Kabar5News – Orang tua umumnya akan menghadapi masalah klasik dalam hal menumbuhkan motivasi anak untuk rajin belajar serta mengerjakan tugas tanpa paksaan, iming-iming hadiah maupun hukuman.
Masih banyak dijumpai kebiasaan orang tua yang memberi hadiah pada anak saat mereka menurut atau berperilaku baik. Bahkan, sebaliknya hukuman siap hadir ketika anak kurang disiplin.
Skema tersebut seringkali tidak efektif untuk membangkitkan motivasi, nantinya akan ada ketergantungan. Anak akan berusaha bertindak sesuai keinginan orang tua demi mendapat hadiah serta mencegah kena hukuman.
Cara seperti itu tentu saja tidak efektif karena mengandung keterpaksaan dari si anak yang bersangkutan. Nah, seorang psikolog ternama memberikan solusi terbaik untuk permasalahan tersebut.
Pendapat Psikolog Terkait Reward dan Punishment
Banyak orang tua memberi uang saku tambahan atau hadiah, sebagai wujud penghargaan terhadap pencapaian anak. Hal itu ampuh untuk diterapkan jangka pendek, tapi tidak akan mampu bertahan dalam waktu yang lama.
Mengutip dari Parade, Psikolog Klinis yang berlisensi Dr. Iona Pal, Psy.D, mengatakan bahwa saat hadiah menjadi hal utama terhadap suatu perilaku, maka otomatis anak hilang minat terhadap aktivitas itu sendiri.
“Ketika hadiah menjadi alasan utama dibalik suatu perilaku, anak mulai fokus pada hadiahnya, bukan pada nilai dari aktivitas itu sendiri,” ungkap Iona.
Cara Ampuh Memotivasi Anak Tanpa Tergantung Hadiah atau Hukuman
Supaya anak tetap termotivasi tanpa paksaan melakukan aktivitas positif dalam kesehariannya tanpa terpaksa sama sekali. Psikolog memberikan cara terbaik untuk menumbuhkan hal tersebut.
1. Memberikan kendali pada anak
Motivasi dapat ditanamkan pada anak melalui pemberian kendali atas aktivitas yang dilakukan, tetap ada pendampingan orang tua.
Biasanya anak makin terdorong saat merasa punya kendali atas apa yang sedang dilakukan.
2. Mencari tahu sumber utama anak jadi malas
Orang tua sebaiknya mencari tahu terlebih dahulu sumber kemalasan maupun hilangnya motivasi anak. Anak yang terlihat tidak termotivasi belum tentu malas.
Kurangnya motivasi merupakan gejala permasalahan lain yang tidak terselesaikan. Anak bisa kurang semangat karena tugas sulit, terlalu mudah, bosan, takut salah, tidak percaya diri, hingga stres.
3. Memberikan pujian terhadap apapun usaha anak
Pujian atas apa yang anak usahakan dengan melalui sederet prosesnya akan lebih bermakna daripada memberlakukan pujian untuk hadiah atas pencapaian buah hati.
Psikolog Dr. Brett A. Biller, Psy.D., menilai bahwa usaha merupakan hal yang benar-benar berada dalam kendali anak.
4. Anak Selalu Dilibatkan anak dan Pembiasaan Belajar Konsekuensi
Psikolog memberi saran bahwa orang tua juga harus menjelaskan alasan terkait setiap tugas maupun aturan yang diberikan. Sehingga anak akan paham aktivitas yang dilakukan.
Saat anak merasa kesulitan jangan buru-buru membantunya. Itu akan membuatnya belajar memecahkan sendiri.
Konsekuensi alami, berupa lupa membawa jaket lalu merasa dingin, sering menjadi pelajaran bermakna dibandingkan hukuman.












