Kabar5News – Tentara Nasional Indonesia (TNI) memperingati hari jadinya yang ke-81 pada 5 Oktober 2026. Peringatan ini tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang perjalanan panjang TNI, tetapi juga menandai perkembangan organisasi pertahanan Indonesia yang terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman.
Sejarah TNI tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Indonesia setelah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Di tengah situasi negara yang baru berdiri dan masih menghadapi berbagai ancaman, kebutuhan untuk membentuk kekuatan yang mampu menjaga keamanan dan mempertahankan kemerdekaan menjadi semakin penting.
Pada 22 Agustus 1945, pemerintah membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR). Organisasi tersebut menjadi salah satu cikal bakal terbentuknya kekuatan bersenjata Indonesia. Tidak lama kemudian, tepat pada 5 Oktober 1945, BKR diubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Tanggal perubahan tersebut kemudian diperingati sebagai hari lahir TNI.
Dalam perjalanan berikutnya, TKR mengalami perubahan nama menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI). Penyatuan berbagai kekuatan bersenjata juga terus dilakukan untuk membangun organisasi militer yang lebih terkoordinasi.
Pada 3 Juni 1947, Presiden Soekarno secara resmi menyatukan TRI dengan berbagai laskar perjuangan ke dalam satu organisasi tentara bernama Tentara Nasional Indonesia (TNI). Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kekuatan pertahanan yang berada dalam satu kesatuan komando.
Perubahan struktur kembali terjadi setelah terbentuknya Republik Indonesia Serikat. Pada akhir 1949, TNI menjadi bagian dari Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS). Setelah Indonesia kembali menjadi negara kesatuan pada 1950, APRIS kemudian berubah menjadi Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI).
Memasuki 1962, TNI bersama Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dilebur dalam satu wadah bernama Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Struktur tersebut bertahan selama beberapa dekade hingga memasuki era Reformasi.
Setelah Reformasi, TNI dan Polri kembali dipisahkan sebagai dua institusi yang berdiri sendiri. TNI kemudian kembali menjalankan perannya sebagai alat pertahanan negara, sementara Polri menjalankan fungsi keamanan dan penegakan hukum.
Perjalanan panjang tersebut terus berlanjut hingga peringatan HUT ke-81 TNI pada 5 Oktober 2026. Pada momentum tersebut, Presiden Prabowo Subianto meresmikan sejumlah satuan baru TNI dalam upacara yang digelar di Lapangan Prima Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur.
Sebanyak 204 satuan baru di lingkungan TNI diresmikan dalam agenda tersebut. Pembentukan satuan baru ini mencakup berbagai unsur di TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, dan TNI Angkatan Udara.
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI menyampaikan bahwa salah satu agenda dalam upacara tersebut adalah pelantikan dan pengukuhan satuan baru.
“Salah satu agenda dalam Upacara Parade adalah pelantikan dan pengukuhan satuan baru. Dari TNI AD terdiri atas 6 Kodam,” ujar Kapuspen TNI.
Enam Kodam baru tersebut menambah struktur komando kewilayahan TNI Angkatan Darat di sejumlah daerah. Adapun keenam Kodam yang diresmikan terdiri atas:
- Kodam XXV/Sultan Mahmud Riayat Syah – Kepulauan Riau.
- Kodam XXVI/Mataram – Daerah Istimewa Yogyakarta.
- Kodam XXVII/Sobe Sonbai – Nusa Tenggara Timur.
- Kodam XXVIII/Moloku Kie Raha – Maluku Utara.
- Kodam XXIX/Mambruk – Papua Tengah.
- Kodam XXX/Rinambora – Nusa Tenggara Barat.
Selain penambahan enam Kodam, pengembangan organisasi TNI juga mencakup pembentukan 30 Brigade Infanteri Teritorial Pembangunan dan 150 Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan. Terdapat pula tiga Batalyon Bantuan Tempur TNI AD serta sejumlah satuan baru di lingkungan TNI Angkatan Laut dan TNI Angkatan Udara.
Penambahan satuan tersebut menjadi bagian dari perkembangan struktur organisasi TNI dalam menghadapi kebutuhan pertahanan yang semakin kompleks. Dengan wilayah Indonesia yang luas dan memiliki karakter geografis yang beragam, penguatan struktur kewilayahan menjadi salah satu bagian dari upaya membangun kesiapsiagaan pertahanan di berbagai daerah.
Jika ditarik dari sejarahnya, perjalanan TNI selama 81 tahun menunjukkan perubahan yang cukup panjang, mulai dari pembentukan organisasi keamanan setelah kemerdekaan, penyatuan berbagai kekuatan perjuangan, perubahan struktur pada masa Republik Indonesia Serikat, hingga penataan kembali organisasi setelah Reformasi.
Peringatan HUT ke-81 TNI pun menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan tersebut sekaligus perkembangan organisasi TNI saat ini. Dari sebuah kekuatan yang lahir dalam situasi perjuangan mempertahankan kemerdekaan, TNI kini terus melakukan penyesuaian struktur dan satuan sebagai bagian dari sistem pertahanan negara.












