Kabar5News – Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Perairan Selat Sunda membuat kewaspadaan di wilayah sekitar pesisir maupun perairan Banten kembali diperketat. Tak hanya berdampak pada kualitas udara serta aktivitas di darat, abu vulkanik juga menjadi perhatian penting bagi masyarakat yang beraktivitas di laut.
Situasi tersebut pun mendorong TNI AL melalui Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Banten melakukan pantauan serta imbauan kepada warga di kawasan pesisir hingga perairan Banten pada Senin (7/9).
Melansir dari indonesiadefense.com, personel Lanal Banten bergerak menyisir kawasan, mulai dari pesisir Merak hingga perairan Banten setelah abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai menjangkau area pelabuhan dan jalur pelayaran.
Di daerah kawasan pesisir, prajurit turut membagikan masker pada warga serta memberika imbauan langsung pada masyarakat yang beraktivitas di kisaran Pelabuhan Merak. Penggunaan masker dan alat pelindung wajah menjadi salah satu langkah komprehensif yang di tekankan untuk meminimalisir paparan abu vulkanik.
Pemantauan pun turut dilakukan melalui jalur laut. Personel Pos Angkatan Laut (Posal) menggunakan kapal patroli guna menyisir perairan Banten. Dalam kegiatan tersebut, petugas juga menemukan sejumlah perahu nelayan yang bergerak mendekati zona bahaya, yang mana kemudian diberikan peringatan agar dapat segera menjauh dari zona bahaya tersebut.
Langkah ini dilakukan bukan semata-mata untuk menghentikan aktivitas nelayan secara masif, melainkan untuk memastikan agar kapal-kapal tersebut tidak memasuki wilayah yang berpotensi membahayakan.
Komandan Lanal Banten Letkol Laut (P) Wawan Subagyo Mardani menegaskan keselamatan masyarakat dan nelayan menjadi prioritas selama aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih berlangsung.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, namun tidak mengabaikan kewaspadaan,” Ujarnya.
Wawan juga meminta masyarakat menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan, mengurangi kegiatan yang tidak diperlukan di luar rumah, serta mengikuti informasi dan imbauan resmi dari pihak berwenang.
Personel Posal di wilayah terdampak juga terus disiagakan untuk memastikan tidak ada perahu nelayan yang melewati batas aman di laut.
Penyisiran di perairan Banten dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan sebaran abu vulkanik. Berdasarkan pemantauan citra satelit BMKG yang dikutip Indonesia Defense, abu telah terdeteksi melingkupi sejumlah wilayah, termasuk Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.
Sebaran abu tersebut juga berdampak pada aktivitas penerbangan. Kondisi ruang udara yang terdampak abu vulkanik menyebabkan sejumlah bandara sempat ditutup sementara, termasuk Bandara Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma.
Sementara itu, Badan Geologi pada 7 September 2026 masih menetapkan status Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga. Masyarakat dan pengunjung dilarang melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung api.
Badan Geologi juga mengimbau masyarakat yang terdampak abu vulkanik untuk mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar. Untuk masyarakat pesisir Banten dan Lampung, pemerintah mengingatkan agar tetap tenang dan mengikuti arahan BPBD setempat.
Dengan kondisi tersebut, penyisiran yang dilakukan TNI AL menjadi bagian dari upaya memastikan aktivitas masyarakat di laut tetap berada dalam koridor keselamatan.
Di tengah aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih dipantau, kewaspadaan menjadi hal penting, terutama bagi nelayan yang setiap hari beraktivitas di perairan Selat Sunda.












