagi peran secara taktis dan terorganisasi; ada yang bertugas menggalang konsolidasi di dalam kampus, dan ada pula yang membangun jejaring pergerakan di luar kampus.
Saya menyaksikan seluruh pergerakannya dari luar hingga akhirnya memutuskan untuk memantapkan diri mengikuti jejak langkahnya. Suatu ketika pada tahun 1999, kami pun berdiri dan berjuang bersama di garis barisan yang sama.
Namun, momen yang paling menggetarkan nuraniku terjadi sekitar tahun 2000. Saat itu, terjadi dua peristiwa penting tempat dia mempertaruhkan segalanya demi membela hak-hak buruh dan kaum tertindas.
Demi memperjuangkan prinsip yang diyakininya, dia bahkan tidak ragu melakukan aksi ekstrem seperti pendudukan kampus hingga menyandera dosen.
Lebih dari itu, ketika potensi konflik antarkelompok merebak, dia turut merintis lahirnya GRAM—Gerakan Mahasiswa Anti Konflik Kekerasan. Saat banyak beraktivitas di LBH, tak pernah sekalipun saya melihat wajahnya diliputi ketakutan.
Dia menjalani hari-harinya yang keras dengan ketenangan dan kepastian. Di tengah riuk-pikuk pergerakan itu, dia juga menjalin hubungan dengan seorang kekasih yang turut saya kenal dekat.
Di balik pembawaannya yang tegas namun humoris, saya menyaksikan sendiri bagaimana sifat dasarnya yang hangat selalu berusaha melindungi dan memperhatikan adik-adiknya.
Ketika dalam sebuah aksi, Badai adalah orang yang peduli dengan keselamatan adik-adik kelasnya. Ia menjadi orang pertama yang memastikan para juniornya aman dari kejaran aparat.
“Kalo chaos, lu buru-buru lari ke belakang yah, jangan maksain untuk terus ada di depan, yang penting lu aman dulu,” begitu perintahnya pada saya ketika mengikuti aksi di kawasan Menteng, pertengahan tahun 2000.
Kepergian kedua orang tuanya di usia yang masih sangat muda sama sekali tidak menyurutkan keberaniannya untuk terus melangkah. Justru sebaliknya, cobaan hidup itu menempanya tumbuh semakin militan.
Hingga pada akhirnya, tuntutan realitas membawanya pada satu keputusan penting: dia harus bekerja. Namun, pekerjaan yang ia jalani tetap bernapas sama, yaitu membela kaum yang lemah dan tersisih.
Sampai hari ini, aku menjadi saksi bahwa Badai masih berdiri kokoh dalam konsistensinya. Sekalipun kini dia telah berada dalam posisi pekerjaan yang relatif mapan, dia tidak pernah lupa akan akar pergerakannya.
Dia terus mencari kami, tetap memimpin, serta selalu menyediakan waktu dan ruang bagi kawan-kawan serta adik-adik seperjuangannya.
Di Balik Sosok Badai
Selepas kuliah, saya dan Badai sempat terpisah. Kami tenggelam dengan kesibukan masing-masing. Saya bekerja sebagai jurnalis dan Badai menekuni profesi di bidang hukum.
Kurang lebih 5 tahun kami putus komunikasi. Namun memori tentang aksi, organisasi dan gerakan mahasiswa tetap lekat dalam ingatan saya. Ingatan itu juga tak terlepas dari sosok Badai yang merupakan sahabat sekaligus mentor yang baik.
Paulo Coelho pernah berkata dalam bukunya yang berjudul The Alchemist:
“Dan, ketika kamu menginginkan sesuatu, seluruh alam semesta berkonspirasi untuk membantumu mencapainya,”
Nampaknya itulah yang terjadi pada diri saya. Memori tentang Badai yang begitu membekas, membuat saya terus kepikiran tentangnya.
Di sela-sela kesibukan, kadang muncul pertanyaan, sedang apa Badai sekarang yah? Kapan kira-kita bisa bertemu lagi dengan dia dan kawan-kawan seperjuangan lainnya?
Akhirnya, sekitar tahun 2009, lima tahun setelah saya lulus kuliah, secara tak sengaja saya bertemu dengan Badai di tempat saya bekerja.
Ternyata, salah satu atasan saya di kantor adalah teman baiknya. Mereka dulu berjuang di organisasi mahasiswa yang sama. Ketika hendak berangkat liputan, tiba-tiba saya mendengar sesorang memanggil dari arah kedai.
“Langit…!!!”
Saya yang mendengar panggilan itu, sontak bingung. Rasa-rasanya saya mengenal suara itu. Suara yang sudah cukup lama tak saya dengar.
Dan benar saja. Ketika menoleh ke arah kedai kantor, saya melihat Badai sambil tersenyum dan melambaikan tangan pada saya. Di duduh satu meja dengan atasan saya, Mas Edi.
Langsung saja saya hampiri keduanya. Tak bisa saya pungkiri, saat itu saya senang sekali bisa bertemu lagi dengan Badai.
“Lu kerja disini sekarang?” tanya Badai.
“Iya, udah setahun lebih gua kerja disini,” jawab saya.
Badai tersenyum mendengar jawaban saya.
“Titip Langit yah Ed,” ujar Badai pada Mas Edi yang duduk di depannya.
Mendengar hal itu Mas Edi tertawa ringan sebagai tanda setuju. Mungkin dia juga tak menyangka kalau saya berteman dengan Badai.
Jujur saya kaget Badai tiba-tiba menitipkan saya pada Mas Edi. Namun saya tidak mau menunjukkannya pada Badai. Satu hal yang pasti, permintaan itu merupakan wujud kepedulian Badai pada saya yang merupakan adiknya di kampus.
Di kemudian hari, komunikasi saya dan Badai mulai kembali terjalin. Beberapa kali kami bahkan kumpul kembali dengan beberapa teman seperjuangan di kampus dulu.
Pertemuan kami yang semakin intens, membuat saya baru menyadari sesuatu: bahwa ternyata ada begitu banyak rahasia yang ia simpan rapi selama masa-masa pergerakan.
Salah satu hal paling spektakuler yang baru baru ketahui adalah saat membaca sebuah buku sejarah pergerakan mahasiswa; namanya terpampang jelas di sana sebagai salah satu figur radikal.
Ketika aku menggali lebih dalam, aksi-aksi yang dilakukannya di masa lalu rupanya jauh lebih berani dari yang saya kira.
Saat peristiwa bentrokan 27 Juli maupun Sidang Istimewa, ia berdiri tegak di barisan paling depan. Ia juga membangun jejaring dan tim rahasia bernama Brigade Merah—kelompok bersosok pendiam yang sering berkelebat melancarkan aksi-aksi propaganda grafiti dan perlawanan taktis lainnya.
Dari situ aku melihat betapa banyak lapisan dalam dirinya. Di satu sisi, ia bisa tampil begitu humanis—mengelola buletin kampus, merangkul kawan-kawan, hingga mengarahkan distribusi peran di sektor musik band maupun non-band. Namun di sisi lain, ia menggenggam instrumen-instrumen radikal.
Ia menempatkan kawan-kawannya di berbagai jejaring ideologi; ada yang ditaruh di kelompok kiri, dan ada pula yang ditempatkan di lingkar anarko.
Semua itu akhirnya membuka tabir tentang betapa luas dan dalamnya strategi konsolidasi yang ia rancang.
Epilog
Kini, Badai telah mendapatkan kehidupan yang lebih tenang. Namun, jiwa pergerakannya tidak pernah benar-benar padam. Hatinya tetap memelihara keyakinan bahwa kelak pada waktunya, ia akan berada di tampuk kepemimpinan.
Dan ketika momen itu tiba, ia akan mengubah keadaan dengan cara yang paling humanis: memanusiakan manusia, serta menuntaskan cita-cita utamanya, yaitu mengikis dan menghapuskan kemiskinan dari bumi pertiwi.










