Kabar5news
Senin,11 Mei , 2026
  • Login
  • BERANDA
  • NASIONAL
  • EKONOMI
  • GAYA HIDUP
  • OLAHRAGA
  • HIBURAN
  • IPTEK
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NASIONAL
  • EKONOMI
  • GAYA HIDUP
  • OLAHRAGA
  • HIBURAN
  • IPTEK
No Result
View All Result
Kabar5news
No Result
View All Result
Home GAYA HIDUP

Angin Sebelum Badai

Sebuah kisah kasih tak sampai yang menggugah nurani dan hasrat sepasang anak manusia

Redaksi by Redaksi
11 Mei 2026
in GAYA HIDUP
0
Angin Sebelum Badai

Ilustrasi Pere dan Angin (Foto: Microsoft Copilot)

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatappShare on Line

Sebuah Prosa Sastra Karya Taufan Hunneman

BAGIAN I

RELATED POSTS

8 Khasiat Wedang Uwuh untuk Kesehatan yang Kaya Rempah dalam Satu Sajian

7 Jenis Sapi Termahal di Indonesia, Punya Maia Estianty Salah Satunya?

Angin datang membawa cinta untuknya.

Kehadiran Angin telah mengobati luka mendalam Pere.

Kepadanya, cinta dan harapan itu menyatu.

Pere berharap kelak Angin menjadi ayah dari anaknya sekaligus suami yang mampu melindungi dirinya.

Kisah pilu keluarga Pere dimulai dari kenaikan pangkat ayahnya, dari golongan IV menjadi golongan III.

Sekaligus berpindah posisi dari jabatan administrasi ke jabatan yang sarat dengan penerimaan daerah.

Culture shock membuat ayah Pere, Djaja, berubah watak dan penampilan. Perlahan, ia meninggalkan perempuan yang selalu berjuang, hadir, bahkan menutup kekurangan ekonomi keluarga. Ibu Putri, demikian para tetangga memanggilnya, adalah putri seorang bangsawan dari Kuningan, Jawa Barat.

Namun sejak lama ia tak lagi bergantung pada kekayaan, kemasyhuran, maupun keluarga besarnya, Adipati Kuningan, yang turun-temurun menjadi bupati di wilayah Kramatmulya, Jalaksana, Cigugur, Cigandamekar, dan Cilimus.

Keluarga yang masih terikat garis Arya Kemuning, sekaligus anak angkat dan murid Sunan Gunung Djati, selalu mengedepankan nilai luhur nusantara: toleransi dan tepa selira. Karena itu, masyarakat Sunda Wiwitan bisa terus hidup dan dilindungi di daerah Cigugur.

Putri, ibunda Pere, adalah perempuan anggun, intelektual, dan berwibawa. Ia menerima cinta Djaja yang berasal dari kalangan biasa. Sejak muda, ia gigih, pekerja keras, dan tulus membentuk keluarga.

Kelahiran anak pertama, si kembar Pere dan Pria, serta anak ketiga dengan jarak dua tahun, menambah keceriaan keluarga ini.

Hidup sederhana: makan tak pernah kurang meski hanya menu sederhana, tamasya sebulan sekali, mencerminkan keluarga PNS. Ditambah Ibu Putri yang bekerja di swasta, perlahan mereka memiliki mobil dan rumah kecil tempat saling menyayangi.

Pere sebagai kembar pertama sangat dekat dengan Pria, yang selalu mengekor kakaknya. Namun kenaikan pangkat, jabatan basah, dan uang yang mulai banyak mengubah Djaja. Wataknya makin arogan, bahkan membuka pintu bagi perempuan lain yang lebih muda.

Kebahagiaan rumah itu berubah menjadi prahara. Setahun penuh, makian, bentakan, dan teriakan mewarnai kehidupan keluarga.

Pere masih kelas 1 SMP, begitu juga Pria alias Arya Anjas Kemuning. Pria selalu takut setiap kali ada teriakan, ia lari kepada kakaknya atau Putri Kemuning Rembulan.

Ibu Putri tegar, selalu melindungi Arya Satrio Kemuning atau Den Bagus yang masih duduk di kelas 5 SD. Setiap kali dimaki, diteriaki, atau dihina, ia tak melawan. Ia tak pernah mengungkit biaya sekolah Djaja yang dulu hanya lulusan SMA hingga menjadi sarjana.

Pere melihat ketegaran ibunya dan selalu memeluknya. Sering kali Ibu Putri berkata: “Lelaki akan cepat berubah ketika memiliki uang, jabatan, dan tahta. Karena itu, kau harus pandai melihat kedalaman hati setiap pria.”

Saat SMA kelas 3, Pere bertanya: “Apakah Ibu menyesal menikahi Djaja?” Ibu menjawab, “Ibu tak pernah menyesal menikahi Djaja. Namun Ibu menyesal tak berjumpa lebih awal dengan Aditya, ayah sambungmu kini.”

Aditya, pria sederhana yang hidup dari bengkel motor, selalu tersenyum dan sangat menyayangi adik Pere.

Pere dan Pria tinggal bersama Djaja, yang merebut mereka paksa saat kelas 3 SMP. Saat itu, Ibu Putri kehilangan pekerjaan karena stres, mentalnya hancur, dan berhari-hari tak bisa tidur. Ia terluka teramat dalam, namun tetap membawa Bagas si bungsu sebagai teman dalam sepi.

Pere dan Pria sering mencuri waktu untuk pergi ke rumah ibu dan ayah sambungnya. Ayah sambung mereka, dengan mobil tuanya, rela menjemput 500 meter dari rumah Djaja.

Pere bahagia, meski sering menangis.

Ia selalu bertanya, “Apakah Ibu bahagia dengan Om Aditya?”

Ibu menjawab, “Sangat bahagia, Pere. Dengan rumah kecil ini, mobil tua yang sering batuk, namun ayah sambungmu pandai memperbaiki mobil.”

Pere berkata, “Aku senang mendengar Ibu bahagia. Aku juga bahagia kalau di rumah Ibu. Bolehkah aku tinggal di sini saat kuliah?”

BAGIAN II

Rumah ini selalu tersedia untukmu, Pere.

Ayah sambungmu menyayangimu.

Mereka berpelukan, diikuti oleh Pria yang selalu mengekor Pere.

Ayah Pere, Djaja, menikahi seorang perempuan muda, penghuni setia mal. Namun demi jabatan, ia harus menyesuaikan diri dengan pakaian agama dan mengubah tutur katanya agar terlihat sebagai istri pejabat.

Pakaian, tas, sepatu, hingga konde menjadi simbol status. Apalagi saat acara kantor atau pernikahan, semua ibu pejabat berlomba-lomba tampil terbaik dalam busana dan basa-basi kata. Pere melihat semua itu sebagai kemunafikan hidup.

Buku harian adalah satu-satunya tempat curahan hatinya

“Aku butuh pangeran yang menjemputku dalam kemalanganku. Biarlah aku pasrah, dia membawaku, dia mulia. Aku memanggil diriku princess, dan aku menanti prince.”

BAGIAN III

Pere adalah anak pandai.

Mungkin mengalir darah kuat dari para leluhurnya, Arya Kemuning, murid sekaligus putra angkat Sunan Gunung Djati.

Ia berhasil masuk universitas nomor satu di negeri ini. Tidak main-main, fakultas komunikasi yang ia pilih.

Pere berjanji akan menyelesaikan kuliah dalam empat tahun, lalu bekerja, dan bertekad menempuh pendidikan setinggi langit.

Lulus, wisuda, dan tak butuh waktu lama ia bekerja di perusahaan milik anak-anak pejabat yang baru pulang dari Amerika Serikat. Mereka bermimpi menjadi konglomerat.

Pada saat rapat direksi, Pere mulai dilibatkan. Ia hadir dalam rapat BOD bahkan BOC.

Dalam rapat itu, ada agenda membahas posisi Angin berikut remunerasinya yang dianggap masih kecil, padahal kontribusi dan perjuangan Angin dalam mendirikan perusahaan sudah menghasilkan omzet puluhan miliar.

Tergelitik hati Pere: Siapakah pria ini? Aku tak pernah bertemu, bahkan melihat pun tidak.

Ia bertanya pada staf admin kantor, Lia dan Desi. “Oh, kok ingin kenal ya? Hihihi, sama dong,” ujar Lia.

“Dia kalau datang pagi bersamaan dengan OB, masuk ruangan. Kalau pulang malam, juga bersamaan dengan OB.

Ruangannya selalu tertutup. Dia bawa bekal makan siang, lebih banyak di luar kantor karena jaringannya luas. Tapi dia penyendiri,” tambah Lia dan Desi bersahut-sahutan.

Angin berselisih usia sepuluh tahun dengan Pere.

Hidupnya hancur oleh kematian kekasihnya, tragedi yang menikam takdir mereka. Ia patah dan urung memulai kembali.

Menurut beberapa orang, ia membunuh hasratnya sendiri.

Sepi yang ia pilih, terlalu dalam cintanya.

Pere menyimak semua cerita itu, lalu segera pergi ke toilet untuk menangis. Ia begitu sedih mendengar tragedi yang mirip dengan luka masa remajanya.

Pere terus mencari tahu tentang Angin. Ternyata ia tinggal tak jauh dari rumahnya.

Angin sudah kenyang dengan pengkhianatan. Dikhianati banyak orang di sekelilingnya, kecuali kekasihnya yang selalu setia. Dalam derita sakitnya, Angin tetap mendampingi kekasih yang ia cintai sejak kuliah.

Semasa pergolakan era 1998, kekasihnya, Raden Ayu, selalu mencari kabar tentang keberadaan Angin. Dekat dengan ibu dan kakak perempuannya, mereka selalu mencemaskan Angin.

Lanny Warsito, anak dari sahabat ayahnya, Hans Snijders (Menado–Belanda), adalah bagian dari kisah itu.

Persahabatan mereka terjalin semasa operasi Merdeka dan Sapta Marga di Menado serta DI/TII.

Ikatan itu semakin kuat karena Hans muda menempuh pendidikan komando di Kalijati bersama Warsito.

Atas dorongan Warsito, Hans menanggalkan status warga Eropa dan menerima penuh kewarganegaraan Indonesia.

Ia tidak menganti namanya. Hans tetap mempertahankan nama aslinya, namun menamai anak-anaknya dengan nama-nama lokal yang jauh lebih membumi, demikian juga Angin

Hubungan Angin dan Lanny adalah kisah cinta sejoli era 90-an.

Mereka menonton perayaan 17-an bersama, menikmati hiburan malam di panggung rakyat, hingga mengendarai motor menuju kampus.

Angin dan Lanny hanya terpaut satu tahun, sama-sama anak kampus kuning.

Cinta mereka bersemi sejak SMA. Bagi orang lain itu cinta monyet, tapi tidak bagi Lanny yang lebih dulu menyayangi Angin.

Dari kenakalan Angin hingga sekolah yang berantakan, Lanny sabar menjalaninya. Hingga SMA kelas 3, mereka memperkuat tali kasihnya.

BAGIAN IV

Air mata menetes mendengar kisahnya. Pere iba, sekaligus ingin seperti Lanny yang hadir untuk Angin.

Kegelisahan sejak mengetahui itu, entah karena iba atau cinta, membuat Pere tak lagi peduli.

“Des, berapa nomor telepon ruangan Pak Angin?”

“Buat apa? Awas loh, dia itu dekat sekali dengan bos-bos kita, apalagi kesayangan Pak Amir.”

“Enggak, aku hanya ingin mengingatkan makan siang.”

“Jangan macam-macam ya, Pere,” ujar Desi.

Kringgg… Kringgg… “Halo,” ujar Pere

“Ya,” jawab Angin di ujung telepon.

“Pak, tidak makan siang? Di depan ada nasi Padang Tambo Cie, enak. Mau nitip kah?”

“Boleh. Aku pesan ayam bakar dan rendang. Nanti uang aku titip pada Lia.”

“Gampang, nanti saja kalau sudah ready.”

Pere bersemangat pergi ke warung Tambo Cie dekat gedung KPK Kuningan.

Jaraknya lumayan dari kantor Menara Imperium, tapi semua ia lakukan hanya untuk menyapa Angin, meski antrean makan siang luar biasa panjang.

“Tok… Tok… Tok..,” Pere mengetuk pintu ruangan Angin.

Lama tak ada suara.

Tok… Tok… (Diam… tak ada jawaban)

Tak lama kemudian pintu dibuka.

“Hey, makasih. Semua berapa? Sini masuk.”

Pere lalu masuk dan menaruh nasi ayam serta rendang.

Decak kagum muncul melihat meja Angin. Bukan karena berantakan, melainkan penuh catatan politik, analisa, serta strategi perusahaan.

Tumpukan buku menarik perhatian Pere. Salah satunya berjudul tentang pergundikan di era kolonial.

Pere memberanikan diri bertanya, “Kisah tentang siapa buku itu?” sambil menunjuk ke arah judul.

Angin tersenyum. “Kau ingin mengetahuinya?”

“Iya, sekilas ini tentang nasib perempuan di zaman kolonial.”

“Benar. Perempuan Indonesia dimanipulasi kolonialis sebagai pemuas seks tanpa status jelas. Tapi tidak semua begitu bejat. Ada seorang pemuda, kisahnya tidak ada di buku ini, melainkan kisah buyutku, Snijders, yang menikahi gadis Kakaskasen Minahasa dengan status jelas. Ia bangga sekali dengan keputusan buyutnya.”

Pere mendengarkan dengan serius hingga lupa waktu. Jam makan siang lewat, dan ia terjebak di ruangan Angin.

Pertemuan pertama itu memberi kesan mendalam bagi Pere.

Ia menceritakan semuanya pada Ibu Putri.

“Hahahaha, kamu jatuh cinta padanya. Sudah dewasa kamu ya.”

“Ih, Ibu… aku malu.”

BAGIAN V

Dua tahun kemudian, pada Minggu sore, Pere singgah di rumah Angin. Dari luar, rumah itu tertata rapi.

Namun di dalam, khususnya kamarnya, berantakan: buku berserakan, VCD film-film dengan genre yang satu selera dengan Pere — kisah kemanusiaan seperti Schindler’s List, The Boy in the Striped Pyjamas, Life is Beautiful, hingga kisah tentang kejahatan rezim apartheid di Afrika Selatan.

Mereka menghabiskan malam minggu dengan menonton. Angin anti VCD bajakan, semua koleksinya original.

Film yang paling sering mereka ulang adalah August Rush (2007), drama musikal tentang anak panti asuhan yang melantunkan nada demi bertemu ayah dan ibunya.

Pere selalu menangis setiap kali menonton.

Angin meledek, “Hahaha, sudah dua kali bahkan berkali-kali kita ulang film ini, kau selalu menangis. Tidak bagiku. Aku cukup sekali menangis, lalu pergi meninggalkan tragedi. Aku menjauh, mencari sepi, menyimpan hari-hariku rapat agar mentari tak menyinari dan mengingatkan semua.”

Pere menyadari itulah sebab ruangan Angin selalu tertutup, rumahnya jarang terbuka pintu, jendela, bahkan gordinnya. Tiba-tiba Pere memeluknya, dan Angin memeluknya kembali. Persahabatan mereka berubah menjadi ketakutan akan kepergian masing-masing.

Pere berbisik, “Aku akan selalu abadi untukmu. Sekalipun jasadku mati, rohku akan kulepas untuk pergi mencarimu.”

Angin mulai bicara jelas dan tenang, “Baiknya kita mulai pelan-pelan. Aku khawatir jika terlalu cepat, aku akan hancur kembali.”

BAGIAN IV

Mereka sering berangkat ke kantor bersama, pulang dan pergi. Bahkan saat Pere kuliah S2, dengan setia Angin menjemput dan menunggunya.

Waktu berjalan bagai perlombaan. Tak terasa, empat tahun sudah mereka bersama, tanpa sedikit pun ucapan cinta keluar dari mulut Angin.

Hingga pada suatu hari, malam ulang tahun Angin tiba.

Pere berbohong kepada keluarga ayahnya, Djaja, dengan alasan ingin menginap di rumah ibunya, Bu Putri.

Padahal ia bekerja sama dengan Suryadi dan kekasihnya, Irene, untuk memberikan kejutan.

Angin kadang ditemani di rumah oleh dua anak komplek, Bernie dan Uwak alias Bendoet. Kali ini, Bernie juga ikut bekerja sama.

Tepat pukul 00.00, pintu kamar diketuk.

“Angin… Angin… Tok tok tok.”

Dengan sedikit kesal, Angin membuka pintu. “Ada apa sih, ini kan malam.”

Saat pintu terbuka, terdengar seruan, “Selamat ulang tahun kami ucapkan!”

Wajah Angin memerah. Ia melihat Pere, dan seketika teringat pada Lanny, persis saat usianya 17 tahun, ketika Lanny memberinya hadiah ulang tahun berupa jam tangan Casio hasil tabungan panjang.

Kini, sebuah kotak hitam diberikan kepadanya. “Buka… buka…”

Di dalamnya, jam tangan G-Shock. Angin terdiam. Kejutan sungguh kejutan. Pere dipeluknya erat. “Wow… wow…”

“Sudah, bawa ini kue tartnya,” ujar Angin sambil mengusir Suryadi, Irene, dan Bernie.

Bernie tidak menginap karena rumahnya berbeda jalan dan ia malas tinggal bersama kakaknya.

Pintu ditutup. Pere melanjutkan pelukan. “Selamat ulang tahun, sayang.”

Angin mengecup bibir Pere.

“I love you. Jangan tinggalkan aku. Izinkan takdir kita untuk bersama.”

Malam itu, Pere melepaskan semua yang ia jaga selama ini, karena yakin Angin adalah orang yang tepat.

Hingga pagi, mereka tertawa, bercanda, dan Angin mulai merasakan ada hasrat yang kembali hidup.

BAGIAN VII

Sejak hari itu, rumah Angin terbuka. Rapi, bahkan hidup.

Tanaman mulai ditanam, dan semua itu karena Pere.

Enam tahun sudah mereka menjalin cinta.

Hubungan fisik menjadi candu di antara mereka, mengisi ruang yang dulu hilang.

Pere begitu berhasrat, demikian juga Angin.

Dingin, kering, monoton, dan sepi dialog yang dulu mewarnai hidup Angin kini berganti.

Sepi tanpa kemesraan, tanpa eros, berubah menjadi dominasi eros yang membakar.

Angin melihat Pere sekadar urusan ranjang. Demikian juga Pere, yang menemukan ekspresi kemerdekaan seksual dalam dirinya.

Mereka hanyut dalam arus itu, hingga enggan membicarakan rumah tangga, pernikahan, dan anak.

BAGIAN VIII

Akhir pekan, dua, tiga, bahkan lima kali mereka memasu kasih. Pere dan Angin mulai saling cemburu.

Kadang Pere mempermainkan psikologis Angin untuk memancing amarahnya, dan anehnya, Pere justru menyukai itu.

Demikian juga Angin, yang sering kali memberi senyum pada sekretaris atau seorang single mom dengan satu anak, seolah mencari celah.

Perkelahian mereka kadang merembet ke kantor. Bahkan Pere pernah melabrak Angin di siang hari, tepat saat jam kerja.

“Dari pagi tidak kelihatan. Ke mana saja? Bahkan kita tidak berangkat bareng. Kamu check-in dengan siapa?”

Demikian juga saat rapat direksi, Pere menanyakan posisi Angin. Jawaban yang lama dan bertele-tele membuat Angin marah.

BAGIAN IX

Akhirnya Pere memutuskan pindah kerja, sebab kinerjanya menurun dan ia hanya fokus pada Angin.

Kepindahan Pere ke kantor lain membuat konflik yang terbawa ke kantor mereda.

Hingga suatu hari, Pere tahu ada penggantinya: seorang perempuan langsing berlesung pipi bernama Navita, dipanggil Vita.

Vita ditempatkan sebagai personal assistant yang melekat pada divisi Angin.

Karena usahanya berkembang, perusahaan membentuk divisi legal dan HC, dan Angin diposisikan sebagai manajer dengan kenaikan gaji serta fasilitas lainnya.

Namun psikologis keduanya tetap terganggu. Angin cemburu pada direksi muda yang sering menelepon Pere di hari Sabtu, saat ia bersama Angin.

Demikian juga Pere, yang melihat Angin semakin dekat dengan Navita.

Hingga suatu ketika mereka bertengkar hebat, dan Pere berteriak meminta putus.

Angin memohon, berjanji akan memperbaiki, tetapi kali ini Pere berkata tegas: “Tidak.”

Lima hari berlalu. Sebulan. Pere mencoba menghubungi Angin, namun senyap.

Telepon rumahnya tak ada yang mengangkat. Pere bergegas ke rumah Angin, hanya mendapati seorang ponakannya, Gorgi, yang memberikan satu surat kepadanya.

Isi surat itu:

Sayangku, Kita telah memulai dari kasih sayang serta kebencian kita atas penindasan. Tapi aku salah, membiarkan hasrat dan nafsu menggantikan kasih sayang kita.

Aku dulu telah mati. Kamu datang membawa hidup. Aku selalu merindukan engkau di sisiku sebagai istri, ibu bagi anak-anak kita. Tapi kita menikmati keliaran kita, hingga tiada lagi kata-kata, hanya ada nafsu birahi.

Sayangku, Kita pernah bahagia. Itu yang selalu kukenang.

Maafkan aku. Aku berusaha memberitahumu, tetapi aku tak kuasa. Aku pergi ke Suriah mewakili perusahaan, sedang merintis satu usaha remitansi yang dikembangkan di empat kota: Jeddah, Jordan, Dubai, dan Damaskus.

Jika empat bulan lagi aku kembali, kita akan memperbaiki hubungan kita. Aku tak pernah mengkhianatimu, sekalipun hanya dalam pikiranku. Sebab aku ingin adil, dan aku tak pernah mau ada pengkhianatan semu dalam benakku.

BAGIAN X

Surat itu membuat Pere menangis. Ia kembali meyakinkan dirinya bahwa Angin adalah pilihan terbaik.

Surat itu kemudian diperlihatkan kepada ibunya. Dengan suara bergetar, Pere berkata:

“Ibu, nanti kalau Angin pulang dari Timur Tengah, aku ingin dia menikahiku. Ibu… aku sayang sekali sama Angin.”

Bu Putri menatap anaknya dengan penuh kasih. Senyum tipis muncul di wajahnya, seolah memahami betapa dalam perasaan Pere.

BAGIAN XI

Maret 2011.

Gejolak di Suriah dimulai tepat pada 6 Maret 2011, ketika 15 pelajar berusia 9–15 tahun di kota Daraa ditangkap dan disiksa karena aksi grafiti anti-pemerintah.

Dari peristiwa itu, demonstrasi besar terus terjadi. Puncaknya, pada Juli 2011 terjadi kekerasan, diikuti pembelotan militer yang membentuk Free Syrian Army. Tahun 2012, perang saudara pun pecah.

KBRI Damaskus terus mengevakuasi WNI. Sayang sekali, Angin tertangkap aparat pemerintahan Bashar al-Assad.

Partner bisnis kantornya ternyata simpatisan pemberontak, pengusaha yang pro Free Syrian Army. Celakanya, Angin ikut terlibat sebagai pemasok senjata di Suriah.

Tiga bulan tak berjumpa, Angin dinyatakan hilang atau tewas.

KBRI merilis kabar meninggalnya WNI di Suriah. Sebulan kemudian kabar itu tiba. Tangisan ponakannya pecah, keluarga besar berkumpul menyampaikan duka.

Pere saat itu bersama tiga sahabatnya: Tyas, Mirna, dan Rianti (yang kelak menikah dengan kembarannya, Pria).

Telepon genggam berbunyi, menyampaikan berita duka. Pere menangis, lalu menelepon ibunya.

“Ibu… Angin meninggal… di Suriah, tertembak.”

Dua bulan kemudian, sah dinyatakan Angin meninggal, sekalipun jasadnya tidak ditemukan. Kelak, jasadnya dikubur dengan cara Nasrani oleh sekte Druze di Suriah.

Selain merintis usaha sebagai orang kepercayaan bosnya, Angin juga membangun jaringan perlawanan.

Beberapa kali ia lolos dari penangkapan sebagai penyelundup rokok, namun kali ini tak ada ampun: ia ditembak karena barang selundupannya adalah senjata tajam.

Pere mengenakan pakaian hitam. Satu per satu sahabatnya menyampaikan ungkapan duka.

Peti mati itu tidak boleh dibuka, jasadnya tak boleh dilihat.

Sahabat-sahabatnya berkata, Angin adalah orang yang menemukan kembali hidupnya sejak bertemu Pere.

Ia ingin menyelesaikan tugas pekerjaannya, lalu mengundurkan diri. Ia ingin tinggal di kawasan Bandung, memiliki dan membesarkan anak, sebab ia yakin Pere adalah cinta sejatinya.

Beberapa tahun kemudian, Pere mengetahui bahwa Angin adalah seorang agen khusus yang melakukan giat samaran sebagai agen ekonomi. Namun ia terjebak oleh hasrat empatinya, sebab tak kuasa melihat penindasan di depan mata.

Pesan terakhir Angin melalui temannya: “Jika aku mati, sampaikan satu hal penting. Jangan sering ke makamku, sebab akan sulit menyalami hidup. Lanjutkan. Hapus semua ingatan tentangku. Lupakan. Menikahlah. Kau berhak bahagia.”

 

Continue Reading
Tags: prosaprosa sastrasastraTaufan Hunneman
Previous Post

8 Khasiat Wedang Uwuh untuk Kesehatan yang Kaya Rempah dalam Satu Sajian

Next Post

Mahasiswa Nyatakan Sikap! Kembali ke Demokrasi Pancasila Untuk Mengawal Indonesia yang Lebih Baik

Redaksi

Redaksi

Related Posts

8 Khasiat Wedang Uwuh untuk Kesehatan yang Kaya Rempah dalam Satu Sajian

8 Khasiat Wedang Uwuh untuk Kesehatan yang Kaya Rempah dalam Satu Sajian

by Mera Puspita Sari
11 Mei 2026
0

Kabar5News - Khasiat wedang uwuh untuk kesehatan bukan sekedar menghangatkan, akan tetapi baik menjaga imun tubuh sampai menangkal serangan penyakit...

7 Jenis Sapi Termahal di Indonesia, Punya Maia Estianty Salah Satunya?

7 Jenis Sapi Termahal di Indonesia, Punya Maia Estianty Salah Satunya?

by Mera Puspita Sari
11 Mei 2026
0

Kabar5News - Menjelang Hari Raya Idul Adha, umat Muslim umumnya mulai hunting hewan kurban terbaik. Salah satunya paling banyak dicari...

Salah Satunya Superfood Kelas Dunia, Bangun Ketahanan Pangan Sendiri dengan 10 Tanaman Ini

Salah Satunya Superfood Kelas Dunia, Bangun Ketahanan Pangan Sendiri dengan 10 Tanaman Ini

by Mera Puspita Sari
8 Mei 2026
0

Kabar5News - Kenaikan harga yang terjadi saat ini membuat siapa saja mulai memutar otak dalam membelanjakan uangnya, bahkan segala cara...

Penuh Kebersamaan dan Makna Mendalam, Begini 7 Tradisi Unik Idul Adha di Indonesia

Penuh Kebersamaan dan Makna Mendalam, Begini 7 Tradisi Unik Idul Adha di Indonesia

by Mera Puspita Sari
7 Mei 2026
0

Kabar5News - Keragaman budaya serta nilai luhur bangsa tercermin dalam perayaan Idul Adha di Indonesia. Pasalnya, salah satu momen sakral...

Daging Masuk, Lemak Minggat! 5 Minuman Wajib Setelah Santap Kurban Idul Adha 2026

Daging Masuk, Lemak Minggat! 5 Minuman Wajib Setelah Santap Kurban Idul Adha 2026

by Damayanti Rizalino
7 Mei 2026
0

Kabar5news - Dalam hitungan hari ke depan, umat Islam di seluruh dunia akan merayakan Hari Raya Idul Adha 2026 yang...

Next Post
Mahasiswa Nyatakan Sikap! Kembali ke Demokrasi Pancasila Untuk Mengawal Indonesia yang Lebih Baik

Mahasiswa Nyatakan Sikap! Kembali ke Demokrasi Pancasila Untuk Mengawal Indonesia yang Lebih Baik

5 Cara Mudah Kreator TryBuzzer Mendapat Uang Jutaan Rupiah dari Instagram Reels

5 Cara Mudah Kreator TryBuzzer Mendapat Uang Jutaan Rupiah dari Instagram Reels

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RECOMMENDED

5 Cara Mudah Kreator TryBuzzer Mendapat Uang Jutaan Rupiah dari Instagram Reels

5 Cara Mudah Kreator TryBuzzer Mendapat Uang Jutaan Rupiah dari Instagram Reels

11 Mei 2026
Mahasiswa Nyatakan Sikap! Kembali ke Demokrasi Pancasila Untuk Mengawal Indonesia yang Lebih Baik

Mahasiswa Nyatakan Sikap! Kembali ke Demokrasi Pancasila Untuk Mengawal Indonesia yang Lebih Baik

11 Mei 2026
  • 640 Followers
  • 23.9k Followers

MOST VIEWED

  • Laporan Keuangan Pupuk Indonesia Wajar dan Sesuai Standar Akuntansi Keuangan

    Laporan Keuangan Pupuk Indonesia Wajar dan Sesuai Standar Akuntansi Keuangan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lagi Tren! Begini Cara Bikin Foto Polaroid Bareng Idola Beserta Prompt-nya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apa Itu Wefluence? Disebut-sebut Bisa Menghasilkan Cuan Tak Terbatas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prompt Gemini Foto Pakai Jas Hitam dan Pegang Bunga Mawar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 20 Prompt Gemini AI Bahasa Indonesia di Bandara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabar5news

Selamat Datang di Kabar5news.id, Portal Media Online yang dikelola oleh CV GEN MUDA NUSANTARA
SK Kementerian Hukum RI No: AHU-0009239-AH.01.14 Tahun 2025. NPWP: 1091.0312.1123.9016

  • BERANDA
  • HUBUNGI KAMI
  • PRIVACY POLICY
  • REDAKSI

© 2025 Kabar5news

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NASIONAL
  • EKONOMI
  • GAYA HIDUP
  • OLAHRAGA
  • HIBURAN
  • IPTEK

© 2025 Kabar5news

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In