Kabar5News – Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Tahun 2026 ini, sembari merefleksikan mendalam atas warisan pemikiran Ki Hadjar Dewantara, Hardiknas mengusung tantangan yang jauh berbeda dibanding dekade sebelumnya, yaitu gempuran teknologi digital dan transisi menuju masyarakat berbasis AI.
Akar Sejarah dan Filosofi “Ing Ngarsa Sung Tulada”
Penetapan Hardiknas merujuk pada hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara, tokoh pelopor pendidikan bagi kaum pribumi di zaman kolonial Belanda. Filosofi beliau yang paling termasyhur, Ing Ngarsa Sung Tulada (Di depan memberi teladan), Ing Madya Mangun Karsa (Di tengah membangun kemauan), dan Tut Wuri Handayani (Di belakang memberi dorongan), tetap menjadi kompas moral bagi para pendidik.
Filosofi-filosofi tersebut menekankan bahwa guru bukan sekadar “mesin pentransfer ilmu”, melainkan pamong yang menuntun kodrat anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Memasuki tahun 2026, wajah ruang kelas kita telah berubah total. Literasi bukan lagi soal mengeja huruf, melainkan kemampuan memfilter informasi di tengah banjir disinformasi. Kurikulum Merdeka yang telah berjalan beberapa tahun terakhir terus diuji efektivitasnya dalam membentuk karakter siswa yang tangguh.
Salah satu isu krusial saat ini adalah adaptasi terhadap Generative AI. Di satu sisi, teknologi ini membantu akses informasi yang demokratis; di sisi lain, ada kekhawatiran akan lunturnya integritas akademik dan daya kritis siswa.
Maka pada Hardiknas kali ini mestinya menjadi pengingat bahwa teknologi hanyalah alat. Inti dari pendidikan tetaplah interaksi manusiawi dan pengembangan empati yang tidak bisa digantikan oleh algoritma secerdas apa pun.
Menuju Pemerataan Kualitas
Meski digitalisasi masif terjadi, kita tidak boleh menutup mata pada ketimpangan akses. Pendidikan di kota besar tentu berbeda dengan di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal).
Hari Pendidikan Nasional juga harus menjadi momentum bagi aparatur pemerintah terkait dan semua yang berkepentingan untuk berkomitmen lebih kuat pada pemerataan infrastruktur digital dan peningkatan kesejahteraan guru di pelosok negeri.
Tanpa guru yang sejahtera dan terlatih, kurikulum secanggih apa pun tidak akan membuahkan hasil maksimal. Investasi pada guru adalah investasi pada masa depan bangsa.
Belajar adalah proses seumur hidup (long-life learning). Merdeka Belajar bukan berarti bebas tanpa arah, melainkan kemandirian untuk terus belajar dan berinovasi. Setiap anak Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Sebab, di tangan generasi yang terdidiklah, visi Indonesia Emas bukan sekadar mimpi.











