Kabar5News – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan langkah tegas pemerintah dalam mempercepat transisi energi nasional dengan menghentikan operasional Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) secara bertahap.
Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor Bahan Bakar Minyak (BBM), yang saat ini masih mencapai sekitar 1 juta barel per hari. Dari angka tersebut, sekitar 20 persen di antaranya berasal dari kebutuhan pembangkit diesel.
Dalam pernyataannya, Presiden menegaskan bahwa penggunaan energi berbasis BBM, khususnya pada sektor pembangkit listrik, tidak lagi menjadi prioritas ke depan.
“Nanti tidak boleh ada lagi pembangkit listrik menggunakan diesel, menggunakan solar. Tidak,” tegas Prabowo saat peresmian pabrik bus listrik di Magelang, Jawa Tengah.
Sebagai langkah konkret, pemerintah menargetkan penutupan 13 unit PLTD milik PLN. Dengan kebijakan tersebut, Indonesia diproyeksikan mampu menghemat hingga 200 ribu barel minyak per hari atau setara dengan 20 persen dari total impor BBM nasional.
Sebagai pengganti, pemerintah akan mengakselerasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas hingga 100 Giga Watt (GW) dalam dua tahun ke depan. Program ini menjadi bagian dari agenda besar elektrifikasi nasional yang telah diputuskan pemerintah.
“Dengan itu, kita akan tutup Pembangkit Listrik Tenaga Diesel 13 buah yang di PLN akan kita tutup,” ujar Prabowo.
Ia optimistis, melalui kombinasi penghentian PLTD dan pembangunan energi terbarukan, Indonesia dapat mencapai kemandirian energi dalam waktu relatif singkat.
“Kita masih perlu impor 1 juta barel sehari. Dengan kita tutup PLTD, kita langsung menghemat 20 persen… mungkin kita dua-tiga tahun lagi tidak perlu impor BBM sama sekali,” tambahnya.
Selain sektor pembangkit listrik, pemerintah juga mempercepat program konversi kendaraan berbasis BBM ke kendaraan listrik, serta mendorong penggunaan kompor listrik di masyarakat guna menekan konsumsi energi fosil.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Brian Yuliarto, mengungkapkan bahwa perguruan tinggi turut dilibatkan dalam mendukung percepatan transisi energi, khususnya melalui riset dan pengembangan teknologi panel surya.
“Kami diminta mendukung percepatan solar cell, terutama untuk menggantikan pembangkit yang masih bergantung pada diesel,” jelas Brian.
Ia juga menekankan bahwa tingginya harga BBM impor menjadi beban besar bagi keuangan negara, sehingga langkah transisi ke energi bersih dinilai sebagai solusi strategis jangka panjang.
“Sehingga ketergantungan kita terhadap impor dan fluktuasi harga bisa dikurangi,” ujarnya.
Lebih lanjut, pemerintah juga mendorong percepatan penggunaan kompor listrik guna mengurangi ketergantungan terhadap LPG bersubsidi, yang selama ini turut membebani anggaran negara.
Melalui langkah ini, pemerintah menegaskan komitmennya dalam membangun sistem energi nasional yang lebih mandiri, efisien, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia di masa depan.












