Kabar5News – Kepergian Mbah Leginah tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga dan orang-orang terdekat. Sosok nenek asal Blora, Jawa Tengah, itu juga membuat banyak warganet merasa kehilangan setelah selama ini mengenalnya melalui berbagai konten di media sosial.
Mbah Leginah meninggal dunia pada Sabtu (3/10/2026) dalam usia 85 tahun. Namanya dikenal luas setelah kerap muncul dalam konten bersama Refido, tetangganya yang sudah dianggap seperti cucu sendiri.
Kehadiran Mbah Leginah dalam berbagai video kemudian membuat sosoknya semakin dikenal. Warganet bahkan memiliki sebutan tersendiri, yakni “cucu online”, untuk menggambarkan kedekatan mereka dengan Mbah Leginah meski tidak memiliki hubungan keluarga secara langsung.
Dari Keseharian Menjadi Konten
Berbeda dengan banyak konten media sosial yang dibuat dengan konsep tertentu, kebersamaan Mbah Leginah dan Refido justru banyak memperlihatkan keseharian secara spontan.
Refido mulai membuat konten bersama Mbah Leginah sejak September 2025. Interaksi keduanya yang sederhana, mulai dari percakapan hingga tingkah lucu Mbah Leginah, kemudian menarik perhatian pengguna media sosial.
Kesederhanaan tersebut menjadi salah satu hal yang membuat konten Mbah Leginah terasa dekat dengan penonton. Tidak ada jarak yang terlalu besar antara sosok yang tampil di layar dengan kehidupan sehari-hari yang diperlihatkan.
Jejak Digital yang Berubah Menjadi Kenangan
Media sosial pada awalnya menjadi tempat untuk membagikan berbagai momen keseharian. Namun, ketika seseorang yang sering muncul di dalamnya telah meninggal dunia, kumpulan video tersebut dapat berubah menjadi dokumentasi kenangan.
Hal itu juga terjadi pada Mbah Leginah. Video-video yang sebelumnya menjadi hiburan bagi warganet kini memiliki makna berbeda. Percakapan, candaan, dan kebersamaannya bersama Refido menjadi rekaman yang dapat kembali dilihat oleh orang-orang yang merasa pernah mengenal sosoknya.
Bahkan, sebelum meninggal dunia, Mbah Leginah masih sempat membuat konten bersama Refido pada Jumat (2/10/2026). Momen tersebut kemudian menjadi salah satu rekaman terakhir kebersamaan mereka.
Kedekatan yang Terbentuk dari Layar
Fenomena Mbah Leginah juga memperlihatkan bagaimana media sosial dapat menciptakan bentuk kedekatan yang sebelumnya sulit dibayangkan. Seseorang dapat merasa akrab dengan figur yang tidak pernah ditemui secara langsung karena terus menyaksikan kehidupan dan karakter orang tersebut melalui layar.
Dalam konteks ini, muncul istilah hubungan parasosial, yaitu kedekatan emosional yang terbentuk antara seseorang dengan figur yang dikenal melalui media. Pada Mbah Leginah, sosoknya bahkan dapat mengingatkan sebagian warganet pada figur nenek dalam keluarga mereka sendiri.
Karena itu, kabar kepergiannya tidak hanya dipandang sebagai berita tentang meninggalnya seorang figur yang sempat viral. Bagi sebagian warganet, kabar tersebut juga terasa seperti kehilangan sosok yang selama ini hadir secara rutin dalam kehidupan digital mereka.
Cucu Online dan Kenangan yang Tersisa
Sebutan “cucu online” menjadi gambaran bagaimana sosok Mbah Leginah telah membentuk komunitas kecil di dunia maya. Orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal dipertemukan oleh pengalaman yang sama, yakni mengikuti dan menikmati konten Mbah Leginah.
Setelah kabar duka beredar, karangan bunga dari para “cucu online” turut berdatangan ke rumah duka. Beberapa di antaranya bahkan disebut berasal dari luar negeri.
Hal tersebut menunjukkan bahwa jejak digital tidak selalu berhenti ketika sebuah konten selesai ditonton. Bagi Mbah Leginah, video-video sederhana yang dibuat selama hidupnya justru menjadi bagian dari kenangan yang terus tersimpan dan dapat diakses kembali.
Pada akhirnya, kisah Mbah Leginah menunjukkan sisi lain dari kehidupan di era media sosial. Konten yang awalnya dibuat untuk berbagi keseharian dan menghibur penonton dapat berkembang menjadi sebuah ikatan emosional.
Mbah Leginah mungkin tidak mengenal satu per satu orang yang menyebut dirinya sebagai “cucu online”. Namun, melalui layar, ia telah meninggalkan kesan yang cukup kuat bagi banyak orang. Setelah kepergiannya, jejak digital berupa video dan kenangan tersebut menjadi salah satu cara bagi para pengikutnya untuk terus mengenang sosoknya.












