Kabar5News – Momentum HUT ke-81 Republik Indonesia menjadi bagian dari langkah baru menuju perdamaian di Papua Tengah. Komando Operasi (Koops) TNI Habema meresmikan Kampung Hitadipa di Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, sebagai Kampung Papua Damai pertama di Bumi Cenderawasih, Senin (17/8/2026).
Peresmian tersebut bukan sekadar penetapan sebuah wilayah sebagai kampung damai. Konsep yang dibangun mencakup kehidupan masyarakat yang aman, normal, bermartabat, dan sejahtera. Keamanan menjadi salah satu bagian, tetapi juga disertai upaya menjaga adat dan budaya, memastikan pelayanan dasar berjalan, membuka akses ekonomi, serta memperkuat hubungan antara masyarakat dan negara.
Kepala Penerangan Koops TNI Habema Letkol (Inf) M. Wirya Arthadiguna mengatakan Kampung Hitadipa Damai diharapkan menjadi gambaran bahwa perdamaian bukan hanya berarti tidak adanya konflik.
“Kampung Hitadipa Damai bukan sekadar wilayah yang terbebas dari konflik, melainkan kondisi kehidupan yang aman, normal, bermartabat, dan sejahtera,” kata Wirya dalam keterangan tertulis, Selasa (18/8/2026).
Menurut Wirya, kondisi tersebut diharapkan membuat masyarakat dapat menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa rasa takut. Pada saat yang sama, adat dan budaya tetap terjaga, pelayanan dasar dapat berlangsung, perekonomian lokal berkembang, serta kepercayaan antara masyarakat dan negara semakin kuat.
Dalam kerangka “Papua Jalan Damai”, Kampung Hitadipa diharapkan menjadi contoh bahwa perdamaian perlu tumbuh dari tingkat yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat. Kampung dipandang sebagai ruang bertemunya berbagai aspek, mulai dari keamanan, kesejahteraan, adat, pelayanan negara, hingga kepercayaan.
Karena itu, keberhasilan perdamaian tidak hanya diukur dari ketiadaan gangguan keamanan. Ukuran lainnya adalah kemampuan masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari secara aman, normal, dan mandiri.
Peresmian Kampung Hitadipa sebagai Kampung Papua Damai diawali dengan deklarasi dan penandatanganan komitmen. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan peresmian Jembatan Garuda, yang menjadi simbol terbukanya akses dan konektivitas bagi masyarakat di wilayah tersebut.
Jembatan Garuda tidak hanya berfungsi sebagai penghubung antarwilayah. Infrastruktur tersebut diharapkan dapat membuka akses masyarakat menuju berbagai kebutuhan penting, seperti pendidikan, pelayanan kesehatan, aktivitas ekonomi, hingga kehidupan sosial.
Dengan konektivitas yang semakin baik, masyarakat diharapkan memiliki ruang yang lebih luas untuk menjalankan aktivitas sehari-hari sekaligus mengembangkan potensi ekonomi lokal. Infrastruktur tersebut menjadi bagian dari upaya agar manfaat perdamaian dapat dirasakan secara langsung oleh warga.
Rangkaian peresmian juga diwarnai dengan pelaksanaan bakar batu, tradisi khas Papua yang menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan sekaligus menunjukkan penghormatan terhadap nilai-nilai budaya masyarakat setempat.
Tradisi tersebut juga menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antara prajurit TNI dan masyarakat. Komunikasi, kebersamaan, serta kepercayaan terus dibangun sebagai fondasi penting bagi keberlanjutan perdamaian di Hitadipa.
Tidak berhenti pada kegiatan seremonial, Koops TNI Habema juga memberikan dukungan langsung kepada masyarakat. Prajurit memborong hasil tani warga Hitadipa, memberikan pelayanan kesehatan, serta membagikan sembako.
Pembelian hasil tani menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Sementara pelayanan kesehatan dan pembagian sembako diarahkan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar warga.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa konsep Kampung Papua Damai juga menyentuh aspek kesejahteraan. Masyarakat diharapkan bukan hanya berada dalam kondisi yang lebih aman, tetapi juga memiliki kesempatan untuk berkebun, bekerja, memperoleh layanan kesehatan, menyekolahkan anak, dan mengembangkan perekonomian lokal.
Dansatgas Teritorial Koops TNI Habema Brigjen TNI Stefie Jantje Nuhujanan mengatakan, kedamaian harus dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, bukan hanya terlihat dari kondisi keamanan wilayah.
“Kampung Papua Damai adalah wujud nyata bahwa kedamaian harus dirasakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Ketika masyarakat dapat berkebun dengan tenang, anak-anak dapat belajar, pelayanan kesehatan berjalan, adat tetap terjaga, dan perekonomian masyarakat berkembang, di situlah makna kehadiran negara benar-benar dirasakan,” kata Stefie.
Peresmian Kampung Hitadipa menjadi Kampung Papua Damai pertama di Bumi Cenderawasih pada akhirnya membawa pendekatan yang lebih luas terhadap makna perdamaian. Keamanan menjadi fondasi, tetapi keberlanjutannya juga membutuhkan akses yang terbuka, pelayanan dasar, ekonomi yang bergerak, budaya yang tetap terjaga, serta hubungan yang semakin kuat antara masyarakat dan negara.
Dengan pendekatan tersebut, Hitadipa diharapkan tidak hanya menjadi kampung yang aman dari gangguan, tetapi juga menjadi tempat masyarakat dapat menjalani kehidupan secara normal, mandiri, bermartabat, dan sejahtera dalam kerangka “Papua Jalan Damai.”










