Kabar5News – PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) kembali menunjukkan kinerja yang impresif pada Triwulan I-2026. Emiten tambang pelat merah tersebut berhasil membukukan laba periode berjalan sebesar Rp3,66 triliun atau meningkat 58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp2,32 triliun.
Sejalan dengan peningkatan laba, ANTAM juga mencatat pertumbuhan Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) sebesar 55 persen menjadi Rp5,05 triliun, dari sebelumnya Rp3,26 triliun pada Triwulan I-2025.
Pencapaian tersebut tidak terlepas dari kuatnya fundamental operasional perusahaan yang ditopang oleh tiga segmen bisnis utama, yakni emas, nikel, serta bauksit dan alumina. Ketiga komoditas tersebut menjadi mesin pertumbuhan yang menjaga kinerja ANTAM tetap solid di tengah dinamika industri pertambangan global.
Direktur Utama ANTAM, Untung Budiharto, menjelaskan bahwa kinerja positif perusahaan didukung oleh strategi pemasaran yang adaptif, pengelolaan biaya yang disiplin, serta implementasi strategi operasional yang efektif.
“Implementasi strategi operasional yang tangguh serta manajemen keuangan yang disiplin dan prudent telah mendorong penguatan kinerja secara berkelanjutan, sehingga memberikan imbal hasil yang positif dan nilai tambah bagi para pemegang saham,” ujar Untung.
Emas Masih Jadi Kontributor Terbesar
Segmen emas tetap menjadi tulang punggung bisnis ANTAM dengan kontribusi sekitar 81 persen terhadap total penjualan pada Triwulan I-2026.
Penjualan emas tercatat mencapai Rp23,89 triliun, meningkat 11 persen dibandingkan Rp21,61 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Sementara volume penjualan emas mencapai 8.464 kilogram atau setara 272.124 troy ounce.
Untuk menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku, ANTAM juga menandatangani Gold Sales and Purchase Agreement (GSPA) dengan Merdeka Group pada Maret 2026. Langkah ini dinilai strategis dalam memperkuat rantai pasok emas nasional sekaligus memastikan ketersediaan bahan baku bagi industri domestik.
Nikel Jadi Penggerak Pertumbuhan Industri Hilir
Selain emas, segmen nikel turut memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan perusahaan. Pada Triwulan I-2026, penjualan feronikel dan bijih nikel mencapai Rp4,47 triliun atau sekitar 15 persen dari total penjualan, meningkat 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Produksi bijih nikel tercatat sebesar 3,88 juta wet metric ton (wmt), dengan volume penjualan mencapai 3,40 juta wmt yang seluruhnya diserap pasar domestik.
Sementara itu, produksi feronikel mencapai 3.976 ton nikel dalam feronikel (TNi), dengan volume penjualan sebesar 2.803 TNi yang seluruhnya terserap pasar ekspor.
Kinerja tersebut memperkuat posisi ANTAM sebagai salah satu pemain penting dalam rantai pasok industri hilirisasi mineral nasional, khususnya sektor kendaraan listrik dan industri berbasis nikel.
Alumina dan Bauksit Mulai Tunjukkan Potensi Besar
Segmen bauksit dan alumina juga mulai menunjukkan kontribusi yang semakin signifikan terhadap pertumbuhan perusahaan.
Pada Triwulan I-2026, segmen ini menyumbang sekitar 3 persen dari total penjualan atau senilai Rp879,14 miliar, meningkat 24 persen dibandingkan Rp708,75 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Produksi bauksit mencapai 628.785 wmt dengan volume penjualan sebesar 593.476 wmt, meningkat 9 persen dibandingkan tahun lalu.
Di sisi lain, produksi alumina atau chemical grade alumina (CGA) mencapai 49.566 ton, naik 13 persen dibandingkan Triwulan I-2025. Volume penjualannya juga meningkat 11 persen menjadi 49.072 ton.
Pertumbuhan ini didukung oleh mulai beroperasinya fasilitas Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) fase pertama yang memperkuat posisi ANTAM di rantai nilai industri aluminium nasional.
Analis Nilai Fundamental ANTAM Tetap Solid
Kinerja positif ANTAM mendapat perhatian dari sejumlah analis pasar modal. Kepala Riset Korea Investment and Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi, menilai diversifikasi bisnis menjadi salah satu keunggulan utama perusahaan.
Menurutnya, kombinasi bisnis emas, nikel, dan alumina memberikan fondasi yang kuat bagi pertumbuhan jangka panjang sekaligus menciptakan sumber pendapatan yang berkelanjutan.
Sementara itu, Senior Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai ANTAM masih memiliki posisi keuangan yang sehat dengan likuiditas yang kuat.
Ia optimistis profitabilitas perusahaan dapat terus terjaga melalui efisiensi biaya operasional dan optimalisasi volume produksi pada komoditas-komoditas utama.
Dengan dukungan tiga mesin bisnis utama tersebut, ANTAM dinilai memiliki fondasi yang kokoh untuk menjaga pertumbuhan kinerja sekaligus memanfaatkan peluang dari meningkatnya permintaan komoditas strategis di pasar domestik maupun global.










