Kabar5News – Kebakaran hutan dan lahan kembali terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Tidak hanya di Kalimantan, titik api juga muncul di Sulawesi Tengah, Jawa Timur, hingga Jawa Barat. Kondisi tersebut mendorong personel TNI Angkatan Darat (TNI AD) bersama instansi terkait dan masyarakat untuk bergerak cepat agar kobaran api tidak meluas.
Di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, misalnya, personel Kodim 1306/Kota Palu diterjunkan untuk menangani kebakaran lahan kebun milik masyarakat di Dusun II, Desa Alindau, Kecamatan Sindue. Berdasarkan keterangan Penkodim Kota Palu, Jumat (21/8), area yang terbakar diperkirakan mencapai 10 hektare.
Begitu mendapat laporan dari masyarakat, personel langsung menuju lokasi dan berupaya memblokir pergerakan api. Penanganan dipimpin Pasi Ops Kodim 1306/Kota Palu, Kapten Inf Arnold Paretta, bersama tim gabungan dan masyarakat setempat.
Upaya tersebut tidak mudah. Medan yang cukup terjal ditambah angin kencang membuat kobaran api berpotensi bergerak cepat. Namun, dengan menggunakan peralatan yang tersedia serta dukungan armada pemadam, petugas akhirnya berhasil melokalisasi api sebelum menjalar ke permukiman warga.
“Begitu menerima laporan dari masyarakat, kami langsung meluncur ke lokasi untuk memblokir pergerakan api. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 10 hektare. Medan yang cukup terjal dan angin kencang menjadi tantangan,” ujar Arnold.
Penanganan kebakaran juga berlangsung di Trenggalek, Jawa Timur. Di kawasan hutan Perum Perhutani Petak 76 B, Kelurahan Tamanan, Kecamatan Trenggalek, tim gabungan yang terdiri dari TNI-Polri, BPBD, Damkar, Perhutani, relawan, dan masyarakat bahu-membahu memadamkan api.
Kebakaran diketahui setelah warga melaporkan adanya titik api di kawasan perbukitan yang berada di atas RS Budi Asih Trenggalek. Koramil 0806-01/Trenggalek kemudian memimpin penanganan bersama unsur lainnya.
Karena lokasi berada di medan yang sulit dijangkau kendaraan, pemadaman dilakukan secara manual menggunakan metode gepyok dan ilaran. Proses tersebut berlangsung sekitar tiga jam hingga api berhasil dikendalikan.
Kebakaran di kawasan tersebut menghanguskan sekitar 3,5 hektare tanaman jati dan sengon buto. Setelah api padam, petugas kembali melakukan penyisiran di sekitar lokasi. Langkah ini dilakukan untuk memastikan tidak ada bara atau titik api yang masih tersisa dan berpotensi menimbulkan kebakaran susulan.
Sementara itu, upaya pengendalian kebakaran juga dilakukan di kawasan Kawah Wadon, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Cianjur, Jawa Barat. Personel Kodim 0608/Cianjur turun langsung bersama unsur terkait untuk mencegah kobaran api meluas ke kawasan hutan konservasi lainnya.
Penanganan di kawasan TNGGP menjadi perhatian tersendiri karena wilayah tersebut merupakan kawasan konservasi yang memiliki ekosistem serta keanekaragaman hayati yang perlu dilindungi. Karena itu, selain memadamkan api, petugas juga terus melakukan langkah siaga untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya titik api baru.
Penkodim Cianjur pun mengingatkan masyarakat dan para pendaki agar lebih berhati-hati ketika melakukan aktivitas di kawasan hutan.
“Imbauan untuk seluruh masyarakat dan pendaki selalu waspada dan hindari aktivitas yang memicu timbulnya percikan api di area hutan,” tulis Penkodim Cianjur.
Rangkaian penanganan tersebut memperlihatkan bahwa kebakaran hutan dan lahan tidak hanya membutuhkan kecepatan dalam memadamkan api, tetapi juga koordinasi antara aparat, pemerintah daerah, petugas pemadam, pengelola kawasan hutan, relawan, dan masyarakat.
Di tengah kondisi cuaca yang dapat meningkatkan risiko kebakaran, kewaspadaan menjadi langkah penting. Sebab, semakin cepat titik api diketahui dan ditangani, semakin besar peluang untuk mencegah kobaran meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar bagi masyarakat maupun lingkungan.










