Kabar5News – Satu pesawat angkut, tetapi banyak kemampuan yang harus dikuasai. Begitulah gambaran dari Cope West 2026, latihan bersama TNI Angkatan Udara (TNI AU) dan Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) yang akan berlangsung di Lanud Sam Ratulangi, Manado, pada 7-11 September 2026.
Tahun ini, latihan tidak hanya mempertemukan personel dari dua negara, tetapi juga menguji bagaimana aset angkut udara dapat digunakan dalam berbagai skenario operasi taktis. C-130 Hercules menjadi salah satu platform yang dikerahkan untuk mendukung latihan tersebut.
Pesawat angkut seperti C-130 memiliki peran yang cukup luas dalam operasi militer. Selain membawa personel dan perlengkapan, pesawat juga dapat mendukung penerjunan muatan maupun pasukan dari udara. Kemampuan inilah yang menjadi bagian dari materi Cope West tahun ini.
Melansir siaran pers Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS), Selasa (1/9), Cope West 2026 berfokus pada pelatihan operasi udara taktis untuk meningkatkan interoperabilitas dengan aset angkut udara taktis TNI AU serta mendukung upaya modernisasi TNI.
Salah satu latihan yang akan dilakukan adalah Low-Cost Low-Altitude (LCLA) untuk penerjunan muatan. Personel juga akan berlatih menggunakan High and Low Velocity Container Delivery System, yaitu sistem yang digunakan untuk menerjunkan kontainer dengan kecepatan tinggi maupun rendah.
Materi tersebut memberikan gambaran bahwa pesawat angkut tidak selalu harus mendarat untuk mengirimkan kebutuhan ke suatu wilayah. Dalam skenario tertentu, muatan dapat dikirimkan melalui udara dengan metode penerjunan yang telah disiapkan.
Kemampuan personel juga menjadi perhatian. Cope West 2026 akan melibatkan latihan penerjunan dengan teknik military free fall atau terjun bebas militer. Selain itu, penerbang dari kedua negara akan berlatih melakukan penerbangan formasi taktis.
Di balik latihan tersebut terdapat satu aspek yang sangat penting, yakni kemampuan bekerja bersama. TNI AU dan USAF perlu memiliki pemahaman yang selaras mengenai prosedur, komunikasi, serta pelaksanaan misi agar aset kedua negara dapat beroperasi secara lebih terkoordinasi.
Karena itu, latihan tidak hanya berlangsung di udara. Cope West 2026 juga menjadi ruang pertukaran pengetahuan antara personel TNI AU dan USAF mengenai berbagai aspek pendukung operasi penerbangan.
Salah satunya adalah kesehatan penerbangan dan evakuasi medis melalui udara. Personel juga akan membahas prosedur penanganan keadaan darurat yang dapat terjadi selama sebuah operasi berlangsung.
Koordinasi tersebut kemudian diperkuat melalui tabletop exercise. Melalui simulasi ini, personel dapat menguji pola koordinasi dan pengambilan keputusan berdasarkan skenario tertentu sebelum menghadapi situasi operasi yang sebenarnya.
Dengan cakupan materi tersebut, Cope West 2026 tidak hanya menjadi latihan untuk meningkatkan kemampuan menerbangkan C-130. Latihan ini juga mempertemukan berbagai unsur yang dibutuhkan dalam operasi udara, mulai dari penerjunan muatan dan personel, penerbangan formasi, hingga dukungan medis dan penanganan keadaan darurat.
Latihan ini sekaligus menjadi bagian dari kerja sama pertahanan yang telah berlangsung cukup lama antara Indonesia dan Amerika Serikat. Cope West 2026 merupakan penyelenggaraan ke-13 di Indonesia, setelah pertama kali digelar pada 1989.
Bagi TNI AU, kesempatan berlatih bersama USAF dapat menjadi ruang untuk menguji kemampuan personel sekaligus meningkatkan interoperabilitas. Sementara bagi kedua negara, latihan ini memperkuat kemampuan untuk memahami prosedur dan bekerja bersama dalam operasi udara.
Pada akhirnya, Cope West 2026 menunjukkan bahwa kemampuan sebuah pesawat angkut tidak hanya ditentukan oleh spesifikasi teknisnya. Kesiapan awak, kemampuan penerjunan, koordinasi antarpesawat, hingga respons ketika terjadi keadaan darurat juga menjadi bagian dari kekuatan sebuah operasi udara.
Melalui C-130 Hercules, TNI AU dan USAF akan menguji berbagai kemampuan tersebut dalam satu rangkaian latihan. Dari langit Manado, Cope West 2026 menjadi kesempatan bagi kedua angkatan udara untuk mengasah kesiapan sekaligus membangun pola kerja yang semakin terintegrasi.










