Kabar5News – Di tengah hiruk-pikuk kawasan Kranji, Kota Bekasi, terdapat sebuah bangunan yang menyimpan perjalanan sejarah panjang. Masjid Jami An-Nur di Jalan Sultan Agung telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat selama lebih dari satu abad.
Melansir akun Instagram @infobekasi, masjid tersebut diketahui telah berdiri sejak 1916. Keberadaannya telah melewati berbagai perubahan zaman, termasuk perkembangan Kranji yang kini menjadi salah satu kawasan padat di Bekasi.
Berawal dari Tanah Wakaf
Menurut keterangan Ketua DKM Masjid Jami An-Nur, Kamal Fasya, informasi mengenai awal berdirinya masjid diperoleh dari cerita yang diwariskan secara turun-temurun.
Pembangunan masjid bermula dari tanah yang diwakafkan seorang tokoh asal Klender bernama Haji Jadang. Ia disebut memiliki hubungan dengan masyarakat setempat setelah menikahi seorang perempuan asal Kranji.
Tanah tersebut kemudian diwakafkan untuk dijadikan tempat ibadah. Dari sinilah Masjid Jami An-Nur mulai menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekitar.
Bertahan di Tengah Perubahan Kranji
Lebih dari satu abad bukanlah waktu yang singkat. Selama periode tersebut, lingkungan di sekitar masjid mengalami perubahan besar.
Kranji yang dahulu belum seramai sekarang berkembang menjadi kawasan perkotaan dengan permukiman, pusat aktivitas masyarakat, hingga jalur transportasi yang semakin sibuk.
Di tengah perubahan itu, Masjid Jami An-Nur tetap mempertahankan perannya sebagai tempat ibadah sekaligus ruang berkumpul bagi masyarakat.
Dekat dengan Stasiun Kranji
Salah satu hal menarik dari masjid ini adalah lokasinya yang strategis. Masjid Jami An-Nur hanya berjarak sekitar 200 meter dari Stasiun Kranji.
Kedekatan tersebut membuat masjid relatif mudah dijangkau, termasuk oleh masyarakat yang menggunakan kereta. Lokasinya juga membuat bangunan masjid berdiri berdampingan dengan aktivitas transportasi yang semakin ramai.
Sudah Empat Kali Direnovasi
Usia bangunan yang panjang membuat Masjid Jami An-Nur beberapa kali mengalami renovasi. Berdasarkan keterangan akun @infobekasi, masjid tersebut telah empat kali direnovasi, dengan renovasi terakhir dilakukan pada 1984.
Meski telah mengalami perubahan, masjid tetap menjalankan fungsi utamanya sebagai tempat ibadah masyarakat.
Bangunannya memiliki luas sekitar 1.400 meter persegi dan dapat menampung sekitar 2.000 jemaah untuk salat.
Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah
Keberadaan Masjid Jami An-Nur selama lebih dari 100 tahun menjadikannya bagian dari perjalanan sejarah Kranji.
Masjid ini tidak hanya menyimpan cerita mengenai pembangunan sebuah tempat ibadah, tetapi juga menggambarkan bagaimana tradisi wakaf dan kehidupan masyarakat dapat meninggalkan jejak yang bertahan lintas generasi.
Kini, di tengah kawasan Kranji yang semakin berkembang, Masjid Jami An-Nur tetap berdiri. Bangunannya menjadi pengingat bahwa sejarah sebuah kota tidak selalu tersimpan dalam gedung-gedung besar, tetapi juga dalam tempat sederhana yang terus digunakan masyarakat dari generasi ke generasi.











