Kabar5News – PT Aneka Tambang Tbk (Antam) resmi mendapat persetujuan pemegang saham untuk menerima penugasan khusus dari pemerintah dalam rangka percepatan hilirisasi nikel dan pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) nasional.
Persetujuan tersebut menjadi salah satu keputusan strategis dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 yang digelar di Jakarta, Rabu (10/6/2026). Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat industrialisasi sumber daya mineral nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas tambang di dalam negeri.
Melalui penugasan tersebut, Antam akan berperan dalam pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik yang terintegrasi berbasis nikel dari hulu hingga hilir.
Pengembangan rantai industri mencakup kegiatan pertambangan, pembangunan fasilitas rotary kiln electric furnace (RKEF), rotary kiln smelting blast furnace (RKSBF), high pressure acid leach (HPAL), refinery, prekursor, katode, sel baterai, hingga fasilitas daur ulang baterai (battery recycling).
Direktur Utama Antam, Untung Budiharto, mengatakan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam memperkuat hilirisasi mineral sekaligus mendukung agenda pembangunan nasional yang berfokus pada peningkatan nilai tambah sumber daya alam.
“Sejalan dengan agenda pembangunan nasional, Antam akan terus memperkuat pengembangan bisnis berbasis hilirisasi dan integrasi rantai nilai mineral.
Melalui berbagai proyek strategis yang terintegrasi, Antam tidak hanya meningkatkan nilai tambah, tetapi juga mendukung penguatan kemandirian industri nasional serta posisi Indonesia dalam rantai pasok industri global,” ujar Untung dalam keterangan resmi perusahaan.
Menurutnya, pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik yang terintegrasi akan memberikan manfaat jangka panjang, baik bagi perusahaan maupun perekonomian nasional.
Selain meningkatkan nilai tambah mineral, proyek tersebut diharapkan mampu memperluas sumber pendapatan perusahaan, memperkuat ketahanan bisnis, serta mendorong pertumbuhan berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan.
Dalam pelaksanaannya, Antam akan bekerja sama dengan PT Industri Baterai Indonesia (IBI) dan HYD Investment Limited. Konsorsium tersebut terdiri atas Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd., EVE Energy Co., Ltd., dan PT Daaz Bara Lestari Tbk yang akan menjadi mitra strategis dalam pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi di Indonesia.
Kolaborasi tersebut dinilai menjadi langkah penting dalam mempercepat pembangunan rantai pasok industri baterai nasional yang kompetitif dan mampu mendukung posisi Indonesia sebagai salah satu pemain utama dalam industri kendaraan listrik global.
Upaya percepatan hilirisasi yang dijalankan Antam juga ditopang oleh kinerja keuangan yang solid sepanjang tahun 2025. Perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp84,64 triliun atau meningkat 22 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara laba bersih tahun berjalan mencapai Rp7,92 triliun, tumbuh 106 persen dibandingkan tahun 2024.
Capaian tersebut menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah perusahaan dan mencerminkan keberhasilan strategi bisnis yang dijalankan di tengah tantangan global, termasuk volatilitas harga komoditas dan ketidakpastian ekonomi dunia.
Untung menilai hasil tersebut menunjukkan kuatnya fundamental bisnis Antam serta efektivitas strategi yang diterapkan secara konsisten dan disiplin.
“Di tengah dinamika pasar global dan tantangan industri, Antam berhasil mencatatkan kinerja operasional dan keuangan terbaik sepanjang sejarah perseroan. Capaian tersebut mencerminkan kuatnya fundamental bisnis, efektivitas strategi yang dijalankan secara disiplin, serta komitmen seluruh insan Antam dalam mengoptimalkan potensi sumber daya mineral nasional untuk menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan,” katanya.
Dengan dukungan pemegang saham dan penugasan strategis dari pemerintah, Antam optimistis dapat mengambil peran penting dalam pengembangan industri baterai kendaraan listrik nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri energi masa depan.










