Kabar5News – Tren childfree di kalangan anak muda makin menjamur akhir-akhir ini, bukan sekedar fomo tapi terselip makna tertentu yang belum dipahami banyak orang.
Bagi mereka yang awam, tentu saja keputusan childfree terkesan aneh tabu, bahkan harus dibenarkan secara sosial.
Budaya populer sudah lama menghubungkan kebahagiaan, kedewasaan, serta kepuasan hidup dengan berperan aktif sebagai orang tua.
Bahkan pembahasan terkait childfree merebak di media sosial. Seringkali mereka yang mempunyai menghakimi yang tidak memiliki anak.
Sementara itu, psikolog dan ilmuwan sosial menyatakan kalau realitasnya lebih rumit dari pendapat orang tentang childfree.
Berbagai penelitian mengungkapkan bahwa banyak pasangan sah memutuskan untuk tidak memiliki anak bukan karena egois, kurang peduli atau tidak bahagia.
Namun, hal tersebut telah diputuskan matang serta setara dengan nilai pribadi, visi, hingga prioritas.
Pendapat Pakar Terkait Childfree
Melansir dari Economic Time pada (3/6/2026), banyak orang punya anggapan bahwa memiliki anak merupakan jalan utama mencapai kebahagiaan.
Padahal, ilmu psikologi mengungkapkan banyak gambaran yang kompleks terkait permasalahan ini.
Berdasarkan tinjauan pada tahun 2022 oleh Brittany Stahnke, Amy Blackstone, Morgan E.Cooley dalam family journal yang menyatakan bahwa tidak ada bukti konsisten yang bisa mengungkapkan tidak punya anak akan menurunkan kepuasan seseorang.
Sementara itu, studi tahun 2022 oleh Zachary P. Neal dan Jennifer Watling Neal berjudul “Prevalence, age of decision, and interpersonal warmth judgements of childfree adults”, mengungkapkan bahwa banyak wanita memutuskan childfree mulai usia 20-an tahun hingga 39 tahun.
Sedangkan para psikolog yang telah mempelajari teori penentuan nasib sendiri, dikembangkan oleh Richard Ryan dan Edward Deci, menyatakan bahwa kesejahteraan psikologis seseorang terletak pada level paling tinggi ketika berani membuat pilihan hidup sesuai dengan nilai mendalam yang mereka yakini, bukan tekanan eksternal maupun ekspektasi sosial.
Dengan demikian, seseorang telah memutuskan menjadi orang tua karena memang merefleksikan tujuan hidup yang bersangkutan terasa memuaskan.
Begitu juga, saat seseorang memutuskan untuk tidak menjadi orang tua, sebab gaya hidup lain lebih cocok dengan nilai-nilai pribadinya juga bisa mendukung kesejahteraan psikologis dalam jangka panjang.
Keputusan mempunyai anak atau tidak menurut beberapa penelitian tersebut bukan tolak ukur utama menjadikan orang bisa hidup bahagia.










