Kabar5News – Kehadiran C-130J Super Hercules memberikan tambahan kemampuan bagi kekuatan angkut udara TNI Angkatan Udara (TNI AU). Namun, memiliki pesawat dengan teknologi dan kemampuan yang lebih modern juga berarti membutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengoperasikannya secara optimal.
Penerbang dan awak pesawat menjadi bagian penting dalam memastikan kemampuan tersebut dapat digunakan sesuai kebutuhan. Bukan hanya dalam hal menerbangkan pesawat, tetapi juga bagaimana merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi sebuah misi angkutan udara secara tepat.
Karena itu, TNI AU terus meningkatkan kemampuan personelnya melalui Advanced Airlift Tactical Training (AATT). Latihan tersebut berlangsung pada 31 Agustus hingga 25 September 2026 dan dibuka di Skadron Udara 31 Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (31/8).
Pembukaan AATT dilakukan oleh Komandan Grup 1 Angkut Marsma TNI I Gusti Puti Setia Darma yang mewakili Asisten Operasi (Asops) KSAU Marsda TNI Suliono.
Latihan ini menjadi salah satu bentuk pembinaan sumber daya manusia TNI AU, terutama untuk memastikan penerbang dan awak C-130J Super Hercules memiliki kemampuan yang sesuai dengan karakteristik serta tuntutan operasional pesawat tersebut.
Dalam konteks penerbangan militer, kemampuan angkut tidak hanya berkaitan dengan seberapa besar pesawat dapat membawa personel atau material. Pengoperasiannya juga membutuhkan perencanaan yang matang, koordinasi awak, serta kemampuan menjalankan misi sesuai prosedur.
Hal inilah yang menjadi salah satu fokus AATT. Peserta latihan diarahkan untuk meningkatkan kemampuan dalam melaksanakan mobilisasi udara taktis, sehingga pesawat dapat digunakan secara aman dan efektif dalam mendukung kebutuhan operasi.
Asops KSAU menilai penguasaan kemampuan operasional tersebut perlu terus dikembangkan seiring C-130J Super Hercules menjadi platform baru dalam kekuatan angkut udara TNI AU.
“AATT dilaksanakan sebagai salah satu upaya pembinaan sumber daya manusia TNI AU untuk membentuk penerbang dan awak pesawat C-130J30 yang profesional serta mampu merencanakan dan melaksanakan misi mobilisasi udara taktis secara aman dan efektif,” ungkap Asops KSAU, dikutip dari unggahan Instagram @grup_1_angkut_koopsau, Senin (31/8).
Menariknya, pelaksanaan latihan tidak hanya berfokus pada kegiatan penerbangan. Para peserta akan memperoleh berbagai materi untuk memperkuat kemampuan dalam menjalankan misi angkutan udara taktis.
Materi tersebut dibagi ke dalam dua tahapan, yakni bina kelas dan bina terbang. Pembagian ini membuat proses pembelajaran tidak hanya dilakukan melalui praktik di udara, tetapi juga melalui pembekalan pengetahuan yang menjadi dasar sebelum kemampuan tersebut diterapkan dalam penerbangan.
Tahapan bina kelas memberikan ruang bagi personel untuk memperkuat pemahaman mengenai materi yang diperlukan. Setelah itu, kemampuan tersebut dapat diterapkan melalui bina terbang untuk melihat bagaimana penerbang dan awak menjalankan tugas secara langsung.
Pola latihan seperti ini juga memperlihatkan bahwa pengoperasian pesawat modern membutuhkan kesiapan personel yang berjalan beriringan dengan perkembangan teknologi. Pesawat dapat memiliki kemampuan yang semakin maju, tetapi efektivitasnya tetap bergantung pada kemampuan manusia yang mengoperasikannya.
Bagi TNI AU, peningkatan kemampuan tersebut juga tidak berhenti setelah latihan selesai. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh peserta diharapkan dapat diteruskan kepada personel lainnya.
Dengan cara tersebut, AATT tidak hanya memberikan manfaat bagi peserta yang mengikuti latihan, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk memperluas pengetahuan dan kemampuan di lingkungan satuan.
Hasil latihan juga diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi terhadap prosedur operasi yang selama ini digunakan. Evaluasi tersebut penting agar prosedur dapat terus disesuaikan dengan perkembangan teknologi serta kemampuan C-130J Super Hercules.
“Ilmu yang diperoleh diharapkan dapat diteruskan kepada personel lainnya, sekaligus menjadi bahan untuk mengevaluasi dan menyempurnakan prosedur operasi agar selaras dengan perkembangan teknologi dan kemampuan C-130J Super Hercules,” pungkas Asops KSAU.
Pada akhirnya, AATT menunjukkan bahwa modernisasi kekuatan udara tidak hanya berbicara mengenai penambahan alutsista. Di balik hadirnya C-130J Super Hercules, terdapat kebutuhan untuk terus membangun kemampuan penerbang dan awak agar mampu mengikuti perkembangan teknologi dan tuntutan operasi.
Dengan peningkatan kompetensi tersebut, TNI AU berupaya memastikan C-130J Super Hercules tidak hanya hadir sebagai platform baru, tetapi juga didukung personel yang siap memanfaatkan kemampuannya untuk menjalankan berbagai misi mobilisasi udara taktis secara profesional, aman, dan efektif.










