Kabar5News – Pengelolaan sampah dengan baik masih menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia yang berakibat adanya penumpukan serta timbunan di TPAS.
Berdasarkan data yang bersumber dari Sistem Informasi Pengolahan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), angka sampah nasional mencapai 31,9 juta ton pada tahun 2023.
Dari sekian jumlah tersebut sekitar 11,3 juta ton atau 35,6 persen belum mampu dikelola dengan baik. Penumpukan yang tidak mampu dikelola dengan baik berakibat fatal jika terjadi pembiaran terus-menerus.
Berbagai resiko lambat laun akan terjadi, contohnya seperti kebakaran karena gas metana hasil dari sampah organik di TPA, longsor, dan lainnya.
Contoh Daerah Terdampak Pengelolaan Sampah Yang Tidak Baik
Melansir informasi dari Antara, sudah ada wilayah terkena efek pengelolaan sampah yang tidak baik.
TPA Galuga pernah longsor pada tahun 2019 yang mengakibatkan 18 warga kehilangan lahan pertanian maupun aset mereka.
Hal tersebut karena sampah produksi rumah tangga di Kabupaten Bogor maupun Kota Bogor telah dialihkan ke TPA Galuga yang setiap hari menampung sampai 2000 ton. Bahkan sampai saat ini masih ada 15 juta ton sampah belum terolah.
Sementara itu, pada bulan Juni kebakaran besar sempat terjadi di area TPA Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten. Ratusan warga harus mengungsi serta terpapar Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA).
Kebakaran membabat habis separuh luas TPA yang disebabkan oleh akumulasi gas metana sampah organik pada tempat pembuangan karena terpantik cuaca panas.
Upaya Meminimalkan Risiko dengan Mengolah Sampah Organik
Permasalahan sampah dapat berubah sebagai bom waktu jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Belajar dari kondisi tersebut, salah satu desa di Kabupaten Bogor berupaya mengolah sampah organik dari rumah warga menjadi sesuatu lebih bermanfaat.
Masyarakat yang berada di Desa Benteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor sangat antusias mengolah sampah organik menjadi ekoenzim.
Sekitar 40 orang ibu rumah tangga di Desa Benteng mendapat pelatihan tentang ekoenzim. Didampingi Penyuluh Pertanian dari Dinas Ketahanan Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Pemkab Bogor serta pegiat ekoenzim yang berasal dari Komunitas Eco-Enzyme Nusantara Bogor Raya.
Para ibu rumah tangga di Desa Banteng membuat cairan ekoenzim, lalu disimpan di rumah masing-masing. Nantinya dipakai sebagai obat luka maupun sanitasi udara ruangan.
Cairan tersebut juga bisa dipakai sebagai sabun cuci piring, sabun cuci baju yang ditambahkan MES, biang sabun atau garam.
Apa Itu Ekoenzim?
Berdasarkan informasi dari keslan.kemkes.go.id Ekoenzim (eco-enzyme) merupakan cairan alami serbaguna yang diperoleh dari proses fermentasi maupun campuran limbah organik dapur (contohnya sisa sayuran, kulit buah), gula (gula merah atau molase), dan air.
Cairan tersebut awalnya dikembangkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong, peneliti asal Thailand, sebagai solusi ramah lingkungan dalam meminimalkan tumpukan sampah dapur yang biasanya berada di tempat pembuangan akhir.
Pembuatannya memakai proses fermentasi yang membutuhkan waktu selama 3 bulan sampai menghasilkan cairan warna coklat tua beraroma asam-manis kuat khas fermentasi.
Manfaat Ekoenzim
Cairan dari proses fermentasi ini mengandung enzim aktif, asam organik, garam mineral dengan beragam manfaat.
Mulai dari pembersih alami untuk menggantikan cairan pel lantai, sabun cuci piring, pembersih kamar mandi.
Ada juga dalam bidang pertanian untuk pupuk organik cair, pestisida alami.
Manfaat lainnya berupa sanitasi lingkungan yang bantu kurangi zat polutan pada saluran air maupun selokan dan menetralkan bau tidak sedap di sekitar sampah.
Cara Pembuatan Ekoenzim
Cairan ini bisa dibuat dengan perbandingan 3:1:10 yang rinciannya sebagai berikut:
• 3 bagian bahan organik yang meliputi sisa sayur maupun kulit buah segar (jangan dipakai jika busuk, berulat, berminyak, sudah dimasak).
•1 bagian gula terdiri dari gula merah, gula aren, molase (jangan pakai gula pasir putih).
• 10 bagian air bersih biasa.
Itulah seluk beluk ekoenzim sebagai solusi mudah dalam mengolah limbah sampah organik menjadi item yang lebih bermanfaat.











