Kabar5News – Di Kabupaten Toraja, Sulawesi Selatan ada sebuah tradisi yang setiap pelaksanaannya selalu mengingatkan kita pada arti keluarga dan penghormatan kepada leluhur. Tradisi itu adalah Ma’nene, sebuah adat yang masih dijalankan oleh masyarakat Toraja sebagai bagian dari kehidupan mereka.
Ma’nene bukan sekadar kegiatan membersihkan jenazah. Di dalamnya ada cerita tentang keluarga yang tetap menjaga hubungan dengan orang-orang yang telah lebih dahulu meninggal dunia. Ketika tradisi ini dilaksanakan, keluarga kembali berkumpul, mengingat orang yang mereka cintai, dan merawat leluhur dengan penuh penghormatan.
Salah satu bagian yang paling dikenal dari Ma’nene adalah prosesi mengeluarkan jenazah dari makam, membersihkannya, kemudian mengganti pakaian atau kain yang dikenakan. Setelah itu, jenazah kembali ditempatkan di makam. Bagi masyarakat Toraja, kegiatan tersebut merupakan bagian dari penghormatan kepada leluhur dan cara untuk menjaga hubungan kekeluargaan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Tradisi ini umumnya dilaksanakan pada bulan Agustus hingga awal September, meskipun waktu pelaksanaannya dapat berbeda-beda sesuai dengan kesepakatan adat masing-masing keluarga atau wilayah. Karena itu, Ma’nene tidak hanya menjadi kegiatan tahunan, tetapi juga menjadi momen penting ketika keluarga kembali berkumpul dan menjalankan adat yang telah diwariskan oleh para pendahulu mereka.
Di tengah perkembangan zaman, Ma’nene tetap menjadi bagian dari identitas masyarakat Toraja. Tradisi ini memperlihatkan bahwa kebudayaan bukan hanya sesuatu yang disimpan dalam cerita, tetapi juga sesuatu yang terus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Dari prosesi membersihkan jenazah hingga mengganti pakaian leluhur, setiap tahapan memiliki makna penghormatan dan kebersamaan yang kuat.
Dikutip dari akun Facebook Pemerintah Kabupaten Toraja Utara, disebutkan bahwa pelaksanaan Ma’nene tahun ini juga mendapat perhatian melalui kehadiran Ketua Umum PMTI sekaligus Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn.) Yulius Selvanus. Ia hadir serta menyaksikan langsung ritual adat tersebut pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Yulius menghadiri pelaksanaan Ma’nene di Kecamatan Rindingallo, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, dengan didampingi langsung oleh Bupati Toraja Utara, Frederik Victor Palimbong.
Kehadirannya menjadi bagian penting dari perhatian terhadap tradisi adat yang masih hidup di tengah masyarakat Toraja. Ma’nene sendiri tetap menjadi ruang bagi keluarga untuk berkumpul, merawat leluhur, dan menjaga nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Pada akhirnya, Ma’nene mengajarkan bahwa hubungan keluarga tidak cukup berhenti ketika seseorang meninggal dunia. Melalui tradisi ini, masyarakat Toraja terus menjaga ingatan, penghormatan, dan ikatan kekeluargaan yang menjadi bagian penting dari tiap kehidupan mereka.
Tak berhenti disitu, tradisi ini juga menarik perhatian tamu dari mancanegara serta wisatawan domestik yang dapat mengikuti prosesi Ma’nene sebagai pengunjung untuk melihat dan menyaksikan secara langsung daripada pelaksanaan adat tersebut.
Pada akhirnya, Ma’nene bukan sekadar tentang merawat jenazah saja, tetapi juga tentang merawat ingatan, menjaga keluarga, serta melestarikan kebudayaan di Toraja.
Artikel ini ditulis oleh Lilis Tina Kanan
Mahasiswa S1 Hukum Universitas Jayabaya. Kader Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Seorang Penulis Artikel










