Kabar5News – Ancaman nonkonvensional seperti Chemical, Biological, Radiological, and Nuclear (CBRN) menuntut kesiapsiagaan yang tidak hanya bersandar pada teori. Karena itu, Detasemen Nuklir, Biologi dan Kimia (Denzi Nubika) Pusziad TNI AD berkolaborasi dengan Universitas Pertahanan (Unhan) RI untuk memperkuat kompetensi sumber daya manusia pertahanan.
Kolaborasi tersebut ditandai dengan kegiatan studi ekskursi Fakultas Teknik dan Teknologi Pertahanan (FTTP) Unhan RI ke Markas Denzi Nubika di Parung, Bogor, Jawa Barat. Kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk melihat langsung penerapan pengetahuan pertahanan dalam kondisi nyata.
Rombongan mahasiswa Unhan RI disambut oleh Wakil Komandan Denzi Nubika, Kapten Czi Muhammad Faisal Fadilah. Kegiatan dibuka oleh Wakil Dekan II Bidang Keuangan dan Umum FTTP Unhan RI, Brigadir Jenderal TNI Ranon Sugiman.
Dalam kesempatan tersebut, Ranon menekankan pentingnya mengintegrasikan pengetahuan akademik dengan penerapan teknis di lapangan. Pesan tersebut menegaskan bahwa kesiapsiagaan menghadapi ancaman nonkonvensional membutuhkan pemahaman teori sekaligus keterampilan praktis.
“Pengetahuan akademik perlu diintegrasikan dengan penerapan teknis di lapangan guna meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman nonkonvensional,” demikian inti pesan Ranon dalam kegiatan tersebut.
Rangkaian kegiatan mencakup pembekalan mengenai Safety, Security, and Safeguards atau 3S. Materi ini penting karena berkaitan dengan keselamatan, pengamanan, dan pengawasan dalam penanganan risiko terkait nuklir, biologi, dan kimia.
Peserta juga memperoleh pengenalan dasar nuklir forensik melalui studi kasus radioaktif Cikande. Pendekatan berbasis studi kasus ini membantu mahasiswa memahami penerapan analisis forensik dalam konteks keamanan dan pertahanan.
Selain materi, peserta diperkenalkan langsung dengan peralatan proteksi dan dekontaminasi. Perangkat tersebut meliputi alat pelindung diri khusus Nubika, survey meter, dosimeter personal, serta sistem dekontaminasi personel dan materiil.
Pengenalan peralatan tersebut memberikan gambaran nyata mengenai cara kerja personel pertahanan ketika menghadapi potensi paparan bahan kimia, biologis, radiologis, atau nuklir. Pemahaman teknis seperti ini menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan CBRN.
Kegiatan ini memperkuat sinergi antara dunia pendidikan akademik dan praktik pertahanan. Mahasiswa tidak hanya memperoleh materi di ruang kelas, tetapi juga diperkenalkan pada kebutuhan dan tantangan nyata di lapangan.
Melalui kolaborasi tersebut, Unhan RI berupaya mencetak sumber daya manusia pertahanan yang profesional, adaptif, dan mampu berkontribusi terhadap penguatan teknologi pertahanan nasional.
Dengan demikian, kerja sama Denzi Nubika TNI AD dan Unhan RI menunjukkan bahwa penguatan kesiapsiagaan menghadapi ancaman nonkonvensional memerlukan pendekatan terpadu: pengetahuan akademik, keterampilan teknis, dan pengalaman lapangan yang saling melengkapi.










