Kabar5News – Momen Hari Raya Idul Fitri belum lengkap tanpa hadirnya ketupat sebagai hidangan utama yang disantap bersama opor ayam, sambal goreng kentang dan sajian khas lebaran lainnya.
Ketupat sendiri menjadi bagian tradisi perayaan lebaran di Indonesia, sehingga tidak bisa dipisahkan. Sebenarnya apa makna ketupat? Bagaimana asal usulnya?
Artikel ini akan menjelaskan singkat perihal seluk beluk ketupat yang selalu hadir dalam momen Hari Raya Idul Fitri.
Apa Itu Ketupat?
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ketupat merupakan makanan berbahan dasar beras, lalu dimasukkan dalam anyaman pucuk daun kelapa, bentuknya berupa kantong segi empat.
Selanjutnya direbus lalu dimakan sebagai pengganti nasi bersama pelengkap lainnya seperti lauk maupun sayur khas lebaran.
Makna Tersembunyi Ketupat
Melansir informasi dari laman detik, Ketupat atau Kupat asalnya dari bahasa Jawa berupa ngaku lepat yang berarti mengakui kesalahan.
Sehingga ketupat sejatinya sebagai simbol umat Muslim yang ikhlas mengakui kesalahan, saling memaafkan dan melupakan kesalahan ketika momen Idul Fitri.
Selain itu, kupat juga termasuk laku papat atau empat laku yang direfleksikan dalam sisi-sisi ketupat berupa lebaran, luberan, leburan, laburan.
Asal Usul Tradisi Makan Ketupat
Merangkum informasi dari berbagai sumber, tradisi makan ketupat ketika lebaran sebenarnya berakar dari dakwah Islam di Tanah Jawa yang dilakukan Sunan Kalijaga pada abad ke-15 hingga 16.
Dengan kata lain, ketupat merupakan simbol akulturasi budaya lokal dengan Islam, yang bermakna ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan laku papat (empat tindakan) untuk memaafkan serta kembali suci.
Sementara itu, ada beberapa poin penting terkait asal usul tradisi makan ketupat saat lebaran antara lain:
• Media Dakwah Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga memperkenalkan ketupat sebagai simbol perayaan hari raya Islam di masyarakat pesisir utara Jawa, yang kemudian menjadi populer pada masa Kerajaan Demak.
• Filosofi Ngaku Lepat
Dalam bahasa Jawa, kupat diartikan sebagai ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan laku papat (empat tindakan) yang merujuk pada Lebaran, Luberan (berbagi), Leburan (maaf), dan Laburan (kesucian).
• Makna Janur Kuning
Janur berasal dari bahasa Arab Ja’a Nur (telah datang cahaya), sementara anyaman yang rumit menggambarkan kesalahan manusia yang rumit, kemudian disucikan.
• Tradisi Bakda Kupat
Selain pada hari H lebaran, masyarakat Jawa tradisional sering merayakan “Lebaran Ketupat” atau bakda kupat seminggu setelah Idul Fitri (setelah puasa syawal).
• Akulturasi Budaya
Ketupat sebelumnya merupakan simbol pemujaan Dewi Sri (dewi padi) dalam tradisi Jawa sebelum Islam, yang kemudian diadaptasi menjadi budaya syukur dalam Islam.











