Kabar5News – Rekor jumlah penonton dalam penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 menjadi sinyal besarnya daya tarik Mandalika sebagai destinasi wisata olahraga. Namun, di balik tingginya antusiasme pengunjung, tantangan berikutnya adalah memastikan keramaian selama ajang berlangsung dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas dan berkelanjutan bagi masyarakat setempat.
MotoGP Mandalika 2026 yang berlangsung pada 9-11 Oktober mencatat total 157.875 penonton selama tiga hari penyelenggaraan. Berdasarkan data yang diberitakan sejumlah media, jumlah tersebut meningkat sekitar 12,5 persen dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya yang mencapai 140.324 penonton.
Lonjakan Penonton Membuka Peluang Ekonomi
Peningkatan jumlah pengunjung memperlihatkan besarnya minat masyarakat terhadap ajang balap motor internasional di Nusa Tenggara Barat (NTB). Jumlah penonton juga terus bertambah dari hari ke hari, mulai dari 39.510 orang pada hari pertama, meningkat menjadi 53.296 orang pada Sabtu, hingga mencapai 65.069 orang ketika balapan utama digelar pada Minggu.
Lonjakan pengunjung tersebut bukan hanya menjadi catatan bagi penyelenggara olahraga, tetapi juga membuka peluang bagi berbagai sektor usaha di sekitar kawasan Mandalika. Akomodasi, restoran, transportasi, penyedia jasa perjalanan, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berpotensi memperoleh tambahan pelanggan selama ribuan pengunjung berdatangan.
Bagi pelaku usaha lokal, ajang internasional seperti MotoGP menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk dan layanan kepada pasar yang lebih luas. Pengunjung yang datang untuk menonton balapan membutuhkan tempat menginap, makanan, transportasi, serta berbagai kebutuhan selama berada di Lombok. Aktivitas tersebut berpotensi mendorong perputaran uang di luar kawasan sirkuit.
Meski demikian, besarnya jumlah penonton tidak serta-merta menggambarkan seberapa merata manfaat ekonomi yang diterima masyarakat. Dampaknya turut ditentukan oleh kemampuan usaha lokal menangkap peluang, keterlibatan tenaga kerja setempat, serta seberapa besar belanja pengunjung terserap oleh pelaku ekonomi di daerah.
Target Ekonomi Perlu Diikuti Manfaat Nyata
Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menilai penyelenggaraan ajang olahraga internasional dapat memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah. Ia juga optimistis target perputaran uang dan dampak ekonomi MotoGP Mandalika 2026 sebesar Rp5 triliun dapat terlampaui.
Target tersebut menggambarkan besarnya potensi ekonomi yang diharapkan dari penyelenggaraan MotoGP. Namun, untuk mengetahui sejauh mana manfaatnya dirasakan masyarakat, diperlukan data yang menunjukkan realisasi transaksi, peningkatan pendapatan usaha, penyerapan tenaga kerja, serta distribusi manfaat di berbagai wilayah sekitar kawasan wisata.
Dengan demikian, keberhasilan penyelenggaraan MotoGP tidak cukup diukur melalui jumlah penonton atau besarnya target perputaran uang. Perlu pula dilihat apakah peningkatan kunjungan mampu memperluas pendapatan pelaku UMKM, menciptakan kesempatan kerja, dan mendorong pertumbuhan usaha lokal.
Keterlibatan masyarakat dalam rantai ekonomi pariwisata menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhatikan. Pelaku usaha kecil, penyedia jasa transportasi, pedagang lokal, hingga pekerja di sektor perhotelan perlu memiliki kesempatan untuk mengambil bagian dalam aktivitas ekonomi yang muncul selama acara berlangsung.
Tantangan Menjaga Dampak Setelah Balapan Berakhir
Tantangan berikutnya adalah memastikan aktivitas ekonomi tidak hanya terkonsentrasi selama akhir pekan balapan. Ketika acara berakhir dan penonton kembali ke daerah masing-masing, pelaku usaha perlu memiliki strategi untuk mempertahankan minat wisatawan.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah menghubungkan penyelenggaraan MotoGP dengan promosi destinasi wisata lain di Lombok. Pengembangan paket wisata, promosi produk lokal, serta kolaborasi antara pelaku usaha dan pengelola destinasi dapat mendorong pengunjung memperpanjang masa tinggal atau kembali berkunjung pada kesempatan berikutnya.
Dalam konteks tersebut, MotoGP dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan potensi wisata Lombok kepada pengunjung domestik maupun mancanegara. Pengalaman selama menonton balapan bisa menjadi alasan bagi wisatawan untuk kembali, terutama apabila didukung pelayanan yang baik, akses yang memadai, serta pilihan kegiatan wisata yang beragam.
Strategi tersebut penting agar manfaat acara tidak berhenti ketika rangkaian balapan selesai. Dengan promosi yang berkelanjutan, sektor pariwisata diharapkan dapat membangun hubungan jangka panjang dengan wisatawan, bukan hanya mengandalkan lonjakan kunjungan saat acara besar digelar.
Infrastruktur dan Kesiapan Daerah Ikut Menentukan
Peningkatan jumlah pengunjung juga menuntut kesiapan infrastruktur dan layanan publik. Mobilitas menuju sirkuit, pengelolaan lalu lintas, kebersihan, keamanan, dan kenyamanan wisatawan menjadi bagian penting dalam mendukung penyelenggaraan acara berskala internasional.
Pengalaman pengunjung selama berada di Mandalika dapat memengaruhi citra destinasi tersebut dalam jangka panjang. Karena itu, peningkatan kapasitas layanan perlu berjalan seiring dengan pertumbuhan jumlah wisatawan agar aktivitas pariwisata tetap nyaman bagi pengunjung sekaligus masyarakat setempat.
Koordinasi antara pemerintah daerah, pengelola kawasan, penyelenggara, pelaku pariwisata, dan masyarakat juga perlu terus diperkuat. Promosi acara sebaiknya berjalan beriringan dengan pengembangan kapasitas usaha lokal agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton dari pertumbuhan pariwisata, tetapi juga menjadi bagian dari pelaku utama yang memperoleh manfaatnya.
Selain itu, evaluasi setelah penyelenggaraan dapat menjadi dasar untuk memperbaiki pelaksanaan acara pada tahun berikutnya. Data kunjungan, pergerakan wisatawan, aktivitas usaha, dan penyerapan tenaga kerja dapat membantu mengidentifikasi sektor yang telah memperoleh manfaat sekaligus bagian yang masih membutuhkan dukungan.
Rekor Penonton Bukan Satu-satunya Ukuran Keberhasilan
Rekor 157.875 penonton pada MotoGP Mandalika 2026 merupakan capaian penting bagi perkembangan wisata olahraga Indonesia. Namun, ukuran keberhasilan dalam jangka panjang akan terlihat dari kemampuan daerah mempertahankan kunjungan wisatawan, memperluas kesempatan usaha, dan memastikan manfaat ekonomi menjangkau masyarakat sekitar.
Pekerjaan rumah setelah MotoGP Mandalika bukan sekadar mempertahankan atau melampaui rekor penonton pada tahun berikutnya. Tantangan yang lebih besar adalah menjadikan momentum tersebut sebagai penggerak ekonomi lokal yang konsisten.
Dengan perencanaan yang berkelanjutan dan keterlibatan masyarakat, MotoGP Mandalika berpeluang menjadi lebih dari sekadar ajang balap internasional. Event ini dapat menjadi salah satu penggerak pariwisata dan ekonomi daerah, dengan manfaat yang tetap terasa ketika suara mesin balap telah mereda dan sirkuit kembali sepi.












